MAROS, BKM — Pemerintah kabupaten Maros melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kembali menggelar Festival Bantimurung di Taman Wisata Alam Bantimurung, Minggu (7/8).
Festival yang digelar kali keempat ini ditempatkan di samping air terjun, dengan latar belakang gugusan kars. Diperkirakan dengan hadirnya kegiatan festival ini, pengunjung bantimurung meningkat sampai 15 ribu pengujung.
Berbagai kegiatan ditampilkan dalam acara yang digelar untuk ikut memeriahkan peringatan hari lahir ke-57 Kabupaten Maros. Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini pementasan seni tidak lagi melibatkan seni budaya dari 14 kecamatan yang diperlombakan. Namun tahun ini pentas seni melibatkan sanggar seni se Kabupaten Maros yang di motori oleh Badan Kesenian Indonesia Kabupaten Maros. Selain itu, pengunjung juga disajikan street food dan pameran foto kekayaan alam Maros.
Kepala Disbudpar Maros, Rahmat Burhanuddin menuturkan, Festival Bantimurung digelar sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya di Maros. Festival ini juga sebagai ajang penggalian potensi budaya Maros. Tahun ini, festifal budaya dimeriahkan dengan penampilan tarian peppe baine, yang merupakan tarian khas Sulsel, yang umum dilakukan oleh laki-laki. Tapi tahun ini yang tampil adalah perempuan.
“Sebenarnya kita kaya akan budaya, hanya terkadang kurangnya tempat untuk menyalurkan bakat tersebut sehingga kekayaan budaya tidak muncul. Melalui festifal bantimurung ini, kita jadikan ajang untuk seniman-seniman lokal untuk unjuk gigi,” paparnya.
Ratusan pengunjung pun menikmati pagelaran musik dan budaya sambil bermain air di sungai. Pagelaran tahunan ini merupakan yang keempat kalinya dilaksanakan.
Salah satu tarian yang mengundang perhatian penonton adalah penampilan empat penari wanita yang menampilkan Tarian Peppe Baine. Keempat penari ini menggunakan obor yang menyala sebagai wadah tarian. Mereka menunjukkan kemampuan bermain api sambil menari.
Bupati Maros, HM Hatta Rahman bersama Kapolres Maros AKBP Erik Ferdinand, Dandim Maros Letkol Inf Sunarto dan anggota DPRD Sulsel Andi Irfan AB turut ambil bagian dalam tarian ini. Tubuh mereka didekatkan dengan obor sebagai bentuk ritual dalam tarian tersebut.
“Rasanya panas, agak deg-degan tapi yakin saja kalau tidak akan terbakar. Tapi ini tentu tidak boleh dicontoh di rumah karena perlu latihan khusus untuk tarian ini,” ujar Hatta usai tampil bersama penari.
Demikian halnya dilontarkan Kapolres Maros, AKBP Erik Ferdinand mengaku, rasanya lumayan panas, karena api obor membakar bajunya.
Untuk pelaksanaan festival budaya dan Festival Bantimurung ini, Disparbud Maros menggelontorkan anggaran sebesar Rp175 juta. (ari-ril).