MAKASSAR, BKM — Kelangkaan elpiji isi 3 kilogram kini terjadi pada beberapa wilayah di Kota Makassar. Diantaranya Kecamatan Manggala, Makassar, Rappocini dan Mamajang.
Konsumen begitu kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar untuk memasak ini. Mereka harus berkeliling mencarinya. Bahkan seorang warga yang bermukim di Jalan Landak baru bisa mendapatkan elpiji 3 kg di wilayah Toddopuli.
Sebelumnya, ia berusaha mencari di sekitar tempat tinggalnya. Namun sejumlah pengecer yang bisa ditempatinya membeli, mengaku beberapa hari terakhir belum mendapat pasokan sehingga kehabisan stok.
Pencarianpun dilanjutkan di Jalan Landak Baru, Mamajang hingga Jalan Alauddin. Tapi elpiji 3 kg tak jua diperoleh. Barulah ketika di Toddopuli, ‘si melon’ yang masih terisi elpiji bisa didapatkan.
Kelangkaan ini terkonfirmasi ketika BKM menghubungi General Manager (GM) Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VII Sulawesi, Tengku Badarsyah. Ia mengatakan, hal ini sebagai dampak terjadinya peningkatan konsumsi elpiji jelang dan pascalebaran Idul Adha.
”Jadi tidak ada pengurangan penyaluran elpiji 3 kilogram. Yang terjadi adalah adanya peningkatan kegiatan rumah tangga jelang dan sesudah lebaran Idul Adha,” ujar Tengku melalui telepon selular, kemarin.
Tengku juga membantah kalau kelangkaan ini sebagai dampak pemberian sanksi kepada agen yang menjual elpiji kepada para pengecer yang tidak bertanggung jawab. Apalagi sampai dikaitkan dengan praktik pengoplosan gas elpiji hingga menyebabkan ledakan pada sebuah ruko di Jalan Harimau, baru-baru ini.
”Tidak ada kaitannya, Pak. Kami tidak mengurangi penyaluran elpiji 3 kilogram. Kami akan adakan operasi pasar dalam beberapa hari ke depan di beberapa kota di Sulsel,” janji Tengku.
Tentang adanya beberapa agen yang kena sanksi lantaran tidak menyerahkan data konsumennya yang dibuktikan dengan foto copy KTP, Tengku Badarsyah enggan mengomentarinya. Begitu pula tentang jumlah suplai elpiji setiap hari ke wilayah Makassar dan asumsi kenaikan konsumsi jelang dan setelah lebaran Idul Adha. ”Kalau untuk detailnya, tanyakan ke manajer Domgas, Pak,” ujarnya.
Dihubungi terpisah, Ketua DPD VII Hiswana Migas Sulawesi, H Hasbidin, menjelaskan kelangkaan biasanya terjadi karena adanya peningkatan permintaan jelang lebaran Idul Adha. Selain itu, banyak hajatan pascaIdul Adha.
”Tidak ada pengurangan alokasi ataupun pendistribusian yang ditahan. Untuk antisipasi sudah direncanakan extra dropping. Wilayah lainnya juga sama, ada tambahan. Saya belum dapat info ada kelangkaan. Sepertinya tidak, karena penyaluran masih seperti biasa. Sebenarnya tidak ada pengurangan suplai elpiji 3 kilogram,” terangnya. Dia menyebutkan, untuk kemarin, Jumat (16/9) extra dropping untuk Makassar sebanyak 29.120 tabung. ”Kami bersama Pertamina akan melakukan operasi pasar di wilayah-wilayah yang mengalami kelangkaan elpiji 3 kilogram ini,” jelasnya.
Dalam penyaluran elpiji ini, menurut Hasbidin, sebenarnya bukan masalah penambahan agen atau tidak. Tapi yang terpenting sebenarnya adalah pengawasan di tingkat pengecer yang perlu dibuatkan aturan jelas.
”Karena pelaku bisnis ilegal biasanya memanfaatkan dengan membeli tabung di pengecer. Kalau agen sangat diawasi Pertamina, pangkalan diawasi agen dan masing-masing ada sanksi yang tegas dari Pertamina.Yang jadi masalah adalah fungsi pengawasan di tingkat pengecer. Siapa yang melakukannya,” kata Hasbidin dengan nada tanya.
Di kota Makassar saat ini terdapat 22 agen dengan jumlah pangkalan 1.000 lebih. Keberadaan pangkalan ini sebenarnya dimaksudkan agar distribusi penyaluran elpiji dapat terjangkau lebih dekat ke konsumen.
”Kalau izin agen dari Pertamina. Sedangkan izin pangkalan dari agen. Fungsi pangkalan sebenarnya agar distribusi penyaluran dapat terjangkau lebih dekat dengan konsumen. Yang perlu sebenarnya diawasi adalah surat keterangan usaha dari lurah, sekalian dengan fungsi pengawasannya. Karena dasar ini untuk dijadikan pangkalan oleh agen,” jelas Hasbidin.
Sementara itu, salah seorang agen yang enggan disebutkan namanya menjelaskan, sejak beberapa waktu lalu pihak Pertamina MOR VII Sulawesi telah mengeluarkan aturan yang mengharuskan masing-masing pangkalan menyerahkan data konsumennya berupa copian KTP atau kartu identitas lainnya kepada agen secara periodik.
”Jadi, ketika agen itu tidak bisa mengkoordinar pangkalannya untuk menyerahkan copian bukti diri para pelanggannya, maka selama beberapa hari jatah elpijinya dihentikan,” tuturnya. (mir)
Dua Minggu
tak Dipasok Agen
DARI pemantauan BKM di beberapa titik penjualan di wilayah kota Makassar, seperti di Kecamatan Manggala, Panakkukang, Mamajang, dan Kecamatan Makassar, banyak warga harus menempuh jarak cukup jauh hanya untuk mendapatkan gas elpiji kemasan tiga kilogram. Itupun hanya didapatkan di pangkalan. Sedangkan di beberapa toko pengecer, stok elpiji tiga kilogram ini sudah habis. Kalaupun ada yang menjual, harganya sudah dinaikkan hingga mencapai Rp20 ribu per tabung.
”Saya beli elpiji ini Rp20 ribu. Padahal, biasanya hanya Rp15 ribu sampai Rp16 ribu per tabung. Meski mahal, kami terpaksa beli karena untuk keperluan memasak di rumah. Kami berharap Pertamina tidak berdiam diri dengan penderitaan kami konsumen elpiji tiga kilogram,” kata salah seorang konsumen yang ditemui BKM di sekitar Jalan Toddopuli usai membeli elpiji di salah satu toko pengecer pada Kamis malam (15/9).
Kelangkaan pasokan elpiji 3 kilogram juga dialami Hj Suhaini, salah satu pangkalan elpiji di Jalan Ratulangi, Kelurahan Mario, Kecamatan Mariso. Ketika ditemui BKM di tempat usahanya, kemarin, Suhaini mengatakan, kelangkaan pasokan ini sudah dirasakan sejak dua minggu terakhir.
”Saya sudah menunggu selama dua minggu ini, tapi sampai sekarang agen Pertamina yang biasa mengantarkan ke tempat saya tidak datang. Saya tiap hari menelepon ke agen tapi hanya selalu dijawab akan diusahakan,” terangnya.
Selain itu, jatah elpiji tabung 3 kg untuk juga dikurangi. ”Kemarin sebelum Idul Adha, saya mendapatkan elpiji tiga kilogram ini bukan dari agen yang biasa mengantarkan. Harga yang diberikan kepada saya lebih mahal dibandingkan harga dari agen. Jadi otomatis saya juga menjual agak lebih mahal dari harga sebelumnya. Mau apalagi,” cetusnya.
Sebenarnya, Hj Suhaini mengaku kasihan kepada pelanggannya yang sudah berkali-kali dijanjinya. Karena ia hanya mendapatkan pasokan 10 tabung.
”Biasanya kalau dari agen saya mendapat jatah hingga 30 tabung. Terakhir Kamis kemarin saya telepon ke kantor agen tapi tidak ada lagi jawaban,” tuturnya. (mir-ppl)
