Site icon Berita Kota Makassar

Adnan Menangis Dikunjungi Kadisdikbud

MAKASSAR, BKM — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar, Ismunandar mengunjungi Adnan Ahmad di sel Mapolsek Tamatale, Jumat (12/8). Belakangan terkuak, ternyata Ismunandar cukup mengenal tersangka. Adnan merupakan siswa Ismunandar ketika menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 2 Makassar.
”Saya baru saja bertemu dengan dia (Adnan Ahmad). Ia itu siswa saya waktu di SMPN 2 dulu. Bagaimanapun juga saya sebagai guru mengunjunginya. Kepada saya, dia mengakui kesalahannya dan menyatakan menyesal,” kata Ismunandar.
Ismunandar juga mengklarifikasi pernyataan yang sebelumnya dilontarkan Ariaty Puspasari, Sekretaris Disdikbud. Ariaty menegaskan bahwa pintu seluruh sekolah negeri di Makassar telah tertutup untuk MA, putra Adnan Ahmad yang juga jadi tersangka dalam pemukulan gurunya, Dasrul.
”Dalam sistem pendidikan ini, tidak 100 persen menerapkan pendidikan formal. Jangan setelah seorang anak dinyatakan bersalah, lalu anakn tersebut tidak mendapat pendidikan non formal. Karena itu, setelah menjelani proses hukum, siswa AM akan dipulangkan ke orangtuanya untuk mendapat pendidikan non formal,” terang Ismunandar.
Mendengar hal itu, tersangka Adnan Ahmad langsung menangis di hadapan gurunya. ”Minta maafka, Pak. Saya khilaf. Saya tidak bermaksud seperti itu,” ujarnya.
Menyadari kesalahan akan perbuatannya, Adnan juga berjanji untuk bertemu langsung dengan Dasrul yang menjadi korban pemukulannya. ”Saya ingin sekali bertemu dengan Pak Dasrul. Saya mau minta maaf atas kesalahan saya,” ujar Adnan sambil terus mengusap air matanya.
Dalam penjelasan lainnya di Balai Kota, kemarin, Ismunandar menilai, pernyataan untuk menutup pintu sekolah negeri bagi MA, tidak pantas dan keliru. Karena setiap anak berhak menikmati pendidikan yang layak. Selain itu, sebelum mengambil keputusan tegas, terlebih dahulu harus dilakukan koordinasi, baik di internal maupun luar sekolah.
”Menutup pintu sekolah sekolah untuk seorang anak itu tidak pantas dilakukan, dan itu tidak dibenarkan. Pihak sekolah hanya mengembalikan anak itu ke orang tuanya untuk dibina baik secara moral dan psikolognya,” kata Ismunandar.
Sembari menunggu proses hukum yang dilakukan terhadap MA, Ismunandar mengaku masih melakukan evaluasi dan mencari solusi sekolah yang layak kepada MA setingkat dengan sekolahnya sekarang.
“Kita tidak mengeluarkan siswa itu dari sekolah. Hanya saja kita mengembalikannya ke orang tua untuk dibina tanpa waktu yang ditentukan. Kita juga menunggu proses hukum yang tengah berjalan,” ujarnya.
Sementara itu, Adnan dan MA yang ditahan di Mapolsek Tamalate, dijenguk oleh istrinya, Rini Asmilasari (39). Ia tampak syok mengetahui anak dan suaminya menjadi tersangka penganiayaan. Ibu tiga anak ini tak henti-hentinya menangis. Dia tak pernah membayangkan dua orang yang dicintainya harus berurusan dengan hukum.
Dari rumahnya di BTN Tirasa Sudiang, Rini mendatangi Mapolsek Tamalate. Ia tak banyak berkomentar perihal peristiwa yang mengantar suami dan anaknya ke balik jeruji besi.
Dia hanya berharap, kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. ”Sebagai istri dan anak, saya hanya berharap agar korban memaafkan suami dan anak saya. Begitupun kepada pihak sekolah, agar tetap menerima anak saya bersekolah. Anak saya menyesal, karena perbuatannya ayahnya ditahan. Mewakili keluarga, agar kekhilafan ini dimaafkan. Semoga ada penyelesaian secara kekeluargaan,” haapa Rini sambil berurai air mata.
Demikian pula Adnan Ahmad. Dia mengaku menyesal telah menganiaya guru anaknya.
”Jujur saya sangat menyesal dengan semua ini. Saya harap ada keadilan bagi saya. Apalagi anak saya juga jadi korban,” cetusnya sembari tertunduk lalu mengeluarkan air mata.
Adnan mengaku heran karena anaknya juga ikut ditahan. Padahal, kata dia, pihaknya tengah melaporkan Dasrul.
”Saat itu saya juga laporkan Pak Dasrul lantaran menganiaya anak saya. Tapi kenapa anak saya juga ikut dijadikan tersangka dan ditahan. Anak saya juga mengalami luka dihidung,” imbuh Adnan.
Sehari-harinya Adnan berprofesi sebagai wartawan di salah satu koran mingguan. Selain itu, ia juga kerap menawarkan jasa pengurusan surat-surat kepada yang membutuhkannya.
Sebelum peristiwa di SMKN 2, rencananya ia hendak mengurus persuratan di kantor Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) yang kebetulan berada tidak jauh dari sekolah anaknya tersebut.
“Rencana saat itu saya rencana mau ke kantor LPJK. Tiba-tiba saja anak saya menelepon. Saya kemudian singgah terlebih dahulu di sekolah,” terangnya.
Sementara Dasrul, hingga kemarin masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara. Ia masih terbaring di tempat tidur dengan infus di tangannya.
Informasi dari salah seorang petugas medis, menyebutkan korban baru saja mendapat kunjungan dari Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan dan Wakil Wali Kota Makassar, Samsu Rizal. Keduanya datang untuk melihat langsung kondisi terakhir Dasrul. (ish-arf/rus)

Exit mobile version