Site icon Berita Kota Makassar

Menjadi Bagian dari Rekonstruksi Aceh Pascatsunami

BERBICARA karir dan pengalaman kerja, Ir Hj Takudaeng Parawansa punya daftar yang cukup panjang. Sejak duduk di bangku kuliah, tepatnya saat menimba ilmu di Jurusan Aristektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), dia sudah mengecap dunia kerja profesional.

Laporan: Rahmawati Amri

KETIKA masih berstatus sebagai mahasiswi, wanita kelahiran Manado, 20 November 1966 yang akrab disapa Keke ini sudah ditawari bekerja di PT Triaco Widya Cipta Konsultan Arsitektur.
Ia ketika itu masih kuliah kerja lapangan di Jakarta. Pekerjaan itu sangat sesuai dengan disiplin ilmu yang digeluti. Ide-ide dan kreatifitasnya bisa tersalurkan. Sebelum sempat terlena dengan pekerjaan itu, dia diingatkan untuk kembali ke Makassar menyelesaikan kuliahnya.
Lepas kuliah, dia kembali terjun ke dunia kerja. Keke kemudian ditawari ke menjadi PNS.
Pada tahun 1997, wanita energik yang hobi olahraga dan musik ini memutuskan menikah dengan Taswin Marzuki yang berstatus PNS di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Tiga bulan setelah menikah, suaminya dapat beasiswa belajar di Winconsin University. Dia terpaksa harus memilih antara lanjut berkarir sebagai PNS atau ikut suami.
“Karena komitmen sejak awal menikah, susah senang kami tetap bersama-sama, saya pun memutuskan untuk ikut suami dan tinggalkan karir PNS,” ungkapnya saat bincang-bincang santai dengan BKM, di rumahnya yang asri di perbatasan kota Makassar-Gowa.
Sambil mendampingi suami kuliah, dia ambil kursus-kursus yang berkaitan dengan ilmu gambar, handycraft, dan yang berhubungan dengan dunia kreatif.
Dalam proses penyelesaian meraih gelar PhD, sang suami ditawari bekerja di Aceh. “Sayapun komitmen sama suami, dimanapun akan mendampinginya. Dimanapun pasti ada kebahagiaan,” jelasnya.
Manusia boleh berencana, namun Tuhan yang menentukan segalanya. Baru satu bulan bertugas di Aceh, suami dipanggil Sang Khalik. Tepatnya pada 22 Juni 2004.
Kejadian itu membuatnya sangat terpukul. Dia kembali ke Jakarta dan berusaha menata hidup kendati masih larut dalam kesedihan.
Enam bulan kemudian, tepatnya Desember 2004, tsunami melanda Aceh. Peristiwa itu seakan menghentak dan membangunkan dirinya dari kesedihan panjang.
Dia kemudian bertekad ke Aceh memberi bantuan semampunya, sesuai tenaga dan keahlian yang dimiliki bagi para korban tsunami. Keke akhirnya bergabung dengan NGO yang dipimpin Rustin Ilyas sebagai volunteer.
“Saya berpikir, saya seorang arsitek, kenapa harus diam? Pasti ada yang bisa saya lakukan untuk masyarakat Aceh,” ungkapnya.
Dia pun juga ditawari bergabung dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh. Banyak pengalaman menarik yang tak terlupa sepanjang hidup selama bertugas di sana. Dia harus mengurusi infrastruktur jalan dan jembatan sebagai asisten manajer.
Bagaimana dia bersama tim harus bekerja keras membangun infrastruktur yang hancur pasca tsunami dengan peralatan yang terbatas. Dia juga dituntut untuk bijak dan kreatif dan menyelesaikan permasalahan yang didapat di lapangan. (*/rus)

Exit mobile version