DI Sulawesi Selatan, sangat jarang, bahkan bisa dihitung jari lokasi yang dibuka untuk umum, menawarkan wahana yang memperkenalkan aneka, satwa sekaligus bisa menjadi lokasi penelitian bagi para siswa maupun mahasiswa.
Laporan: Rahmawati Amri
HAMZAH AHMAD bermimpi untuk mewujudkan itu walaupun harus menghadapi berbagai tantangan. Diapun rela berkorban waktu, tenaga, hingga merogoh kocek cukup dalam untuk mewujudkan mimpinya tersebut.
Kepada BKM, dia bercerita betapa sulitnya mencari satwa langka yang akan ditangkarkan. Butuh waktu khusus dan kesabaran. Dia tak segan-segan keluar masuk daerah terpencil, bahkan terisolasi sekalipun. Belum lagi, merawat dan memelihara hewan-hewan spesifik itu butuh keahlian khusus.
“Saya butuh dua orang khusus untuk merawat dan memelihara hewan-hewan yang ada di penangkaran,” ungkapnya.
Selain itu, dia juga melibatkan dokter hewan dari perguruan tinggi dan dokter hewan praktik yang terus memonitor kondisi kesehatan satwa miliknya.
Untuk dana-dana operasional di kebun binatang miliknya, dalam sebulan dia harus mengeluarkan biaya hingga Rp25 juta. Itu sudah termasuk untuk gaji karyawan, pakan ternak, biaya makan minum, listrik dan lain-lain.
“Kalau untuk dana operasional, bersumber dari saya dan keluarga,” ungkapnya.
Saat ini, kata Hamzah, kebun binatang yang dirintisnya belum dibuka untuk umum. Sekarang lebih konsentrasi pada pengembangbiakan satwa. Namun dia berharap apa yang dirintisnya itu sudah bisa dilihat masyarakat umum.
“Insya Allah ke depannya akan dibuka untuk wisata edukasi. Baik bagi siswa, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum,” terangnya.
Aktifitasnya mengelola kebun binatang dan penangkaran sejumlah satwa yang terletak di Desa Sokkolia, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, dilakukan di sela-sela kesibukannya sebagai dosen tetap Yayasan Badan Wakaf (YBW) UMI.
Ya, lelaki bersahaja ini tercatat sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, UMI. Hamzah juga tercatat sebagai salah satu konsultan keuangan.
“Jadi pagi sampai siang mengajar di kampus. Pulang kantor urus kebun binatang,” jelasnya.
Untuk membantu kebun binatangnya, Hamzah dibantu sang kakak. “Saya cuma kontrol saja, karena ada kakak yang tinggal di sana yang urus semuanya,” kata Hamzah.
Kendati belum dibuka untuk umum, sejak berdiri, kebun binatang di bawah naungan Citra Celebes ini sudah banyak dikunjungi peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dia berharap dan merencanakan kebun binatang itu sudah bisa dibuka untuk umum pada 2017 mendatang. “Minimal untuk menutupi biaya operasionalnya selama ini,” pungkasnya. (*/rus)
