WARGA miskin tak akan ada habisnya. Hal ini selalu berimbas pada dunia pendidikan. Di sekolah banyak siswa berprestasi tapi terkadang harus putus sekolah karena masalah ekonomi yang tidak mendukung.
Seperti halnya di Kabupaten Sidrap, karena kondisi ekonomi keluarga, murid miskin berprestasi ini harus memikirkan caranya sendiri agar bisa menghidupi keluarganya. Kisah ini dialami seorang pelajar SDN 04 Bilokka, Kecamatan Panca Lautang bernama Melisa Afsani.
Bocah berusia 10 tahun itu terpaksa bekerja serabutan membantu kedua orang tuanya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dengan prestasi di sekolahnya pada usia masih terbilang belia, Melisa mampu menghafal Quran dan bahkan sejumlah lomba yang diikutinya bisa disabet juara seperti lomba Pildacil.
Dengan bermodalkan menghafal Al Quran dan berbicara didepan umum, tak jarang prestasi ini bisa mulai menghasilkan tambahan keuangan ekonomi keluarganya.
Dia pernah mewakili Kapupaten Sidrap kategori lomba Pildacil tingkat Sulsel, murid kelas VI SD ini menyabet juara III lomba Pildacil Ramadhan tingkat jajaran Polda Sulselbar, mewakili Polres Sidrap, baru-baru ini.
Ditemui di rumahnya yang hanya berukuran 5×8 meter ini, Rabu (10/8), anak bungsu dari empat bersaudara mengaku uang hasil prestasinya ini, dikumpulkan, selain untuk kebutuhan sekolah dan jajan, juga mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.
Disekolahnya juga, Melisa menceritakan dirinya selalu masuk nominasi 10 peraih nilai tertinggi atau rangking.
“Saya bersekolah sambil bantu mama jualan kue. Karena uang hasil kerja bapak sebagai buruh tani tidak mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya saat ditemui di rumahnya, Kelurahan Bilokka, Kecamatan Panca Lautang, Sidrap, Rabu kemarin.
Menurut Melisa, kakaknya bernama Rahmawati (23), terpaksa memutuskan kuliahnya lantaran ibunya Afidah juga sudah mulai sakit-sakitan.
Dalam kesehariannya, Melisa dan kakaknya Rahmawati selalu menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
“Saya harus menyiapkan makan untuk keluarga sebelum sekolah. Penghasilan yang saya dapat untuk menambah biaya kebutuhan rumah karena biaya sekolah gratis,” kata Melisa yang bercita-cita menjadi Dokter.
Sementara Ibu Melisa, Afidah mengaku sangat terbantu dengan hasil keringat anak-anaknya, terutama Melisa yang mewakili Polres Sidrap lomba Pildacil tingkat sejajaran Polda Sulsel, ramadhan lalu.
“Saya bersyukur punya anak-anak yang patuh dan membantu pekerjaan saya. Kadang kakak-kakanya Melisa, turut membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga setelah mereka belajar,” cerita Afidah.
Melisa yang ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama ini mengaku menghadapi dilema karena lokasi SMP terdekat berada di pinggir ibukota kecamatan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari tempatnya.
Dengan demikian, dia akan kesulitan mengatur waktu antara belajar dengan bekerja.
Bahkan, Melisa mengaku harus tetap melanjutkan sekolahnya hingga selesai Kuliah agar keinginannya menjadi seorang dokter dapat diwujudkan. “Saya ingin bersekolah lebih tinggi, pak” katanya polos.
Salah seorang perwira dan Babinkamtimas Polsek Panca Lutang Polres Sidrap IPDA Saripuddin mengatakan Melisa dan kakak-kakaknya merupakan pelajar yang berprestasi.
Menurut dia, Melisa menempati peringkat ketiga lomba Pildacil mewakili Polres Sidrap di Polda Sulsel pada bulan Ramadan lalu.
“Di sekolahnya dia juga selalu masuk peraih nilai tertinggi 10 besar. Makanya prestasinya ini kami manfaatkan untuk mewakili Polres Sidrap dengan memberikan bantuan dana untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya yang pas-pasan,“ ungkapnya.
Kehidupan sehari-hari keluarga ini, kata Saripuddin, memang memprihatinkan. Ekonomi keluarganya, sebutnya, memang serba kekurangan, makanya keluarga ini selalu mendapat jatah raskin dan bantuan-bantuan pendidikan dari pemerintah kabupaten.
Menurut dia, kalangan guru SDN 4 Bilokka kadang menyisihkan rezekinya untuk membantu meringaknkan keluarganya.
Ia mengharapkan adanya orang tua asuh yang bersedia membiayai sekolah Melisa agar cita-citanya tercapai. (ady/A)
