UNTUK kedua kalinya secara berturut-turut, Kota Makassar mendapat Piala Adipura. Ada banyak elemen yang berperan penting dalam pencapaian prestasi ini. Khususnya mereka yang bergelut di bidang kebersihan.
Laporan: Arif Alqadry
JIKA menyebut Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, yang ada di benak pastilah bau busuk, menyengat dan jorok. Tidak jarang banyak orang yang tidak ingin mencium baunya. Bahkan melintas di dekatnya sekalipun.
Namun berbeda dengan Sakka Saleh. Semua itu diabaikan. Sampah sudah menjadi sahabatnnya saat bekerja.
Sejak 2011 lalu, ia mendapat amanah untuk menjadi Kepala UPTD TPA Antang. Artinya, sudah lima tahun dirinya setia dengan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.
Sakka bertugas mengontrol dan mengawasi aktifitas yang ada di dalam TPA Antang. Seperti mengatur jadwal masuknya dump truk hingga pembongkaran sampah di zona yang telah ditetapkan.
Selain itu, ia juga mengontrol aktifitas para pemulung yang mengasi rezeki dari tengah-tengah tumpukan sampah. Mengusir ratusan sapi yang berkeliaran di dalam lokasi TPA Antang juga kerap dilakukan Sakka Saleh, agar aktifitas keluar masuk hingga pembongkaran sampah berjalan lancar.
Lima tahun bergelut dengan sampah bukanlah waktu yang singkat. Untuk mampu bertahan, Sakka Saleh punya kuncinya. Bekerja ikhlas dan sabar, mencintai pekerjaan dan memiliki mental yang kuat.
“Sudah lima tahun saya bekerja disini (TPA Antang), dan sudah tiga Adipura saya lalui selama bekerja. Saya sangat bangga dengan pekerjaaan saya, karena berperan membantu menjadikan Makassar bersih hingga mendapatkan Piala Adipura 2016,” ujarnya di sela-sela melaksanakan tugasnya, Kamis (21/7).
Sebagai Kepala UPTD TPA Tamangapa, sejak pukul 07.30 Wita, Sakka Saleh yang tinggal di Jalan Pannampu, Kecamatan Tallo sudah harus meninggalkan rumahnya. Ia bergegas ke TPA Tamangapa untuk bekerja seperti biasanya.
Tidak perlu mengenakan pakaian rapi, seperti halnya pegawai lainnya. Cukup dengan mengenakan baju kaus training, celana panjang dan sepatu boots semata kaki. Dia merasa sudah siap untuk bekerja hingga pukul 18.00 Wita. Bahkan hingga larut malam jika kondisi atau aktifitas yang ada di dalam TPA Tamangapa cukup padat.
Bisa dibilang, hampir seluruh waktu Saleh dihabiskan di TPA Tamangapa. Termasuk untuk makan dan minum. Dia mengaku sama sekali tidak pernah meras risih berada di tempat ini.
“Saya bersyukur karena masih diberikan kesehatan, padahal setiap hari bergelut dengan sampah. Tetapi makanan, dan khususnya air putih saya perbanyak supaya ketahanan tubuh bisa lebih baik,” katanya memberi sedikit tips.
Tiga kali sudah Kota Makassar meraih Piala Adipura. Namun Sakke Saleh mengaku sama sekali belum pernah ikut langsung merayakan penyerahan piala ini. Padahal TPA Tamangapa, dimana dia bersama petugas kebersihan lainnya cukup berperan dalam mengontrol kebersihan.
Untuk itu, dia berharap Pemkot Makassar dapat lebih memperhatikan para petugas kebersihan yang ada di TPA, khususnya dalam prosesi penyambutan Piala Adipura.
Selain itu, ia juga ingin pemkot dapat merealisasikan usulan yang diajukan dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan untuk menambah honor resiko tinggi, yang nilainya sebesar Rp500 ribu per orang yang dibagikan setiap bulan.
Dengan honor tersebut, petugas kebersihan bisa memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan, seperti membeli vitamin agar kekebalan tubuh dapat lebih terjamin. Apalagi setiap harinya mereka bersentuhan langsung dengan sampah yang berisiko menimbulkan penyakit. (*/rus)
