MAROS, BKM — Kebakaran yang terjadi di terminal lama Bandara Sultan Hasanuddin, Senin dinihari (15/8), belum diketahui penyebabnya. PT Angkasa Pura (AP) 1 masih menunggu hasil penyelidikan dari tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri yang sementara bekerja di lokasi kebakaran.
”Kita belum tahu apa penyebabnya. Arus listrik dan aliran air sudah sejak lama diputus,” kata General Manager (GM) AP 1, Cecep M Sonjaya dalam keterangan persnya di Ruang Pokja Kantor AP 1, kemarin.
Demikian pula untuk kerugian akibat kebakaran ini, belum bisa ditaksir. Sebab gedung yang terbakar ini sudah tidak digubnakan lagi sejak 2008 lalu.
“Semalam, saat kebakaran kami fokus pada penyelamatan gedung di sekitarnya, karena memang gedung yang terbakar sejak lama tidak difungsikan. Hanya beberapa gedung disampingnya yang masih digunakan,” ujarnya.
Beberapa bangunan yang berhasil diselamatkan, yakni gedung VVIP milik Pemprov Sulsel dan gedung arsip. Termasuk ground handling, bus, minibus serta lavatory.
Selain itu, ada tiga unit pesawat yang diselamatkan dengan cara mendorongnya secara manual. Masing-masing satu pesawat Susi Air, satu pesawat Merpati dan sebuah pesawat Aviastar. Pesawat tersebut didorong menjauh dari apron oleh pihak angkasa pura dibantu Avsec dan pihak kepolisian.
Terminal bandara lama yang terbakar, Senin dinihari diketahui masih diasuransikan oleh pihak Angkasa Pura. Juga masuk dalam pengembangan bandara terintegrasi.
”Bandara lama masih diasuransikan dan masuk dalam pengembangan bandara ke depannya. Hanya saja, mau dibikin apa, masih dalam tahap pengkajian,” kata Harry Budi Waluyo,
Shared Service Departement Head PT Angkasa Pura 1.
Sedangkan terkait kerugian, Harry juga belum bisa menaksirnya. Karena meski terminal bandara lama tidak digunakan lama, namun gedung tersebut masih memiliki nilai dan gudang penyimpanan alat tulis kantor (ATK) yang ikut terbakar.
Sementara itu, tim labfor juga belum dapat menyimpulkan penyebab kebakaran tersebut. Pihaknya baru selesai mengumpulkan data di TKP. Kasus ini masih sementara dalam penanganan Polres Maros.
Kondisi terminal bandara lama pascakebakaran masih belum bisa diakses. Garis polisi masih dipasang, karena rawannya bangunan gedung usai terbakar.
Beberapa kali atap seng berjatuhan karena terpaan angin, serta masih adanya api kecil dan asap di tengah terminal. Beberapa aparat kepolisian juga masih terus berjaga-jaga di lokasi.
Komisi D DPRD Sulsel juga melakukan peninjauan di lokasi yang terbakar. Dalam rombongan yang dipimpin Ketua Komisi D, Darmawansyah Muin ini, ikut pula Wakil Ketua Komisi D, Ariady Arsal dan anggota lainnya.
Selain meninjau lokasi kebakaran, Komisi D meninjau langsung aset Pemprov Sulsel, yakni gedung VVIP yang bersebelahan langsung dengan terminal bandara lama yang terbakar.
“Meski Angkasa Pura itu mitra vertikal, namun secara pengawasan kita tetap bermitra. Kami ingin melihat dan mengetahui secara langsung penyebab kebakaran. Karena meski tidak lagi digunakan, tapi masih masuk dalam area bandara,” kata Darmawansyah.
Sejauh ini, tambah Darmawansyah, meski tidak difungsikan lagi, namun terminal lama bandara ini masuk dalam perencanaan bandara yang terintegrasi dengan bandara baru.
Selain komisi D DPRD Maros, Wakil gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang juga datang melihat langsung gedung terminal lama yang terbakara. Dalam pernyataannya, Agus sangat menyayangkan terbakarnya eks terminal bandara lama.
Dia meminta tim forensik dan petugas kepolisian untuk bekerja maksimal dalam mengungkap kasus itu. Selain itu, dia meminta semua orang untuk menahan diri dan tidak mengada-ada mengeluarkan opini terkait terbakarnya eks terminal bandara lama. (ari-rif/rus)
Didorong Manual, Tiga Pesawat Lolos dari Kebakaran di Bandara
