Site icon Berita Kota Makassar

BPPT dan Dikti Lirik Industri Garam dan Gula Aren

JENEPONTO, BKM — Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristek Dikti RI) siap membantu Pemerintah Kabupetan (Pemkab) Jeneponto untuk meningaktkan kualitas produksi garam dan gila aren (marah) lokal.
Hal itu mengemuka dalam pertemuan Kepala Biro Perekonomian dan Pengembangan BPPT, Makmun Nuramin dan Dirjen Kemenristek Dikti RI, Jumain Appe, didampingi anggota DPR RI, Muchtar Tompo dengan Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar di Gedung Kalabbirang, rujab bupati, Rabu (24/8).
Legislator Senayan yang berasal dari daerah pemilihan I Sulsel, Muchtar Tompo dalam pertemuan itu menyinggung status Kabupaten Jeneponto sebagai Daerah Tertinggal (DT). Menurutnya, sumber alam Jeneponto sangatlah melimpah, karena memiliki geografis yang baik.
“Saya heran kenapa Jeneponto dikatakan daerah tertinggal, padahal sangat banyak sumber daya alamnya. Jeneponto punya dataran tinggi yang menghasilkan sayur, kopi, coklat dan lainnya. Sementara di dataran rendah bisa ditumbuhi jagung, gaplek dan penghasil gula merah terbesar di Sulse. Kalau di pesisir ada ikan, rumput laut dan garam,” ujar politisi Partai Hanura itu.
Muchtar pun berharap, kedatangannya dengan BPPT dan Dikti bisa memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas garam dan gula aren di Jeneponto. “Makanya saya undang BPPT dan Dikti serta beberapa pengusaha untuk membangun industri garam dan gula merah di sini. Saya berharap kerja sama ini bisa meningkatkan perekonomian rakyat guna di Jeneponto,” Muchtar, yang juga asli putra daerah Bumi Turatea itu.
Di tempat yang sama, Dirjen Kemenristek Dikti RI, Jumain Appe mengaku tertarik dengan potensi alam di Jeneponto. “Jeneponto bisa menghasilkan puluhan ton gula merah dan kualitasnya sangat baik, bahkan tahan hingga berbulan-bulan. Kalau dikembangkan melalui industri besar, kami yakin akan berdampak positif kepada masyarakat,” kata Jumain.
Selain gula merah, Jumain juga melihat potensi garam lokal Jeneponto yang melimpah di hamparan tambak empang seluas 1.440 ha.
“Kami punya data kalau produksi garam Jeneponto mencapai 50 ribu ton pertahun. Jika garam ini dikembangkan kewat industri, maka masyarakat di daerah ini ikut terkena imbas postifi,” tambahnya. (krk-ril)

Exit mobile version