MAKASSAR, BKM–Meski hari raya Idul Adha dua pekan lagi, namun transaksi jual beli hewan kurban di Kota Kota Makassar sudah mulai ramai.
Seperti yang terlihat di Jalan Aroepala atau Hertasning Baru, Jalan Syeh Yusuf dan beberapa titik lainnya di kota ini.
Kondisi itu tentunya menyebabkan permintaan masyarakat akan hewan kurban dipastikan mengalami peningkatan.
Anggota Komisi A Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Makassar, Jufri Pabe menghimbau, masyarakat yang akan membeli hewan kurban harus berhati-hati dan jeli menanyakan sertifikat kesehatan hewan yang akan dibelinya, agar kesehatan hewan tersebut terjamin.
Sebab, jika malu-malu menanyakannya, masyarakat sendiri yang nantinya dirugikan. Selain itu, masyarakat juga harus tegas menanyakan kondisi kesehatan hewan kurban, plus asal sapi yang dibeli. Apakah sapi lokal atau dari luar negeri.
Jufri menambahkan, tahun-tahun sebelumnya dirinya mewanti-wanti peredaran sertifikat hewan kurban palsu di Makassar. Pasalnya telah beredar surat sertifikat palsu hewan kurban di masyarakat yang tidak diketahui kelayakannya. Sertifikat tersebut bertuliskan hewan layak kurban dan telah diperiksa kesehatannya.
“Saya pernah menemukan hewan yang dibeli masyarakat ternyata hewan tidak layak potong karena tidak cukup umur tetapi memiliki sertifikat. Saya khawatirkan itu sertifikat palsu,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Kamis (1/9).
Kecurigaan legislator Fraksi Hanura tersebut semakin menguat setelah melihat langsung surat sertifikat hewan tersebut. Dia menilai ada pihak yang bermain dalam memalsukan sertifikat hewan kurban di Makassar. Tidak main-main sertifikat palsu tersebut sangat susah dibedakan dengan sertifikat lama.
“Kasian masyarakat yang ditipu. Pemkot dan aparat kepolisian harus menangkap penjual hewan kurban yang memiliki sertifikat palsu, sebab itu bentuk penipuan,” bebernya.
Ketua Komisi D DPRD Makassar, Mudzakkir Ali Djamil, juga mengimbau masyarakat berhati-hati membeli hewan kurban. Termasuk meminta PD Rumah Potong Hewan yang berlokasi di Tamanggapa untuk membersihkan lokasi kandang dan tempat pemotongan hewan.
“Ada ratusan hewan yang akan dipotong dan dibeli masyarakat di RPH. Kita minta Direksi RPH benahi lokasi kandang dan pemotongan, jangan sampai limbahnya membuat masyarakat sekitar resah,” ujarnya.
Muda sapaan akrab Mudzakkir Ali Djamil juga berharap agar pihak Kecamatan Manggala, Dinas Pertanian dan Peternakan serta Dinas Kesehatan menanggapai hal tersebut sebagai kondisi yang serius. “Kita belum lihat dan mendengar mereka turun melakukan pengecekan dan pemeriksaan hewan,” tuturnya.
Terpisah, salah seorang pedagang hewan kurban, Syamsuddin (47) mengatakan, ia menjual berbagai macam jenis sapi, dari harga terendah Rp8 juta hingga Rp35 juta.
Ia pun telah menjamin kesehatan sapinya karena telah melalui proses pemeriksaan yang dibuktikan dengan selembar surat keterangan dari Dinas Peternakan Sinjai.
“Kalau sapi saya ini mau diperiksa lagi, tidak masalah. Karena sudah diperiksa sebelumnya,” tutupnya.(arf-Ppl/war)
