DI MANA kemauan, di situ ada jalan. Begitu kata pepatah. Ketika seseorang ingin meraih impian dan harapannya, kemauan yang kuat menjadi pendorongnya. Jalan pun kian terbuka lebar.
LAPORAN: SAMIRUDDIN
SUBUH hari pada sebuah gubuk di salah satu sudut Kelurahan Cappa Galung, Kota Parepare. Di dalam rumah reot berukuran 3×6 meter yang kondisinya memprihatinkan, para penghuninya sudah terbangun untuk melakukan aktivitas kesehariannya.
Nikita Cahyani Lukman (9), murid kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) 64 Parepare bersama kakak perempuannya, Sitti Pratiwi Lukman (11) yang duduk di bangku kelas VI pada sekolah yang sama, langsung bangun membersihkan tempat tidurnya. Sedangkan kakak sulung laki-laki mereka, Muh Alif Nuzuby Lukman yang duduk di bangku kelas I SMP Negeri 3 Parepare, beranjak ke sumur yang jarak 50 meter dari kediamanya.
Di rumah mereka memang tidak ada air bersih PDAM. Jangankan untuk mendapatkan pelayanan air ledeng yang mesti dibayar setiap bulan, untuk biaya hidup sehari-hari saja keluarga ini cukup kesulitan. Akhirnya, air sumur menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Muh Alif menimba air lalu memasukkannya ke dalam jerigen ataupun ember. Selanjutnya dibawa pulang kemudian ditampung di dalam wadah gentong yang terbuat dari tanah.
Sementara Nikita bersama kakak perempuannya, seusai membersihkan tempat tidur, mereka lalu memasak untuk sarapan pagi dan siang sepulang sekolah.
Ayah mereka, Lukman Sulaeman juga sudah bangun untuk membeli sayur masak sekalian mengojek. Jarak yang harus ditempuhnya sejauh 3 kilometer.
Selesai melakoni tugasnya di atas rumah, Nikita bersama kakaknya kemudian menuju ke sumur untuk mandi. Tak lupa mereka membawa pakaian kotor ayng dipakainya kemarin, untuk dicuci.
Biasanya, mereka mencuci pakaian kotor secara sekaligus pada hari libur. Namun akan lebih ringan dilakukan saat pakaian yang selesai dipakai itu dicuci sedikit demi sedikit, sebelum berangkat ke sekolah. Apalagi pakaian mereka tidaklah seberapa.
Ketika selesai mandi dan mencuci pakaian, Nikita dan saudaranya tak lupa membawa pulang air di ember ataupun jerigen untuk mengisi tempat kosong di rumahnya.
Saat matahari mulai menampakkan diri dari ufuk timur, semua pekerjaan rumah telah selesai dilakukan Nikita dan saudaranya. Usai sarapan, kakak sulung Nikita, Muh Alif berangkat ke sekolah diantar oleh bapaknya. Jika sang bapak berhalangan karena ada pelanggan yang membutuhkan jasa ojeknya, Alif biasanya menggunakan mobil angkutan kota (angkot) gratis yang disiapkan Pemkot Parepare.
Rutinitas ini menjadi keseharian Nikita dan saudara-saudaranya. Urusan rumah tangga harus mereka lakukan sendiri. Sebab ibunya sudah tiada. Ia meninggal 14 April 2014, ketika Nikita masih berusia 7 tahun dan duduk di bangku kelas 1 SD.
Jarak tempuh dari rumah Nikita ke sekolah kakaknya, Muh Alif di SMPN 3 Parepare sejauh 2 kilometer. Sementara untuk ke SDN 64 Parepare, jaraknya kurang lebih 500 meter. Nikita dan kakak perempuannya menempuh perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki.
Tapi jangan bayangkan perjalanan Nikita ke sekolah begitu mudah. Ketika berangkat, keduanya harus menuruni bukit. Sebaliknya, jika pulang jalanannya mendaki. Sehingga akan cepat sampai di sekolah pada saat berangkat, dan begitu lambat tiba di rumah ketika pulang.
Namun semua itu tidak menjadi penghalang bagi Nikita untuk mencetak prestasi. Ia tergolong anak pintar dan cerdas di sekolah. Nikita menempati peringkat dua dari 30 murid yang ada di kelasnya.
”Anak ini pintar. Peringkat II di kelasnya. Setiap ada pekerjaan rumah yang diberikan, semua dikerjakan dan diselesiakan dengan benar,” kata Hj Hartati, Wali Kelas Nikita di kelas IV SDN 64 Parepare.
Pihak sekolah memberi perhatian dan dukungan terhadap Nikita untuk menggapai cita-citanya. ”Kami dari pihak sekolah memberikan baju seragam. Tapi soal beasiswa atau yang lainnya, belum ada di dapat. Semestinya dia mendapatkan itu,” tambah Hartati.
Nikita yang ditanya soal cita-citanya, langsung berujar ingin jadi guru. ”Saya mau jadi guru. Tapi yang menentukan itu hanya Tuhan,” kata gadis kelahiran Kalosi, 21 Januari 2007 ini.
Sepulang sekolah, BKM mencoba mengikuti perjalanan dua kakak beradik ini. Sabtu (3/9) sekitar pukul 13.00 Wita, Nikita bersama saudaranya yang mengenakan seragam pramuka dan berhijab warna senada, menenteng tas ransel yang pada beberapa bagiannya sudah rusak. Dengan bergandengan tangan, keduanya menelusuri jalan menanjak menuju rumahnya.
Sampai di rumah yang terletak di depan Gedung Pemuda Parepare, pintu yang sebelumnya dalam keadaan terkunci, langsung dibuka. Tidak ada siapapun yang menjemputnya.
Keduanyapun langsung masuk ke dalam rumah bersama BKM. Cukup memiriskan mendapati kondisi yang ada di dalam gubuk ini.
Dapur dan tempat tidur menyatu tak terpisahkan. Dinding di bagian selatan sudah tidak ada dan dibiarkan bolong. Karena berada tepat di tepi jurang, maka dinding jurang berupa tanah itulah yang dijadikan penghalang, sedikit dijejali dengan bambu.
Begitu pula dengan lantainya, hanya menggunakan bambu. Itupun sudah bolong-bolong.
Tidak ada kamar. Semuanya polos. Saat bersalin pakaian saja, keduanya melakukan secara terbuka. Untuk tidur, kedua anak perempuan ini harus rela berbagi tempat dengan kakak laki-laki dan bapaknya.
Rumah yang mereka tempati ini bukanlah milik keluarga ini. Melainkan kepunyaan salah seorang sahabat bapaknya. Gubuk inilah yang dipakai untuk beristirahat dan bernaung, sekaligus tempat belajar bagi Nikita bersama saudaranya.
Oleh sahabatnya, Lukman dipersilakan menempati gubuk tersebut secara gratis. Dia hanya dibebani membayar listrik. Karena kondisi ekonomi, keluarga ini hanya menggunakan satu bola lampu. Jika keluar rumah, lampu itupun dimatikan untuk menghemat energi.
”Saya kadang bantu pemiliknya bayar listrik kalau punya uang. Tapi itu tidak diwajibkan,” ujar Lukman Sulaeman yang kini telah berusia 70 tahun.
Saat ditemui pada malam harinya, Sabtu (3/9), bapak kelahiran 1946 itu tengah menemani anak-anaknya menonton di rumah salah satu tetangga.
Lukman menuturkan, semua pekerjaan rumah dilakukan oleh kedua gadis ciliknya itu sepeninggal ibunya. Sedangkan anak laki-laki bekerja mengambil air dan tugas lainnya. Termasuk membersihkan rumah membantu saudaranya.
”Saya hanya penarik ojek dengan penghasilan tak menentu. Kadang dapat Rp30 ribu sehari. Tapi biasa juga tidak dapat sama sekali,” ujarnya.
Lukman mengakui, hingga saat ini ia dan keluarganya belum menerima kartu berobat gratis melalui program pemerintah. Begitu pula dengan beras miskin (raskin) dari pemerintah, juga belum diperolehnya.
Pemerintah setempat beralasan, Lukman tidak kartu keluarga (KK), karena ia warga Kalosi, Kabupaten Enrekang yang hijrah ke Kota Parepare mencari sesuap nasib. ”Saya sudah dua tahun di sini menjadi warga Parepare tapi, belum diakui karena belum punya KK. Baru sementara saya urus, Pak,” terangnya.
Dalam kondisi serba sulit, Lukman masih punya harapan terhadap ketiga anaknya. Mereka selalu dimotivasi untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dari sekolah.
Jika tidak menyelesaikan PR, sanksinya mereka diharuskan membersikan sendiri. Cara tersebut tergolong mujarab untuk mendorong anak-anaknya agar selalu belajar supaya menjadi pintar.
”Biasanya kalau pulang sekolah, dia langsung makan dan istirahat siang. Selanjutnya mengerjakan PR jika ada tugas yang diberikan. Malamnya istirahat. Kalau mau nonton, harus ke rumah tetangga atau ke rumah keluarga yang jaraknya sekitar 50 meter,” jelasnya.
Tapi tidak setiap malam ketiga anaknya pergi nonton. Mereka pergi menonton bertiga saat hari libur atau malam Minggu. (*/rus/b)
