ORANG TUA boleh petani, tapi prestasi harus tetap terukir. Berasal dari pelosok pedesaan tak boleh jadi penghalang.
Laporan: Agus Burhan
RESKIA Hairun Nisa berasal dari keluarga petani. Orang tuanya tinggal di Desa Parombean, Kecamatan Curio, Kabupaten Enrekang.
Namun, kini dia menimba ilmu di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Gandangbatu Salubarani, Tana Toraja kelas 9, atau kelas 3. Ia memilih sekolah ini, karena gadis yang karib disapa Kia itu ikut tantenya.
Kia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, buah pernikahan Muslimin dan Musriani. Prestasi akademiknya di sekolah tergolong mumpuni. Ia tercatat sebagai pemegang ranking tiga di kelasnya.
Dari keseluruhan mata pelajaran yang ada, Kia cukup menonjol di biologi. Karenanya, diapun dipercaya mewakili sekolahnya untuk mengikuti Kompetisi Sains Madrasah (KSM) se-Sulawesi Selatan tahun 2016.
Di Salubarani, Kia tinggal bersama tantenya, Sumarni yang juga seorang guru. Sementara pamannya, Amir berprofesi sebagai wiraswasta.
Ditemui di sekolahnya, Kia menuturkan, ia memutuskan bersekolah di Salubarani meskipun harus menumpang di rumah tantenya. Ada beberapa yang menjadi faktor penyebab.
Di kampungnya, Parombean sekolah lanjutan setingkat SMP atau MTsN jaraknya sangat jauh. Sementara untuk bisa sampai ia harus berjalan kaki karena keterbatasan biaya. Ayahnya yang seorang petani biasanya nyambi sebagai honorer di kantor desa. Penghasilannya pun pas-pasan.
”Kalau ibu tidak punya pekerjaan. Sementara saudara saya juga bersekolah. Jadi saya memutuskan ikut tante,” ujar Kia.
Tante Kia, Sumarni yang ditemui di kediamannya, perbatasan Salubarani, Tator dengan Rura, Kabupaten Enrekang, mengakui kalau ponakannya, Kia memang rajin belajar. ”Setiap hari selalu belajar setelah pulang sekolah. Jika ada pelajaran yang kurang jelas, dia tidak sungkan dan malu untuk bertanya,” kata Sumarni.
Di waktu luang, sambung Sumarni, Kia sesekali ikut main bulutangkis bersama rekannya. Itupun ia lakukan setelah tugas-tugas sekolahnya selesai.
Diakui Sumarni, saat Kia mengikuti lomba KSM di Makassar bersama rekannya dari mata pelajaran lain, langkahnya harus terhenti di tingkat provinsi. Sebab lawan dari kabupaten lain sangat tangguh dan lebih menguasai materi.
Meskipun belum meraih juara KSM di provinsi, kesempatan bagi Kia untuk mewakili sekolahnya pada lomba serupa masih terbuka lebar. (*/rus/c)
