MAKASSAR, BKM– Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD) Kota Makassar, Indira Mulyasari Paramastuti mengaku kecewa dengan perilaku perawat salah satu rumah sakit bersalin, Rumah Sakit Ibu dan Anak Pertiwi besutan Pemprov Sulsel.
Indira mengaku mendapat perlakuan tidak mengenakan saat berkunjung ke RS Pertiwi yang berada di Jalan Sudirman.
Indira menceritakan, kejadian itu terjadi saat ia berkunjung ke RS Pertiwi untuk menjenguk konstituen Selasa (20/9) lalu. Pasien yang bernama Irawaty (warga Kelurahan Panambungang) yang dirawat di rumah sakit tersebut terkendala biaya sehingga pihak rumah sakit menahan bayi Irawaty selama empat hari dalam inkubator.
“Saya kesana langsung bertemu ibunya si bayi, saya mendapat kabar kalau bayinya itu sudah empat hari dimasukkan dalam inkubator tanpa adanya konfirmasi dari pihak rumah sakit,” ujar Legislator DPRD Kota Makassar, Indira Mulyasari Paramastuti, Rabu (21/9).
Setelah menanyakan hal tersebut kepada Ibu bayi yang tertahan, Indira menuju ke ruang inkubator, katanya untuk melihat kondisi bayi Irawaty. Namun, setelah menuju ruangan tersebut, salah satu pelayan rumah sakit (Suster) menegur dengan jawaban yang menurutnya sangat kasar.
“Saya tanya ke suster yang jaga disitu, kenapa anak yang di ujung sana dimasukkan ke inkubator, tapi Perawat itu malah balik bertanya, ibu siapa? Saya jawab, saya yang mau bantu persoalan pembayarannya. Suster itu langsung menjawab saya dengan nada keras, turun mi ki saja di bawah, kalau tidak bisa bayar, biarkan saja disitu bayinya (di dalam Inkubator),” ungkapnya.
Mendapati pelayanan yang kurang bersahabat di RSIA Pertiwi tersebut, ia mengatakan, seharusnya pelayanan rumah sakit yang memberikan pelayanan publik, wajib memberikan pelayanan yang baik dan tidak membeda-bedakan antara satu sama lainnya. Indira berharap, pihak Rumah Sakit bisa memberikan respon yang postif bagi para pasien.
“Alhamdulillah, kemarin kita sudah membantu ibu itu, dan saat itu juga dia keluar dari rumah sakit membawa anaknya. Harusnya pihak Rumah Sakit Pertiwi berbicara baik-baik. Meski yang kita tahu karakter orang berbeda-beda, tapi ini kan pelayanan publik, dia harus bisa melayani dengan baik,” pungkasnya.
Menanggapi itu anggota Komisi D Bidang Pendidikan dan Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) DPRD Makassar, Shinta Molina Mhasita mengaku prihatin dengan pelayanan RS saat ini, dimana tidak lagi mengedepankan kemanusiaan tetapi lebih pada profil atau motif mencari untung.
“kejadian seperti ini bukan kali pertama terjadi. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat kurang mampu tidak boleh dibeda-bedakan. Apalagi ini terjadi di rumah sakit negeri yang mendapat suntikan anggaran dari APBD yang juga berasal dari uang rakyat “kata anggota fraksi Hanura itu.
Olehnya itu, menurutnya Pemprov sebagai pengelola langsung RS Pertiwi harus turun meninjau, sebab dikwatirkan ada banyak ibu-ibu lainnya yang mendapat perlakuan dan pelayanan buruk dari RS tetapi tidak terpublis.” bagaimana dengan pasien dengan ekonomi lemah lainnya, yang tidak terjangkau oleh dewan, kasian “keluhnya.(ita)
Tak Ada Biaya, RS Pertiwi Tahan Bayi di Inkubator
