Site icon Berita Kota Makassar

Ditentang Orang Tua, Latihannya Sembunyi-sembunyi

SEMANGAT dan optimisme. Dua kata itu menjadi ‘doping’ bagi Aswar Ali, salah satu karateka asal Sulsel yang kerap mengharumkan nama daerah, baik di ajang nasional maupun internasional.

Laporan: Rahmawati Amri

SUASANA di Gedung Olahraga (GOR) Mattoanging sore itu terlihat cukup ramai. Orang-orang yang ada di dalamnya rata-rata berseragam putih-putih, lengkap dengan sabuk yang melilit di perut. Semua tampak bersemangat mengikuti latihan.
Mereka adalah pemain karate. Salah satu yang terlihat menonjol adalah Aswar. Ia bersama dua rekannya terlihat berlatih keras. Cucuran keringat terlihat di sekujur tubuhnya. Ya, Aswar tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan dihelat pekan ketika bulan ini di Kota Bandung, Jawa Barat.
Dengan penuh semangat, elaki yang saat ini tercatat sebagai salah satu PNS lingkup Pemprov Sulsel, tepatnya di Kantor Badan Kesatuan Bangsa, tak pernah lelah berlatih untuk mengejar target juara. Dengan penuh optimisme, dia yakin apa yang diperjuangkannya akan tercapai.
Aswar dan rekan-rekannya menjadi salah satu tumpuan Sulsel untuk mendulang emas di ajang bergengsi tersebut. Yah, Aswar sudah menjadi langganan juara pada berbagai event, baik yang berskala nasional maupun internasional.
Meskipun harus membagi waktu antara pekerjaan dan latihan, Aswar tetap semangat. Tak ada keletihan di wajahnya. Semakin mendekati keberangkatan ke Bandung, latihan yang dilakukan semakin intens dan semakin keras.
Pagi, sebelum berangkat kerja dan sore sepulang dinas, Aswar bisa dijumpai di GOR, tempatnya berlatih. Sama dengan PON sebelum-sebelumnya, lelaki atletis ini dipercaya mampu mempersembahkan emas.
“Alhamdulillah masih dipercaya untuk mewakili Sulsel di ajang PON. Insya Allah, pastinya kami akan berikan yang terbaik,” ungkapnya.
Persiapan yang dilakukan secara fisik dan teknik terus diintensifkan dan dipertajam. Walaupun di atas kertas, Aswar dan tim masih teratas dibanding provinsi lain, dia tak mau jumawa. Semua dianggap saingan berat, apalagi bermunculan karateka-karateka baru yang masih fresh. Karenanya, latihan harus lebih intens dan ditingkatkan.
“Kita tidak tahu seberapa besar kekuatan lawan. Makanya, harus terus berusaha jadi yang terbaik,” ungkapnya.
Ia kemudian berbagi cerita ihwal dirinya terjun menggeluti karate. Bermula pada tahun 1993, lelaki low profile ini mengaku mulai menekuni pencak silat. Sang kakek yang tercatat sebagai veteran pejuang kemerdekaan ingin cucunya punya bekal bela diri.
Bukan untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai perlindungan diri. Namun, aktifitas latihan pencak silatnya ditentang orang tua. Selain karena dianggap olahraga keras, dia tak mau anaknya sombong dan menjadikan keahliannya itu untuk mencari musuh.
Mendapat tentangan seperti itu, Aswar bukannya berhenti. Ia malah tetap latihan, meski dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena satu dan lain hal, Aswar pun banting setir dengan menggeluti karate. Diapun fokus, bukan hanya untuk olah tubuh, melainkan mulai melirik prestasi. (*/rus)

Exit mobile version