Site icon Berita Kota Makassar

3.600 Koperasi Tidak Aktif

TAKALAR, BKM — Dewan Koperasi Pimpinan Wilayah (Dekopinwil) Sulsel mencatat di provinsi ini terdapat sekitar 8.600 koperasi.
Dari data itu sekitar 5.000 koperasi yang masih aktif dan ada sekitar 3600 koperasi yang tidak aktif alias mati suri.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Dewan Koperasi Pimpanan Wilayah, (Dekonpinwil) Rahman Halid saat menghadiri peringatan Hari Koperasi ke -69 di Lapangan Makatang Dg Sibali, Takalar, Senin (8/8).
Ke depan, kata Rahman, Dekonpinwil bersama-sama pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UMKM akan terus menggenjot dan memberi bimbingan agar koperasi yang masih aktif bisa terus berkembang. Sementara koperasi yang tidak memiliki aktifitas lagi akan segera dibekukan.
Di lokasi yang sama, Menteri Koperasi dan UMKM RI, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga meminta daerah untuk tegas dalam menindak koperasi tidak aktif.
Menurutnya, jika memang suatu koperasi tidak bisa dipertahankan, sebaiknya dimatikan saja.
“Kalau memang sudah tidak aktif, jangan dibina lagi. Daerah harus tegas,” ungkap Puspayoga usai menghadiri peringatan Hari Koperasi tersebut.
Dia melanjutkan, pihaknya sementara melakukan perbaiki database. Koperasi tidak aktif ini jangan lagi dimasukkan di dalam database, karena bisa menganggu program yang dicanangkan gubernur, bupati, dan wali kota terkait koperasi aktif. Di pusat sendiri, sudah ada 62.000 koperasi yang dikeluarkan dari database kementerian.
Menurutnya, koperasi yang dikeluarkan dari database akan segera disurati apakah masih bisa dipertahankan atau tidak.
“Kalau memang masih bagus dan bisa dipertahankan kenapa tidak dilanjutkan, semua tergantung dari laporan kepala dinas koperasi,” ungkapnya
Pihaknya memberi jangka waktu dua hingga tiga bulan untuk segera merampungkan data koperasi tidak aktif.
Sementara itu, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menilai, koperasi adalah pilihan dari sistem perekonomian Indonesia. Karena itu, pada peringatan Hari Koperasi, bukan lagi saatnya membicarakan jargon atau retorika, tapi apa langkah konkrit pemerintah di Sulsel untuk membangun sebuah aktifitas koperasi yang bisa menyaingi bentuk-bentuk koperasi neolib.
“Neolib itu, yakni hanya sekelompok orang yang menikmati jika ekonomi itu berhasil,” jelasnya.
Syahrul berharap, dengan adanya koperasi, perputaran ekonomi yang ada di desa, kecamatan, dan kabupaten bisa dinikmati masyarakat. Karena itu, akan dibentuk koperasi induk dan koperasi inti.
Koperasi inti akan menyalurkan sembilan bahan pokok utama sekaligus mengendalikan inflasi dan menjadi sumber untuk bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang standar.
Terkait koperasi yang tidak aktif alias mati suri, Syahrul menegaskan lebih baik ditutup saja. Pihak terkait sebaiknya lebih fokus membina koperasi yang mau hidup saja.
“Koperasi yang mati suri, yang setengah-setengah, yang terkesan hidup atau mati sebaiknya ditinggalkan. Kita bina yang mau hidup aja,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, juga diberikan penghargaan kepada tokoh yang dianggap berjasa membesarkan koperasi. Selain itu, juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara BUMN dan Koperasi. (rhm/war)

Exit mobile version