MAROS, BKM — Sedikitnya 28 oknum pelajar dari tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Maros,terjaring operasi yang digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Mereka diamankan lantaran berkeliaran saat jam belajar, Senin (29/8) sekitar pukul 09.00 Wita.
Kepala Seksi Operasi dan Pengendalian Satpol PP Maros, Edi Burhan mengatakan, siswa yang terjaring operasi tercatat diantaranya, oknum pelajar dari SMP Pergis, SMA PGRI, SMP 1 Turikale dan SMP DDI Maros. Edi mengatakan, oknum pelajar itu diamankan di beberapa tempat, seperti taman kota, warnet dan warung kecil sekitar sekolah. Selain didapati bermain game, beberapa pelajar juga tertangkap sedang asyik merokok dengan mengenakan seragam sekolah.
“Semua kami amankan saat jam sekolah. Ada yang diamankan saat main game di warnet di Jl Taqwa dan nongkrong di warung sekitar Yapim, di depan Geraja Sanrima, taman kota dan Kassi Kebo. Mereka keluar tanpa mengantongi surat izin dari pihak sekolah,” tegasnya.
Edy melanjutkan, semua pelajar yang terjaring digiring ke kantor Satpol PP untuk didata kemudian memanggil orang tua mereka.
Edi mengatakan, pihak memilih memanggil langsung orang tua dibanding guru dengan harapan, anaknya tidak mengulangi perbuatannya. Pasalnya, dalam operasi beberapa waktu lalu, Satpol memanggil guru siswa, namun masih saja ada yang berkeliaran.
“Kami panggil orangtuanya masing- masing, supaya mereka melihat langsung kelakuan anak-anak mereka. Untuk siswa yang belum dijemput orang tuanya, akan ditahan sampai orang tuanya datang menjemput,” jelasnya.
Untuk menghindari kejadian terulang, pata pelajat ini diarahkan untuk membuat surat pernyataan. Untuk meminimalisir siswa bolos khususnya di Turikale, Satpol PP menggelar operasi rutin yang menyasar pelajar bolos. Siswa yang berada di luar sekolah di jam belajar, kata Edi, harus mengantongi surat izin dari sekolah.
Sementara itu, salah satu pelajar dari SMA PGRI Maros, Andi Alfian yang ikut terjaring membantah disebut bolos. Alfian mengaku terpaksa keluar sekolah karena ingin mengerjakan tugas yang materinya diambil dari internet.
Dia keluar ke warnet juga disebabkan, fasilitas wifi atau jaringan di sekolahnya tidak memadai dan sementara tahap perbaikan.
“Saya keluar ke warnet untuk kerja tugas karena belajar TIK. Tidak ada jaringan wifi di sekolah karena sementar diperbaiki ruangan TIKnya. Ini merupakan pertama kali saya terjaring,” kilahnya.
Saat terjaring, Andi Alfian tidak melarikan diri, namun lima rekannya yang lain berhasil kabur dari pengejaran petugas Satpol PP. (ari-ril)