Site icon Berita Kota Makassar

Hanya Bisa Mengeyam Pendidikan Hingga Kelas 4 SD

PERJUANGAN yang dilakukan Risnawati, gadis kecil yang berparas cantik ini terbilang luar biasa. Demi mendapatkan sesuap nasi dan menghidupi ibu dan kedua adiknya, ia rela melepas pendidikannya mencari uang sebagai penjual koran.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Pendidikan yang didapatkannya pun hanya mampu ia rasakan di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD), dan seandainya ia meneruskan pendidikannya hingga saat ini Risnawaty sudah duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menegah Pertama (SMP).
Sejak ditinggalkan sang ayah yang terlebih dahulu dipanggil oleh sang pencipta, Risnawati menjadi penopang hidup keluarganya. Bukan hal ringan, sebab hasil dari menjual koran diberikan ke ibunya untuk biaya hidup sehari-hari.
Penghasilan yang dia dapatkan dari jualan koran dalam sehari juga tidak menentu, terkadang Rp30.000, sampai Rp50.000. Kemudian hasil jualannya dia setor ke penyalur koran yang memperkerjakannya, setelah itu, dia diberikan upah Rp10.000 hingga Rp15.000 kalau koran banyak terjual.
“Saya syukuri mendapatkan upah Rp10 ribu sampai Rp15 ribu sehari. Bahkan saya juga diberi gaji Rp300 ribu setiap bulan. Uang itu saya serahkan ke ibu saya untuk biaya sehari-hari,” ujarnya.
Di depan penulis, Risnawati mengaku memiliki trik memikat hati pengendara yang lewat agar membeli koran. Terkadang walaupun koran yang dijualnya tidak dibeli pelanggan, tetapi ia tetap diberi uang ala kadarnya.
“saya punya 12 pelanggan yang setiap hari membeli koran melalui saya. Mereka rata-rata menggunakan mobil dan sering lewat di Jalan Hertasning. Saya juga sudah hafal mi nomor plat mobilnya, kalau mereka tidak mau membeli koran, biasanya dia tetap kasih uang. Kadang saya sedikit menggombal, syukur uang tip itu sebagai tambahan,” bebernya.
Ditanya soal harapannya jika dewasa nanti, Risnawati yang bekerja mulai pukul 06.00 Wita hingga malam mengaku, ingin bekerja kantoran seperti bekerja di perusahaan yang berada di Gedung Graha Pena atau menjadi wartawan.
“Mau ka juga kerja kayak kita di sana kak, bikin-bikin berita, kan saya sudah jual korannya dan nanti beritanya saya lagi yang bikin,” candanya kepada penulis.
Kembali penulis menanyakan tentang keinginannya sekolah, Risnawati hanya termenung. “Sangat ingin kak bisa sekolah seperti teman-teman lainnya. Tapi, tak ada biaya untuk itu. Jangankan sekolah, kadang untuk makan payah. Adik-adik saja sudah makan saya bersyukur. Ia-pun tak ingin menambah beban ibu. Risna ingin adik-adik bisa sekolah tinggi, agar bisa merubah hidup keluarga dan menyenangkan ibu,”sahutnya lirih.
Kesedihan menyeruak di dada penulis. Risna yang seharusnya duduk tenang di bangku sekolah untuk menerima ilmu ternyata harus menyambung hidup di tengah ramainya jalan raya. Cikal bakal penyambung pembangunan bangsa itu kini hanya muram dalam kerasnya hidup.
Gadis kecil itu kini telah beranjak dewasa umur 12 tahun, sesekali ia mengikat rambutnya sambil berjalan disepanjang Jalan AP Pettarani dan Jalan Hertasing. Panas terik dan hujan adalah teman setia-nya yang selalu menemaninya dari pagi hingga sore hari.
“Panas dan hujan bukan halangan untuk mencari rezeki. Apa yang saya lakukan hanya semata-mata membantu mama saya. Sebagai anak saya tidak ingin cepat mengeluh meski kulit saya harus hitam karena terik matahari,” kata Risnawati.
Ia-pun sudah lima tahun berjualan koran di jalan. Banyak suka duka yang telah dialami, termasuk harapannya untuk dapat menjual koran yang lebih banyak tanpa harus menunggu lama.
Sementara dukanya, jika berjualan di saat kondisi badan kurang stabil. Meski begitu dia tetap melawan sakitnya.
Begitupun, jika ada mobil dan motor yang nyaris menyerempetnya saat sedang menawarkan koran kepengendara yang sedang berhenti di lampu merah.(ita/war)

Exit mobile version