Site icon Berita Kota Makassar

Tokoh Masyarakat Tagih Janji Nico-Victor

MAKALE, BKM — Poros jalan Kecamatan Simbuang-Mappak terus dikeluhkan masyarakat karena tidak ubahnya kubangan kerbau sehingga susah dilelui kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Kondisi jalan di dua kecamatan bagian Barat Tana Toraja berbatasan dengan Mamasa dan Polmas Sulawesi Barat rusak total. Padahal jika dalam kondisi normal dan jalannya sudah baik bisa ditempuh pulang-pergi ke Makale, namun dengan kondisi seperti sekarang PP sangat sulit dilakukan.
Padahal kedua kecamatan tersebut sentra komoditi andalan Tana Toraja seperti Kopi, Coklat, dan tamanan holtikultura pertanian lainnya.
Buruknya infrastruktur jalan ke dua wilayah kecamatan Mappak-Simbunang membuat hasil pertanian nilai jualnya rendah karena sulit dan besarnya biaya angkut dengan mobil dobel handel ke pasar.
Belum memadainya jalan ke Toraja Barat, membuat tokoh masyarakat Pasamboan Pangloli angkat bicara. Kepada BKM, Kamis (28/7) di Makale Pangloli mengatakan, pemerataan pembangunan antara wilayah wajib diwujudkan demi kesejahteraan dan perbaikan ekonomi masyarakat.
Pasalnya, melihat pembangunan di kota Makale dan kecamatan sekitarnya kami dari Simbuang-Mappak iri sebab meras ditingalkan pemerintahnya.
Menurut Pangloli, kondisi ini dibuktikan setelah 72 tahun Indonesia merdeka masyarakat Simbuang-Mappak belum menikmati namanya jalan baik dilalui dimusim hujan.
Untuk itu janji pasangan Nicodemus Biringkanae-Victor Datuan Batara (Sangmaneta) diminta mewujudkan janji politiknya membangun Toraja Barat dimulai peningkatan infrastrutur jalan agar segera maju sama dengan kecamatan lainnya.
Padahal tiga pasangan calon bupati bertarung 9 Desember 2015 lalu sudah berkali-kali ke Mappak-Simbuang mengubar janji politik jika terpilih kelak akan perhatiakan infra struktur jalan di dua kecamatan tersebut.
Dijelaskan Pangloli, sekitar tahun 1984 ketika pemerintahan Mappak dipimpin Buttu Masarrang (almarhum), jalan poros dari Sibanawa sampai Kondodewata mulai dikerjakan, kemudian dilanjutkan poros Nosu-Kondodewata.
Namun hingga kini akses infrastruktur jalan dari Sibanawa ke Kondodewata masih sangat memprihatinkan pengendara motor harus hati-hati karena begitu terpeleset langsung tercubur ke lumpur.
Diakui Pangloli, jeleknya sarana transportasi ke Mappak-Simbuang dimanfaatkan para pengojek pasang tarip ratusan juta perorang, meski demikian mahalnya sewa ojek memberatkan juga masyarakat karena kondisi ekonominya masih kocar kacir, bahkan di Simbuang –Mappak masyarakat penerima beras raskin tertinggi, terang Pangloli. (gus/C).

Exit mobile version