MAROS, BKM — Kualitas air olahan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Maros mulai dikeluhkan pelanggan di Kecamatan Lau. Keluhan tersebut menyusul rasa air yang dihasilkan berubah menjadi payau.
Menurut pengakuan salah seorang pelanggan PDAM bernama Sri, sejak beberapa pekan ini air PDAM tidak bisa digunakan untuk memasak karena terasa lebih asin. “Kalau direbus airnya tambah terasa asinnya,” keluh Sri.
Akibatnya perubahaan rasa air tersebut, warga saat ini ia terpaksa membeli air kemasan dan air isi ulang untuk memasak dan minum. Padahal biasanya untuk sehari-hari, warga dapat mengkonsumsi air dari olahan PDAM.
“Ini merugikan kami sebagai pelanggan, karena pengeluaran bertambah untuk membeli air galon. Karena kalau kita pakai air PDAM memasak rasanya tidak enak,” keluhnya lagi.
Sama halnya dengan Sri, warga lainnya bernama Ida juga mengeluhkan kualitas air PDAM. Ida meminta agar pihak PDAM segera mencarikan solusi terkait masalah ini.
“Kita tersiksa betul karena pengeluaran harus bertambah lagi. Coba bayangkan dalam sehari kita pakai berapa air galon. Padahal tiap bulan kita rajin bayar tagihan,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar tiga pekan. Dimana sebelumnya didahului dengan warna air keruh. Namun setelah dibenahi warna air kembali menjadi jernih. Hanya saja rasanya yang berubah dan sedikit berbau. “Memang jernih tapi rasanya asin dan kadang berbau,” pungkasnya.
Menanggapi keluhan warga, Direktur PDAM kabupaten Maros, Abd Baddar mengaku baru mengetahui adanya hal seperti itu. Dia berjanji akan turun langsung melakukan pemeriksaan. “Saya baru dengar infonya. Besok (hari ini) saya akan turun langsung mengecek keluhan warga,” janjinya.
Adapun salah satu penyebab berubahnya rasa air PDAM, kata dia, disebabkan kadar garam (salinitas) sumber air baku PDAM mengalami peningkatan.
“Bisa jadi karena kadar salinitas sumber air baku PDAM meningkat saat musim kemarau,” kilahnya. (*)
Tiga Pekan Warga Lau Konsumsi Air Payau
