Semua berawal dari hobi dan kegemaran. Sejak kecil, lelaki ini memang doyan berpetualang di alam bebas. Mungkin karena dirinya terlahir di desa. Baginya, alam nan luas mengajarkan mahluk hidup untuk survive. Selain itu, alam mengajarkannya untuk lebih bersyukur kepada Sang Pencipta. Karena itu, sebagai bagian yang ikut menikmati kebesaran dan kekuasaan Tuhan, dia merasa punya kewajiban menjaga keseimbangan alam dengan berkontribusi menyelamatkan satwa-satwa, bahkan yang nyaris punah.
Makanya, ketika ayahnya meninggal dan mewariskan sebidang tanah dengan lima ekor rusa timor, terbersit ide untuk membuat penangkaran hewan, khususnya anoa yang lambat laun menjadi sebuah kebun binatang menyusul koleksi hewan yang dimiliki semakin bertambah.
Kepada BKM, Kamis (4/8) dengan nada merendah, dia mengatakan kerja-kerja memelihara hewan sudah biasa dilakoni sejak kecil.
“Saya itu bekas penggembala sapi dan kambing,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan impiannya memiliki sebuah kebun binatang dengan koleksi satwa beragam tidaklah mudah. Butuh proses yang panjang. Mulai menyiapkan modal yang tidak sedikit, mengurus perijinan yang dibutuhkan, hingga mendapatkan koleksi hewan, khususnya terhadap satwa langka khas Sulawesi, Anoa.
“Saya itu sangat prihatin terhadap kondisi satwa khas Sulawesi seperti anoa dan babi rusa yang hampir punah,” jelasnya.
Dia menceritakan, aktifitas penangkaran Anoa dan satwa lainnya dimulai sejak tahun 2009, setelah keluar ijin prinsip dari Kementerian Kehutanan.
Diapun mulai mencari bibit anoa dari masyarakat.
“Saat ini, ada lima ekor Anoa yang berada di penangkaran,” ungkapnya.
Selain itu, koleksi satwa, khususnya binatang langka yang dilindungi lainnya berangsur-berangsur bertambah. Termasuk burung khas Amerika Latin jenia Macau tiga jenis, merak India dan ayam hias dari Tibet, China. (rhm/)