LUWU, BKM — Bupati Luwu Andi Mudzakkar berbicara soal budidaya sagu di Hotel Aryaduta Makassar Sabtu( 23/7) pada simposium internasional Budidaya Sagu yang dihadiri para pakar sagu dari negara Jepang Prof Katsuya Osozawa dan Dirjen Dikti Kemendiknas RI Dr Muhammad Dimyati serta puluhan Penliti dari dalam dan luar negeri.
Hadir pula Bupati Lutim Thotig Husler, Kadis Pertanian Lutra Rusdy Rasyid mewakili Bupati Lutra, Perwakilan Wali Kota Palopo, Ketua DPRD Luwu Andi Muharir dan anggota DPRD Luwu, Kepala Bappeda Luwu Muhammad Rudi, Plt Kadis Kehutanan Luwu Andi Agus dan sejumlah instansi terkait dari Luwu, Palopo, Lutra dan Lutim. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi Wagub Sul Sel Agus Arifin Num’ang. Saat beribacara soal budidaya sagu Cakka menyebut Luwu lahan sagu seluas 1.400 hektar.
Dia menyebut soal sagu yang selama ini menjadi sumber makanan Kapurung sudah menjadi identitas dan budaya masyarakat Luwu ‘yakin saja tanam sagu tak akan punah di Luwu sebab hampir 54 persen bahkan 60 persen warga Luwu mengkonsumsi sagu sehingga itu saya menantang para peniliti baik dari jepang maupun dari dalam negeri untuk membuat rekayasa genetik tanam sagu yang berjangka pendek sehingga sagu menjadi primadona masyarakat dalam hal program budidaya sagu. Di Luwu sagu sudah menjadi simbol pemersatu, menjadi Identitas masyarakat, sumber makanan alternatif dan simbol kebersamaan dan paling penting sagu memiliki kandungan karbohidrat tidak kalah denggan sumber pangan lainnya seperti beras, jagung, ubi kayu, kentang dan terigu.
Selain itu beber Cakka harus berani membangun kerja sama kemitraan dengan sistim kontrak, pelibatan masyarakat dan dukungan pemerintah daerah tanpa itu sulit mencari lahan untuk budidaya sagu. Kedepan harus ada penerapan teknologi sektor pertanian untuk mendorong perekonomian masyarakat, tempat pelatihan pemagangan dan sebagai pusat diseminasi teknologi pertanian, tempat advokasi irausaha masyarakat dan melestarikan tanaman sagu.
“Saya melihat beberapa hambatan pengembangan sagu masih lemahnya SDM Inovasi Budidaya dan hasil pangan minim, daya tarik investasi yang rendah, kurangnya modal daerah dalam inovasi, rendahnya nilai ekonomi tanaman sagu jika dibandingkan dengan cengkeh dan tanaman Kopi serta masih mengandalkan beras sebagai bahan pangan utama,” papar Cakka.
Sementara Dirjen Dikti Kemendiknas RI Dr Muhammad Dimyati menyebut sangat susah menyatukan empat pemerintah daerah dalam hal budidaya sagu terus terang saya sangat hormat sebab menyatukan persepsi empat pemimpin daerah luwu raya sangat sulit namun saya yakin soal budidaya sagu bakal menjadi primadona di indonesia harapan saya teman teman peneliti dari jepang maupun unhas dapat membangun kerja sama dengan tana luwu melalui komunitas sagu dan menjadi bagian diplomasi sagu.
Peneliti Sagu Researcher/JICA Expert C-BEST Project Unhas asal negara Jepang Prof Katsuya Osozawa memaparkan di masing masing daerah di Luwu Raya akan di bangun Biositas di mana untuk kabupaten Luwu kita fokus untuk budidaya hutan sagu di Luwu seluas 18 hektar sehingga otomatis Luwu disetting menjadi pusat budidaya lahan sagu di Sulsel
Wagub Sulsel Agus AN saat membuka simposium mengatakan populasi sagu di Luwu Raya hampir punah seiring perkembangan zaman namun demikian saya sepakat dengan Bupati Luwu Andi Mudzakkar untuk membangun industri sagu.
“Saya sudah sepakat dengan Andi Cakka dan kita akan usulkan untuk dianggarkan membangun induastri sagu di Luwu,” tandas Wagub. (wan/C)
Cakka Tantang Profesor Jepang
