CINTA bisa mekar dan bersemi di mana saja. Salah satunya di tempat kerja.
Itulah yang dialami Hariyani, atau yang akrab disapa Yani. Ia bertemu dengan seorang lelaki saat bekerja di Quality Plaza Hotel Makassar, dan kini telah menjadi pendamping hidupnya.
Pembawaan yang ceria dan ramah, serta senyuman yang manis Yani akan didapatkan para tamu saat reservasi kamar di Quality Plaza Hotel Makassar. Sudah hampir delapan tahun perempuan kelahiran Ujungpandang, 26 Juni 1989 itu bekerja di tempat ini. Ia mulai bergabung pada pertengahan tahun 2008 lalu.
Bekerja dalam rentang waktu bertahun-tahun bukanlah hal mudah. Suka dan duka telah ia rasakan. Termasuk bagaimana rasanya ‘cinta lokasi’ alias cinlok.
”Sudah lama saya bergabung dan bekerja di Quality Plaza Hotel. Saya senang bisa diterima dan mendapatkan suasana kerja yang nyaman. Itu salah satu alasan kenapa saya bisa bertahan selama bertahun-tahun. Di tempat kerja ini juga saya dipertemukan dengan jodoh. Dulu teman kerja, sekarang jadi suami saya,” kata Yani sambil tersenyum.
Diapun bercerita dan kembali mengenang awal pertemuannya dengan Muhammad Arfah, suaminya. Perempuan yang hobi traveling ini, mengisahkan awal mula berpacaran dengan Arfah.
Ketika itu mereka berdua sering saling curi pandang di tempat kerja. Sebelum menikah, Yani menempati posisi sebagai resepsionis hotel. Ia menghabiskan waktu duduk di belakang meja resepsionos untuk melayani tamu yang datang. Baik untuk memesan kamar maupun yang mengambil kunci. Sedangkan Arfah sebagai desain grafis, yang waktu kerjanya cukup santai.
Sesekali, Arfah berjalan dan melintas dihadapan Yani sambil melempar senyum dan tatapan tajam. Hal ini membuat Yani penasaran dan memiliki harapan bisa mendapatkan hati Arfah. Meski begitu, Yani tetap saja menjaga sikap, seolah tidak tertarik pada Arfah.
Jam istirahat biasanya dimanfaatkan Yani untuk makan dan bersantai beberapa menit sebelum kembali bekerja. Di jam itulah, Yani mendapat kejutan dari Arfah, yang datang menghampiri dan meminta untuk menemaninya makan di lokasi hotel.
Saling tatap dan senyum terjadi di atas meja makan. Tidak menunggu lama, Arfah memberanikan diri untuk meminta nomor telepon Yani. Yani pun tidak ingin menunda lama dan segera memberikan nomor teleponnya.
Setelah beberapa bulan dekat dan sering pulang bareng, Yani dan Arfah kemudian berpacaran. Waktu pendekatan dan berpacaran berlangsung selama dua tahun. Setelah itu, mereka kemudian memilih untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius alias menikah.
“Tahun 2014 kami nikah. Saya dengan suami bisa dibilang cinlok. Ya begitulah, jodoh dan takdir hanya Tuhan yang tahu. Saya bersyukur karena mendapat suami yang baik dan bertanggungjawab serta sangat mencintai saya,” ujarnya.
Sebelum menikah, Yani memutuskan untuk istirahat dan resign dari pekerjaannya dengan mengajukan permohonan secara resmi. Itu dilakukannya Agustus 2014.
Hampir setahun dia tinggal di rumah. Suaminya juga memilih untuk pindah tempat kerja.
Rasa jenuh mulai dirasakan Yani ketika harus tinggal di rumah. Tak ingin berlama-lama menganggur, ia meminta izin kepada suaminya untuk kembali bekerja di tempatnya dulu.
Meski awalnya sempat tak direstui, namun Yani tetap berusaha meyakinkan suaminya. Yani beralasan ingin mencari kesibukan di luar agar terlepas dari kejenuhan berada di rumah.
“Setelah resaign dan tinggal di rumah selama setahun, 2015 saya kembali bekerja. Itupun setelah meminta izin suami. Suami sudah tidak bekerja di tempat saya bekerja. Dia pindah ke salah satu perusahaan yang berada di luar kota, namun kami tetap selalu bersama,” jelasnya.
Setelah mengajukan lamaran untuk kembali bekerja di Quality Plaza Hotel, Yani diterima. Dia bahkan mendapat posisi yang lebih baik dari sebelumnya, yaitu sebagai asisten FOM. Tugasnya mengontrol dan mengawasi aktifitas yang ada di hotel, dan tetap membantu melayani reservasi tamu.
Dari perbincangan dengan Yani, terungkap jika cita-citanya ketika masih kecil adalah ingin menjadi tentara. Ia ingin mengikuti jejak ayahnya yang seorang anggota TNI.
Namun, semua itu tinggal harapan. Setelah mendaftar untuk menjadi tentara, Yani gagal. Tinggi badannya tidak mencukupi.
Jadi jangan heran, ketika bertemu dengan Yani saat bertugas, anda akan mendapat postur yang tidak jauh beda dengan anggota Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat). Khususnya bodi yang ideal dan potongan rambut yang pendek.
”Saya senang lihat baju loreng. Apalagi sikap mereka yang tegas. Tapi setelah mencoba mendaftar, saya tidak lulus di tinggi badan. Karena itu saya memilih berkarir di tempat lain. Saya bersyukur karena tempat kerja sekarang cocok dengan saya,” tandasnya. (arf/rus)
Ketemu Jodoh di Hotel
