Site icon Berita Kota Makassar

Sempat Mentraktir Makan Mi

DI pagi hari, seperti biasanya Syahruddin bersiap hendak berangkat ke kantor. Kondisinya terlihat sehat walafiat, tak kurang suatu apapun.
Diapun ke kantor bersama anaknya, Noor Rezki Ramdhani. Di dalam mobil yang dikemudikan Iskandar, almarhum lebih banyak diam.
”Anaknya bapak, Rezki selalu bertanya-tanya kenapa tidak bapak tidak berangkat ke Riau (jemput Piala Adipura). Almarhum hanya diam,” tutur Iskandar di rumah duka, kemarin, yang bersama almarhum di detik-detik menjelang tutup usia.
Sesampai di kantor, menurut Iskandar, usai apel almarhum bersama staf berbincang-bincang tentang persiapan penyamputan Piala Adipura. Selanjutnya menuju kantor BPBD Kota Makassar.
”Di situ bapak makan mi bersama personel BPBD. Bapak mentraktir petugas BPBD. Saat itu bapak kelihatan sangat gembira, tertawa dan bercanda. Bahkan sempat menerima telepon dari sanak keluarga di kampung. Dia bilang sedang makan mi dan rasanya sangat enak,” tutur Iskandar mengenang.
Usai makan mi, Iskandar mengantar pimpiannya itu ke Jalan AP Petta Rani, tidak jauh dari Masjid HM Asyik. Syahruddin mengecek pesanan kue untuk petugas yang bekerja bakti di TPA.
“Usai dari memesan kue, bapak meminta untuk mengantar ke Bank Sampah di Toddopuli. Kurang lebih 15 menit mengunjungi bank sampah, bapak meminta agar segera menuju TPA. Di perjalananmi itu dekat pembelokan Jalan Borong, bapak meminta agar membeli kue untuk dibawa ke TPA. Masih adaki itu kue,” ujar Iskandar.
Saat hendak menuju TPA, tiba tiba Syahruddin mengeluh kesakitan. “Pelan-pelan dulu. Matikan AC, dingin bela. Sakit belakangku. Saat menoleh ke belakang, saya lihat mata bapak menahan sakit,” tuturnya.
Dalam kondisi seperti itu, Syahruddin tetap meminta untuk diantar ke TPA. Namun kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi. Ia pingsan. Iskandar langsung menuju Puskesmas Batua.
Sesampainya di puskesmas, Iskandar sudah dalam keadaan lemah dan langsung muntah. Diapun kemudian dilarikan ke RS Grestelina.
“Bapak meninggal sekitar pukul 13.00 Wita. Saya tidak pernah sangka. Itu saja yang aneh, saat ditanyai oleh anaknya alasan tidak ke Riau. Tapi bapak tidak menjawab,” terangnya.
Sebenarnya, menurut Iskandar, almarhum rencananya akan berangkat ke Riau menjemput Piala adipura. Sehari sebelum berpulang, almarhum sempat ditanya oleh wali kota.
“Kenapa tidak mau pergi, Pak Kadis? Bapak jawab, biarmi saya tinggal sama dengan teman-teman mempersiapkan penyambutan Piala Adipura, Pak Wali,” ungkap Iskandar.
Salah seorang sahabat karib almarhum, Umar Bandu mengaku terakhir berkomunikasi dengan Syahruddin sehari sebelum berpulanh.
“Saya berteman dari dulu waktu masih kontrak. Belum jadi pegawai. Syahruddin memang orangnya pekerja dan periang. Saya kaget ketika keesokannya mendengar kabar meninggal dunia. Karena waktu teleponan, kita janjian untuk bertemu. Tapi dia bilang nanti malam baru ketemunya. Ternyata besoknya sudah meninggal,” ujar Umar.
Lurah Karunrung, Hidayat menilai almarhum sebagai sosok periang dan pekerja keras.
“Almarhum tipikal pekerja. Tapi semua tugas-tugasnya dibawa enjoy. Almarhum selalu bekerja dengan tuntas. Tidak suka menunda-nunda,” aku Hidayat, yang tiga hari sebelum almarhum meningga, sempat saling berkomunikasi membahas kegiatan kebersihan. (ucu/rus)

Exit mobile version