SEIRING perkembangan Makassar sebagai kota metropolitan, persoalan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) kian rumit. Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK) Dinas Sosial menjadi ujung tombak dalam meminimalisir permasalahan ini.
Laporan: Rahman
dari Jakarta
UNTUK meningkatkan kapasitas serta kemampuan para TKSK, Dinsos Kota Makassar membawa mereka untuk melakukan kunjungan kerja di dua kota besar, yakni Jakarta dan Bandung. Rombongan ini dipimpin Kepala Bidang Usaha Kesejahteraan Sosial Dinsos Kota Makassar, Muh Ihsan Idrus.
Star dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar Senin (25/7) pukul 06.10 Wita, mereka tiba di Kantor Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), Jakarta pukul 09.30 Wita.
Kunjungan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan dan wawasan TKSK dengan cara membandingkan beban pekerjaan. Juga untuk mengetahui sekaligus sharing TKSK pada Dinsos DKI Jakarta dan Kota Bandung. Peserta juga akan membandingkan hasil pekerjaan (format pendataan) TKSK di kedua kota tersebut.
Termasuk berkoordinasi mengenai tata cara pelaksanaan kegiatan TKSK sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia (Permensos RI) Nomor 24 Tahun 2013 tentang TKSK.
Yang tak kalah pentingnya, rombongan melakukan koordinasi tentang pengembangan kelembagaan TKSK dalam rangka peningkatan persoalan PMKS dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Pertemuan berlangsung di Gedung Kemensos RI lantai 5. Mereka diterima Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Jendral Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Basuki.
“Kita akan koordinasi tentang pengembangan kelembagaan TKSK untuk peningkatan PMKS dan PSKS,” kata Muh Ihsan Idrus sebelum pertemuan.
Usai di Kemensos RI, rombongan melanjutkan kunjungan ke kantor Dinsos DKI Jakarta. Di sana, mereka diterima Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial, Heri Suhartono di ruang rapat Dinsos DKI lantai III.
Diskusi tentang masalah sosial, terutama strategi penanganan PMKS berjalan santai namun detail. Para TKSK asal Kota Daeng banyak mempertanyakan soal cara penanganan PMKS, sementara pihak tuan rumah dengan lugas membeberkan persoalan fasilitas, serta cara kerja TKSK dan penanganan PMKS.
Saat ini, di DKI Jakarta terdapat 2.300 Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), 700 panti dengan 12 jenis atau sasaran, mulai dari panti yang menangani persoalan balita hingga lanjut usia dengan PMKS 48 ribu.
Khusus untuk menangani balita yang baru lahir dan kemudian dibuang oleh ibu kandungnya karena sesuatu sebab, petugas Dinsos langsung membawa ke panti balita. Mereka dirawat selama bulan sambil mencari orang tuanya melalui media sosial.
Jika orangtuanya tidak ditemukan, selanjutnya diserahkan kepada orang yang menginginkan bayi. Apalagi di ibu kota negara ini banyak pasangan suami istri yang belum memiliki anak, bersedia mengadopsi.
Heri Suhartono menjelaskan, berbagai macam cara telah mereka tempuh untuk menangani anak jalanan, pengemis serta telantar. Mereka rutin melakukan patroli. Ketika ada yang kedapatan maka langsung dibawa ke panti.
Yang menarik, Dinsos Jakarta memberikan pembinaan dan keterampilan kepada para PMKS. Mereka dilatih, bahkan diberikan modal usaha dalam bentuk barang yang diperoleh dari CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan.
Tidak sampai disitu. Dinsos DKI juga terus melakukan pendampingan, mengurus izin usaha makro hingga memfasilitas untuk mendapatkan pinjaman bank.
“Kita membina dengan cara meningkatkan keterampilan mereka. Misalnya keterampilan memperbaiki mobil, AC dan lain-lain. Ada juga yang kita kasih bantuan usaha melalui CSR,” terang Heri Suhartono.
Selain itu, pihaknya juga bekerja sama kepada semua stakeholder seperti rumah sakit, puskesmas, TKSK, kelurahan dan yang lainnya untuk mempermudah penanganan PMKS.
Sementara di Kota Makassar, belum ada fasilitas untuk PMKS. Hal itu menjadi salah satu kendala dalam menangani persoalan sosial. “Kita di Makassar kekurangan fasilitas seperti panti,” kata Ihsan Idrus
Namun beberapa konsep juga telah dirancang yang dianggap menjadi solusi tepat dalam menangani persoalan sosial, seperti Sosial Care Centre (SCC), rumah bakat dan rumah hati dan beberapa program lainnya. (*/rus)
