MAKASSAR, BKM–Pimpinan, pengurus maupun kader partai politik yang akan mengusung pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur di Pilgub Sulsel 2018 akan mengalami kesulitan untuk memenangkan paslon bupati dan wakil bupati disejumlah daerah yang akan menggelar Pilbup dan Pilwali yang digelar bersama pada 2018 nanti.
Kesulitan tersebut manakala dukungan parpol di Pilgub beda dengan dukungan parpol di Pilbup dan Pilwali.
Seperti yang terjadi saat Pilgub Sulsel 2013 lalu yang berlangsung bersamaan dengan Pilbup Bone. Di Pilgub 2013, PAN berkoalisi dengan Golkar serta parpol lain mengusung paslon Syahrul Yasin Limpo – Agus Arifin Nu’mang (Sayang 2), sementara di Bone, PAN mengusung paslon Andi Taufan Tiro-Andi Yuslim Patawari, adapun Golkar mengusung paslon Andi Fashar Padjalangi-Ambo Dalle.
“Saat Sayang 2 kampanye di Kabupaten Bone bersama Andi Fashar dan Ambo Dalle, kader PAN tidak begitu nampak di lokasi,”ujar Pemerhati politik dari Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir, Senin (25/7). Suwadi mengakui adanya potensi parpol kedepan tidak jalan selurus di Pilgub dan di Pilbup. “Untuk itu, di Pilgub parpol perlu hati-hati dalam mengarahkan dukungannya ke cagub dan cawagub, sebab bila keliru bersikap imbasnya kekalahan,”ujar Suwadi.
Menurutnya, karena pelaksanaan Pilgub, Pilbup dan Pilwali bersamaan, maka dukungan parpol idealnya sinkron, namun itu sulit terwujud sebab beda kepentingan dan beda medan pertarungan.
“Jika parpol tak pandai melihat figur dan membangun koalisi, maka siap-siap kalah. Untuk itu, sebaiknya parpol merujuk pada survei sebagai dasar utama dalam menentukan cagub dan cawagub,”ucap Direktur Eksekutif IPI ini.
Dosen Politik Unibos 45, Dr Arief Wicaksono menilai bila semuanya terletak pada komunikasi yang intens. “Sebenarnya pimpinan parpol, selama dia masih menjabat sebagai ketua yang sah, dan berlandaskan hukum yang berlaku, akan selalu berpotensi memenangkan calon kepala daerah yang diusung atau yang didukung partainya. Artinya, disini letak komunikasi politik antar aktor politik yang berkompetisi menjadi kunci dari kemenangan,”ujar Arief.
Menurutnya, pimpinan parpol harus menjalin komunikasi politik yang baik dengan calon, termasuk yang diusung di daerah. “Jika dukungan koalisi parpol di Pilgub beda dengan dukungan koalisi parpol di kabupaten kota, maka pengurus dan kader partai politik tetap harus tunduk pada keputusan partainya masing-masing,”jelasnya.(jun/rif)
Parpol Kesulitan bila Dukungan di Pilgub dan Pilbup Beda
