MAKASSAR, BKM — Satu lagi bukti ketidakmampuan ekonomi orang tua menjadi penyebab lahirnya bayi dalam kondisi tidak normal. Seorang bayi mungil terlahir dengan satu badan, dua kepala, tiga lengan dan dua kaki.
Bayi malang berjenis kelamin perempuan itu telah diberi nama Nurjannah. Hingga kemarin iamenjalani perawatan intensif di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) lantai I gedung perawatan Lontara Rumah Sakit Umum Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Nurjannah terlahir dari rahim ibunya bernama Fitriani melalui operasi cesar, Rabu (14/9). Beratnya 3.470 gram dengan panjang 42 sentimeter.
Heri Yasmin, bapak Nurjannah menuturkan, ia tak pernah menyangka bayinya akan lahir dengan kondisi seperti ini. Sebab ketika hamil, ibunya tidak merasakan adanya kelainan pada kandungannya.
Ketika lahir, Heri Yasmin mendapat lengan anaknya ada dua. Namun setelah diperiksa lebih teliti lagi, ternyata ada satu lagi yang muncul dari lengan sebelah kiri.
Dia menceritakan, sejak istrinya hamil, mulai bulan pertama hingga kelima, tak ada kelainan apapun di kandungannya. Hanya saja, Fitriani jarang mengkonsumsi makanan bergizi.
Maklum, Heri hanya bekerja serabutan. Sementara istrinya ibu rumah tangga biasa. Enam tahun tinggal di Makassar, warga Bulukumba yang berdomisili di Kecamatan Tamalanrea ini tinggal menumpang.
Keluarga ini tercatat sebagai peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Dengan modal Jamkesda inilah Fitriani biasanya memeriksakan diri ke Puskesmas Tamalanrea.
”Memasuki usia kandungannya enam hingga tujuh bulan, Fitriani melakukan pemeriksaan USG (Ultrasonografi). Hasilnya, petugas medis menyampaikan ada kelainan di kandungan istri saya,” ujar Heri, kemarin.
Mendapat informasi seperti itu, pihak keluarga kemudian bersepakat untuk kembali melakukan pemeriksaan. Hasilnya, lagi-lagi didapati adanya kelainan. Hanya saja kelainan itu tak dijelaskan lebih rinci, karena jabang bayi masih ada dalam kandungan.
”Memasuki bulan ke depan, istri saya bawa ke Rumah Sakit Ibnu Sina. Tapi karena harus dilakukan operasi cesar, istri saya kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin. Pada hari Rabu (14/9), istri saya dioperasi cesar,” terang Heri.
Setelah lahir, bayinya langsung dibantu dengan alat pernafasan. Namun hanya satu yang diperlakukan seperti itu. Satu lainnya hanya menggunakan alat bantu pernafasan manual.
Hingga saat ini belum dilakukan tindakan operasi terhadap keduanya. Masih menunggu perawatan selama sebulan.
”Belum ada rencana untuk operasi. Selama sebulan ke depan masih dilakukan perawatan hingga kondisinya membaik,” jelas Heri lagi.
Staf Humas RS Wahidin, Mapri yang mendampingi ibu bayi selama dirawat, mengatakan sejauh ini Fitrini masih syok setelah mengetahui bayinya lahir dalam kondisi tak normal.
”Dia (Fitriani) masih enggan bicara. Ia kerap pingsan setelah melihat kondisi bayinya. Begitu juga dengan neneknya, langsung pingsan setelah menyaksikan bayinya saat diangkat setelah operasi cesar,” jelas Mapri.
Terpisah, dr Ilham Hamsah, Humas RS Wahidin Sudirohusodo menjelaskan, operasi cesar dipimpin ahli kandungan dr Effendi Lukas,SpOG. Bayi selanjutnya mendapat perawatan penanganan intensif di ruang NICU.
”Operasi cesar berlangsung lancar. Hanya saja kondisi bayinya memiliki satu badan dengan kepala kembar. Biasa orang bilang kembar siam,” terang dr Ilham Hamsah.
Ketika lahir, tambah dr Ilham, bayi mengalami gangguan pernafasan. Tim kemudian melakukan resusitasi atau tindakan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan fungsi jantung dengan memberikan batuan alat pernafasan. Saat ini bayi Nurjannah dalam Dokter Penanggungjawab Pasien (DPJP), dr Ema Alasiry,SpA. (ish/rus)
Bayi Berkepala Dua Lahir dari Keluarga tak Mampu
