MAKASSAR, BKM — Sebuah ledakan hebat terjadi di Jalan Harimau, Kelurahan Maricayya, Kecamatan Makassar, Minggu (11/9) pukul 21.30 Wita. Pemicunya diduga bersumber dari gas elpiji yang tengah dioplos.
Ada empat orang yang jadi korban dalam peristiwa di ruko berlantai dua ini. Hingga kemarin, mereka masih dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Makassar.
Korban masing-masing Trisno dan Markus (22), warga Jalan Ranggong Dg Romo, serta Poli (21) dan Yusuf (22), keduanya warga Jalan Abdullah Dg Sirua.
Selain korban luka, tiga unit mobil juga hangus terbakar. Masing-masing Daihatsu Xenia warna silver DD 1135 AH, Daihatus Xenia DD 1459 OI dan pick up Gran Max bernomor polisi F 8690 GM.
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan meminta agar kejadian ini tak dikaitkan dengan bom. Penegasan itu disampaikan Anton, karena peristiwa tersebut berlangsung saat malam takbiran menyambut Hari Raya Idul Adha. Apalagi daya ledaknya cukup tinggi.
Dampak dari ledakan yang berlokasi di RW 05/RT 3, Kelurahan Maricayya itu dirasakan warga di Jalan Veteran. Pintu ruko yang meledak terlempar jauh. Ruko yang terletak di sampingnya juga mengalami kerusakan parah.
Ledakan juga memicu kobaran api. Beruntung, tim pemadam kebakaran bersama ribuan warga bahu membahu memadamkan api.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Rusdi Hartono bersama Wali Kota, Moh Ramdhan Pomanto langsung datang ke lokasi, sesaat setelah api padam. Keduanya melihat secara langsung kondisi di dalam ruko yang menjadi sumber ledakan.
Dari pantauan Danny –sapaan akrab Wali Kota–, di dalam ruko terlihat puluhan tabung gas berserakan. Ia mengaku telah menerima informasi dari pemerintah setempat, bahwa pemilik usaha tak pernah datang melapor. Begitu pula dengan usahanya, tidak pernah dilaporkan.
”Saya segera instruksikan Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Perindag untuk menertibkan usaha ini. Tidak boleh dibiarkan,” tegas Danny, yang dalam waktu dekat akan memanggil seluruh pemilik usaha sejenis guna dilakukan pendataan.
Menurut Wali Kota, penertiban kegiatan usaha seperti harus dilaksanakan. Tujuannya untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa saja terjadi, sebagai dampak dari aktivitas usahanya.
”Pemilik usaha sama sekali tidak pernah melapor ke pihak kelurahan. Yang lebih fatal lagi, pemilik usaha lebih banyak menutup rukonya. Jarang terbuka, meski ada aktivitas di dalamnya. Ini meresahkan warga sekitarnya,” terang Danny.
Ditanya soal pemicu ledakan, orang nomor satu di Makassar itu tidak mau berspekulasi. Ia hanya menyampaikan bahwa dirinya melihat cukup banyak tumpukan tabung gas di dalam ruko. ”Terkait proses hukumnya, kiat serahkan ke polisi,” ujarnya.
Sekitar pukul 01.30 Wita, Senin (12/9) dinihari, tim jihandak yang melakukan olah TKP, menghentikan kegiatan di lapangan. Proses identifikasi dilanjutkan pada pagi harinya.
”Setelah dilakukan proses olah TKP, kita hentikan sementara. Pemilik ruko sudah berada di Polrestabes untuk dimintai keterangan,” kata Kapolrestabes, Kombes Pol Rusdi Hartono di lokasi kejadian.
Rusdi belum bisa menjelaskan lebih jauh dan terperinci terkait insiden ini. Namun kuat dugaan ledakan dipicu gas elpiji.
”Dari hasil olah TKP, dugaan sementara ledakan dipicu gas elpiji. Kami masih terus mendalaminya,” tandas Rusdi.
Dari pantauan di sekitar lokasi kejadian, serpihan kaca berserakan sejauh 200 meter. Bahkan terlihat di lorong-lorong. Demikian pula daun pintu ruko yang menjadi sumber ledakan, terlempar sejauh 200 meter dan ditemukan di Jalan Veteran Selatan. Padahal beratnya sektar 50 kg. Beruntung tidak menimbulkan korban. Diperkirakan, getaran akibat ledakan ini dirasakan hingga 3 km jauhnya.
”Untung tidak ada pengendara atau warga yang tertimpa saat pintu itu terlempar dan jatuh. Pintu yang jatuh di Jalan Veteran Selatan itu langsung kami amankan,” ujar Risal, ketua RT setempat.
Pemilik ruko nomor 14 itu diketahui mengontrakkannya kepada perempuan bernama Nelli. Ia menjual gas elpiji isi 3 kilogram.
Api yang membakar ruko ini, kemudian merembet ke ruko 14B yang ada di sebelahnya. Ruko tersebut milik H Amir. Ruko nomor 21 dan rumah nomor 12 yang berada di sampingnya ruko sumber ledakan, mengalami kerusakan parah.
Selain itu, ada sedikitnya ada pula 20 unit rumah warga yang mengalami kerusakan. Seperti plafon, tembok dan atap serta kaca jendelanya pecah. Termasuk Wisma Budi juga mengalami kerusakan pada kaca dinding.
Ketua RW05/RT B Kelurahan Maricayya, Kecamatan Makassar memberikan kesaksian terkait ledakan di ruko dalam wilayahnya. Menurutnya, pemilik usaha di ruko tersebut sangat tertutup dan tak pernah bersosialisasi dengan masyarakat setempat.
”Yang tempati ruko bukan pemiliknya, tapi dikontrakkan. Sudah sekitar empat bulan dia mengontrak. Namun sampai sekarang dia tidak pernah datang melapor,” jelas H Ucu, panggilan akrab Ketua RW.
Saat kejadian, dia mengaku kaget dan terkejut. Apalagi ketika ledakan terjadi, plafon rumahnya ada yang runtuh.
H Ucu kemudian berusaha mencari tahu penyebab kejadian tersebut. Ternyata dari sebuah ruko yang selama ini diketahui menyimpan tabung gas di dalamnya.
Pemilik ruko tersebut, kata H Ucu, bernama Saldi. Ia berdomisili di Jalan Gunung Merapi. Setahunya, ruko tersebut sudah tiga kali berganti pengontrak. ”Orang yang mengontrak terakhir ini sangat tertutup,” ujarnya.
Ia menduga kalau ledakan dipicu dari aktivitas pengoplosan gas elpiji, dari isi 3 kg ke tabung 12 kg. Namun, H Ucu tetap menunggu kepastian dari pihak kepolisian terkait penyebab ledakan. (ish/rus)
Hiswana Migas:
Bukan Pangkalan Elpiji
KETUA DPD VII Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas), H Hasbidin menegaskan, rumah toko (ruko) penjual elpiji yang meledak di Jalan Harimau, bukanlah pangkalan. Tapi yang bersangkutan adalah pengecer yang menjadi pengepol elpiji dalam jumlah banyak.
”Yang bersangkutan ada armada pick up sebanyak tiga unit untuk mengirim atau menerima. Dari informasi dari warga di sekitarnya, yang bersangkutan belum lama beroperasi sebagai penjual elpiji. Dia cenderung tertutup ke warga dan RW setempat,” kata Hasbidin.
Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan mencegah terjadinya penimbunan, kata Hasbidin, diharapkan kepada seluruh agen serta pangkalan resmi supaya lebih selektif menyalurkan tabung elpiji.
”Kalau sudah terjadi hal seperti ini tentu akan merugikan masyarakat sekitarnya dan membahayakan jiwa orang lain,” tandas Hasbidin. (mir)
