Site icon Berita Kota Makassar

Cita-citanya Tercapai

TAK ada satu orangpun yang tidak senang jika cita-citanya tercapai. Apalagi itu sudah diimpikan sejak lama.
Hal itulah yang dirasakan Silmy Kania Dewi. Ia yang sejak kecil berkeinginan menjadi seorang public relation (PR), akhirnya bisa merasakan pekerjaan itu.
Tentu ia punya alasan punya cita-cita menjadi PR. Semua bermula dari kesenangannya melihat seseorang yang bekerja sebagai PR. Terbiasa berkomunikasi dengan banyak orang.
Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), impian menjadi PR semakin kuat. Diapun berjuang keras untuk meraih cita-citanya itu.
Silmy membuktikannya dengan menempuh pendidikan hingga luar negeri. Sebab baginya, untuk menjadi seorang PR butuh bekal. Tidak asal jadi.
Bungsu dari dua bersaudara yang lahir di Jakarta, 23 Januari 1987 inipun berhasil membuktikan tekadnya itu. Ia mampu meraih dua gelar sarjana di luar negeri. Yang pertama pada tahun 2005-2009 di The London School of Public Relations jurusan Mass Communication (S1), dan 2008-2010 di The London School of Public Relation jurusan Corporate Communication (S2). Kini Silmy tengah menjalani karirnya sebagai PR Consultan di Prodigy.
“Dari SMA cita-cita saya memang pengen jadi PR. Waktu itu saya lihat orang yang kerja jadi PR sepertinya menyenangkan, karena sering ketemu orang. Tapi seorang PR itu juga harus pintar, karena harus bisa berkomunikasi dengan baik,” ujarnya di sela-sela kesibukannya, Rabu (27/7).
Menurut Silmy, menjadi seorang PR bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pengetahuan dan penyampaian komunikasi yang baik agar mudah dimegerti. Jika seseorang hanya sekali belajar menjadi PR, yakin dan percaya ilmu yang dimilikinya tidak akan berkembang.
“PR bisa menyampaikan pesan dengan baik, menurut saya juga nggak mudah. Perlu pengetahuan dan belajar terus menerus. Sebab untuk bisa menyampaikan sebuah pesan, kita harus mengerti apa pesan yang ingin disampaikan, siapa target kita, dll,” bebernya.
Karenanya, dia mengakui, menjadi seorang PR memiliki tantangan tersendiri. Meski begitu, ia tidak ingin berpisah dari profesi yang digelutinya saat ini. Bahkan akan terus berusaha untuk mengembangkan diri agar lebih baik lagi.
”Pekerjaan ini sangat menantang buat saya. Dulu di saat orang lain menjajaki profesi lain, saya mantap ingin menjadi seorang PR. Saya bersyukur sekali bisa bekerja menjadi PR seperti cita-cita saya,” kata putri dari Syafrin Idris dan Agustina ini.
Penyuka nonton film dan travelling berkisah, tidak mudah baginya untuk bisa meraih cita-citanya seperti saat ini. Awalnya ia bekerja di industri perbankan selama 3,5 tahun. Alasannya, ingin belajar banyak hal. Hingga akhirnya ia memilih menjadi PR, walau harus memulainya dari nol.
Silmy tentu punya suka dan duka selama merintis karir. ”Sukanya, senang belajar hal baru dan bertemu orang baru. Dukanya, karena basic saya PR, banyak yang menganggap saya kurang ngerti bidang lain. Padahal menurut saya, semua bisa kita pelajari,” kuncinya. (ita/rus)

Exit mobile version