TAKALAR, BKM — Warga Kabupaten Takalar yang bermukim di sepanjang pesisir pantai mempertanyakan hasil dari kegiatan penanaman ratusan pohon mangrove oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Takalar yang dinilai belum menunjukkan hasil yang positif.
Diketahui bahwa kegiatan penanaman mangrove di daerah pesisir Takalar setiap tahunnya digelar Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Takalar. Terakhir, kegiatan ini dilakukan pada tahun 2015 lalu. Hanya saja, sejauh ini warga mengaku belum terlihat maksimal.
“Setiap tahun Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup melakukan penanaman mangrove dibeberapa tempat, namun hasilnya selalu nihil, untuk bahan laporan kegiatan penanaman mangrove, pihak dinas hanya mendokumentasi progres kegiatan saja,” kata Ilham Nanring, warga Takalar Lama, Kecamatan Mappakasunggu, Selasa (9/8).
Hal senada juga disampaikan oleh Daeng Naba, warga Desa Lagaruda, Kecamatan Sanrobone. Menurutnya, bahwa program penanaman mangrove syarat dengan rekayasa. Hal itu, kata dia, dapat dibuktikan di lokasi penanaman mangrove tahun 2015.
“Yang lokasi tahun lalu tidak ada pohon mangrove yang tumbuh sesuai yang diharapkan. Pihak dinas selalu beralasan bahwa tumbuhan mangrove gagal tumbuh karena dihempas ombak,” keluh Daeng Naba.
Menaggapi keluhan wargam, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Takalar, Andi Ridjal Mustamin menampik tudingan tersebut. Ridjal mengatakan bahwa beberapa program penanaman mangrove yang dikerjakan tahun 2015 lalu pada umumnya sukses terlaksana, bahkan menurutnya progres penanaman mangrove telah dinikmati oleh masyarakat nelayan sebagai tempat pengembang biakan kepeting dan hewan laut lainnya.
“Tidak benar kalau disebut gagal. Buktinya nelayan saat ini mulai mengembangbiakan kepiting di areal penanaman mangrove yang kita lakukan tahun 2015 lalu,” kilah Ridjal. (ari-ril)
Program Penanaman Mangrove Dinilai Gagal
