Site icon Berita Kota Makassar

Memastikan Penikam Polisi Lewat CCTV

MAKASSAR, BKM — Siapa yang menikam Bripda Michael Abraham Rieuwpassa (21) saat terjadi bentrok di markas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) Kota Makassar, belum diketahui. Rekaman CCTV (Closed Circuit Television) menjadi kunci untuk memastikan siapa pelakunya.
Peristiwa yang terjadi, Minggu (6/8) dinihari itu berhasil terekam kamera CCTV yang terkoneksi di war room Balai Kota. Rekaman tersebut dimungkinkan menjadi salah satu bukti yang nantinya akan digunakan polisi untuk melakukan penyelidikan dalam kasus ini.
Bripda Michael Abraham Rieuwpassa yang merupakan anggota Sabhara Polrestabes Makassar mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Jaury Jusuf Putra setelah mengalami pendarahan hebat. Nyawanya tak tertolong akibat terkena tikaman benda tajam yang tembus ke paru-paru. Jenazahnya kemudian dibawa ke rumah duka di kompleks Perumahan Villa Mutiara, Kecamatan Biringkanaya.
Selain itu, satu anggota polisi lainnya bernama Bripda Nelson (22), anggota Sabhara Polrestabes Makassar mengalami luka robek pada telapak tangan kanan dan telapak tangan kiri akibat terkena sangkur. Aiptu Wawan Subianto (42), juga anggota Sabhara Polrestabes Makassar luka robek pada alis bagian kanan akibat terkena lemparan batu.
Dari pihak Satpol PP, yang dalam insiden ini masing-masing Nur Ilham (20), warga Jalan Bitoa Lama, Arman (22), warga Jalan Gunung Lokon yang mengalami luka pada ibu jari, Jusman (24), warga BTP terluka pada kening kiri serta kepala bagian belakang atas kiri.
Sementara Yatno (20), warga Asmil Kostrad Kariango mengalami luka pada jari telunjuk tengah dan jari manis, Syarifuddin S (20), warga Soreang Jopang Dua luka pada tangan kanan tengah, Isnu (25), warga Asrama TNI Barabaraya mengalami sesak nafas, Syahrul (27), warga BTP Blok AD Nomor 184 mengalami luka lecet pada kedua tangan, Supardi (19), warga Monco Balang mengalami luka pada pelipis kanan, Trisno Muchtar (25), warga Asrama TNI Barabaraya mengalami sesak nafas, dan Amirullah (23), warga Tuna Buraya mengalami luka memar pada kelopak kanan atas.
Hingga kemarin, polisi masih melakukan pengejaran terhadap pelaku penikaman. Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan, Minggu (7/8) sore datang ke Balai Kota. Ia ingin memastikan seperti apa kondisi terakhir di tempat ini pascabentrokan.
Wali Kota Makassar, Danny Pomanto berjanji akan menyerahkan rekaman CCTV yang ada di Balai Kota untuk membantu proses penyelidikan yang dilakukan aparat kepolisian. Selain itu, pihaknya juga mengumpulkan bukti-bukti terkait pengrusakan fasilitas negara di Balai Kota, untuk selanjutnya dilaporkan ke aparat penegak hukum.
Wakapolrestabes Makassar, AKBP Hotman Sirait mengatakan, untuk mengetahui yang terjadi di Balai Kota, pihaknya telah meminta rekaman CCTV. Dia berharap, rekaman ini bisa membantu mengungkap penyebab kejadian.
Akibat penyerangan di Balai Kota yang terletak di depan Mapolrestabes Makassar, sebanyak 86 kendaraan roda dua dan sedikitnya 10 mobil mengalami kerusakan. Termasuk kaca sejumlah ruangan kantor juga menjadi sasaran pengrusakan.
Bentrokan baru berakhir pukul 03.17 Wita. Sebanyak 10 orang personel Satpol PP yang sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit, dibawa ke kantor Denpom dengan menggunakan mobil Landrover milik Denpom.
Dari hasil penyisiran di lokasi bentrokan yang dilakukan tim Inafis dan Resmob Ditreskrim Polda Sulsel, ditemukan sejumlah barang bukti. Diantaranya dua pucuk senjata airsoft gun, 26 buah gas air gun, sembilan bilah sangkur, satu mata tombak, satu badik, satu buah anak panah dan 58 botol minuman keras (miras).
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan meminta agar persoalan ini diselesaikan secara hukum. ”Kejadian ini agar diselesaikan lewat jalur hukum. Jangan ada aksi balas dendam. Saya minta kepada anggota polri untuk tetap tenang. Kita berduka, karena peristiwa ini mengakibatkan salah seorang anggota meninggal,” kata Anton sesaat setelah berkunjung ke RS Jaury melihat langsung jenazah anak buahnya.
Setelah dari RS Jaury, Anton juga menemui sejumlah korban bentrokan yang dirawat di RS Bhayangkara. Ia juga berpesan agar semua pihak dapat menahan diri dan tidak mudah terpancing.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menilai peristiwa bentrokan antara polisi dan Satpol PP merupakan kejadian yang tidak dipersiapkan atau direncanakan. Itu terjadi secara spontan. Karenanya, dia meminta semua pihak untuk tidak mendramatisir kasus ini secara berlebihan.
“Kasus ini sudah ditangani Kapolda, dan kami dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) sudah meminta Kapolda menangani kejadian ini semaksimal mungkin, dengan prosedur, aturan, dan ketentuan yang berlaku,” kata Syahrul, Minggu (7/8).
Orang nomor satu di Sulsel itu mengatakan, sejak terjadinya insiden tersebut, pihaknya sudah menginstruksikan ke Wali Kota dan Kapolrestabes Makassar untuk terus bersama-sama melakukan koordinasi dan pengendalian terhadap anak buah masing-masing. Dia percaya kasus ini sudah ditangani secara maksimal oleh Kapolda.
Bahwa ada penyerangan dan lain-lain, menurut Syahrul, itu hanyalah bias-bias dalam skala yang kecil. “Saat ini sudah dalam pengendalian yang intensif,” ungkapnya.
Syahrul berharap semua pihak bisa tenang agar peristiwa ini bisa diproses secara hukum. Ditegaskan, siapapun yang salah, dalam bentuk apa saja, ada aturan hukum yang menanti. Tidak boleh ada institusi yang terlibat terlalu jauh dalam menangani persoalan ini. (ish-jul-arf/rus)

Exit mobile version