Site icon Berita Kota Makassar

Inflasi Sulsel Capai 1,04 Persen

MAKASSAR, BKM — Laju inflasi di Sulsel pada bulan Juli 2016 berada diposisi 1,04 persen. Angka inflasi ini disumbang dari kenaikan harga yang ditunjukkan naiknya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 2,83 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,35 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,17 persen, sandang 0,69 persen, pendidikan, rekreasi, olahraga 0,20 persen, dan kelompok transpor, komunikasi, jasa keuangan 1,12 persen. Sedangkan kelompok kesehatan tidak mengalami perubahan atau stabil.
”Tingginya kenaikan harga disebabkan ada pengeluaran sangat besar di sektor pangan karena bulan Ramadan. Ramadan ini memang berpengaruh ke makanan karena banyaknya pemakaian,” ujar Nursam Salam, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel di kantornya, Senin (1/8).
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Juli 2016, antara lain beras, angkutan udara, ikan layang, ikan cakalang, emas perhiasan, wortel, teri basah, tomat sayur, kentang dan kelapa. Sedangakan komoditas yang mengalami penurunan harga adalah bawang merah, lemari pakaian, daging ayam ras, bawang putih, tempe, daun kacang panjang muda, kacang panjang, daun bawang, kol putih/kubis, dan telur ayam ras.
Nursam Salam mengakui, inflasi yang terjadi dibulan Juli tahun 2016 memang terbilang rendah dari beberapa tahun sebelumnya diperiode yang sama. Misalnya ditahun 2013, angka inflasi mencapai 3,05 persen, tahun 2014 sebesar 1,17 persen, dan tahun 2015 sebesar 1,19 persen. Inflasi terendah Sulsel terjadi ditahun 2012 yang hanya berkisar 0,68 persen.
Pada kesempatan tersebut, Nursam Salam juga menyinggung tentang perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Sulsel. Pada Juli 2016, NTP Sulsel naik sebesar 104,60 persen dibanding bulan Mei 2016 yang mencapai 104,19 persen. ”Secara umum NTP di Sulsel mengalami kenaikan sebesar 0,40 persen. Perkembangan nilai tukar petani ini mengalami kenaikan dari bulan ke bulan disebabkan indeks hasil produksi pertanian yang mengalami kenaikan lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumahtangga maupun untuk keperluan produksi pertanian,” kata Nursam.
Kenaikan yang terjadi pada NTP disebabkan kenaikan tanaman pangan jenis padi sebesar 0.28 persen. Dimana, padi tersebut adalah bahan pokok bagi kehidupan sehari-hari. Lain halnya dengan peternakan yang mengalami penurunan minus 0,09 persen pada bulan Juli dibanding bulan Juni sebesar 0,18 persen.
Hal ini dikarenakan indeks yang diterima petani dari ternak besar dan ternak kecil mengalami kenaikan sebesar 0,38 persen dan 0,16 persen. Juga indeks yang dibayar pada konsumsi rumah tangga sebesar 0,32 persen. ”Nilai Tukar Petani Sulsel pada tahun 2016 mengalami kenaikan dari bulan ke bulan. Menyusul tingginya harga produsen gabah dan beras, khususnya beras premium pada bulan Juni mencapai Rp9.354 dan dibulan Juli mencapai Rp9.374 atau mengalami kenaikan 0,21 persen dibandinkan beras medium minus 0,45 persen dan beras rendah minus 0,28 persen mengalami penurunan,” kunci Nursam. (PPL4-PPL3/mir)

Exit mobile version