Site icon Berita Kota Makassar

Berkeliling Jual Es Lilin Sepulang Sekolah

DI USIA sekolah, sejatinya seorang anak lebih fokus belajar untuk bisa menjadi pintar. Namun karena kondisi ekonomi yang memprihatinkan, ada diantara mereka terpaksa membantu orang tua mencari uang untuk biaya hidup. Di saat yang sama, prestasi tetap ditorehkan.

Laporan: Samiruddin

DI sebuah rumah semi permanen yang terletak di Kelurahan Wattang Soreang Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Rabu (31/8) siang. Seorang anak perempuan mengenakan baju seragam SMP baru saja masuk ke dalam rumah itu.
Ia kemudian bergegas untuk bersalin pakaian. Baju sekolahnya ditanggalkan, lalu menggantinya dengan baju kaos warna merah serta celana jeans pendek sebatas lutut.
Dengan cepat dia beralih mengambil sebuah wadah yang biasa digunakan menyimpan es berwana pink muda. Di luarnya tertempel secarik kertas yang dipasang melingkar di termos es. Di situ tertulis; Jual Es Lilin Kacang Ijo Alvokat.
Cewek yang mengikat rambut panjangnya itu kemudian membawa termos yang telah berisi es tersebut berkeliling di sekitar tempat tinggalnya. Satu persatu tetangga yang rumahnya ia lintasi, memanggil dan membeli esnya. Sebiji es lilin dijual dengan harga Rp1.000. Karena musim kemarau, es lilin tersebut laku dan habis terjual.
Itulah keseharian Afnie Rahmania Rahman. Siswi kelas II SMP Negeri 1 Parepare ini harus merelakan waktunya tersita untuk berjualan es keliling. Hal itu ia lakukan guna membantu ekonomi keluarga.
Afnie merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia anak sulung pasangan suami istri, Rahman dan Mardania. Adiknya masih kecil. Rahman berpofesi sebagai tukang ojek. Sementara Mardania hanyalah ibu rumah tangga biasa. Dialah yang biasa membuat es lilin untuk dijajakan Afnie sepulang sekolah.
SMP Negeri 1 Parepare yang ditempati Afnie menuntut ilmu saat ini merupakan sekolah favorit. Persaingan untuk diterima di sekolah tersebut cukup ketat. Afnie mampu bersaing dan kemudian dinyatakan lulus.
Ketika diterima di sekolah ini, Afnie awalnya ditempatkan di kelas unggulan. Namun karena tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya butuh biaya tambahan yang tak sedikit, ia terpaksa turun ke kelas biasa. Padahal, dengan pencapaian nilai akademiknya, ia mampu berada pada peringkat lima.
Biasanya, guru memberikan tugas membuat makalah atau tugas lainnya yang berhubungan dengan internet, lalu kemudian diprint. Untuk menyelesaikannya, otomatis membutuhkan biaya. Sementara ekonomi keluarga Afnie terbilang pas-pasan, jika tidak ingin dikatakan miskin.
Namun, keterbatasan ekonomi tak membuat Efnie berputus atas. Semangat dan optimismenya untuk berprestasi terus ia pupuk.
Hasilnya, selain menduduki peringkat lima di kelasnya, ia juga mampu mengharumkan nama sekolah. Afnie mencetak prestasi pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional SMP (FLS2N SMP) tingkat provinsi yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan.
Ketika masih duduk di bangku kelas I SMP, sepulang sekolah Afnie dijemput oleh bapaknya menggunakan motor usai mencari rezeki dari mengojek. Namun semenjak naik kelas II, ia tak lagi dijemput pakai motor. Afnie menjadi salah seorang pelajar di Kota Parepare yang mendapatkan fasilitas angkot gratis. Program yang dibiayai pemkot itu memang diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Sebenarnya, Afnie pernah membawa es lilin ke sekolah untuk dijual. Itu dilakukannya atas permintaan teman-temannya. Alasannya, karena es lilin jualan Afnie beda dengan yang lainnya.
Selain mengandung variasi kacang ijo dan alpukat, es lilin yang dijual Afnie menggunakan gula merah murni tanpa pemanis buatan atau sari manis.
”Teman-teman suka dan mereka minta saya bawa ke sekolah. Ada 20 biji waktu itu. Tapi saya ditegur oleh guru. Katanya siswa tidak boleh berjualan di sekolah, kecuali penjual yang ada di kantor. Saya bisa jual es lilin di sekolah, tetapi harus kerja sama dengan penjual yang ada di kantin,” ujar Afnie kepada BKM, di sela-sela mengikuti aktivitasnya berjualan es lilin tidak jauh dari rumahnya, kemarin.
Kepala SMP Negeri 1 Parepare, Makmur mengakui kalau Afnie merupakan siswa yang cukup cerdas dan pintar. Diapun rajin datang ke sekolah. Bahkan pernah membawa nama baik sekolah di tingkat Sulsel tahun 2016 lalu.
”Afnie memang pintar dan rajin. Ia berasal dari keluarga kurang mampu. Makanya kami bantu dengan memberikannya fasilitas angkot gratis untuk ke sekolah. Program ini dilaksanakan oleh pemerintah. Dia juga pernah diberikan baju seragam sekolah,” terang Makmur.
Mardania, ibunda Afnie yang ditemui di rumah yang berstatus sewaan itu, mengatakan telah mempersiapkan es lilin yang akan dijual oleh anaknya itu sebelum pulang sekolah. ”Kalau di musim panas seperti sekarang, saya siapkan 30 biji. Semuanya habis terjual. Total hasil penjualannya Rp30 ribu. Uang tersebut kemudian dipakai lagi sebagai modal. Sebagian untuk biaya hidup sehari-hari,” tutur Mardania. (*/rus/b)

Exit mobile version