MAKASSAR, BKM — Sudah menjadi rahasia umum, uang panai alias mahar dalam budaya Bugis-Makassar terkadang jadi momok bagi kaum pria. Salah satu yang menjadi penyebabnya, jumlahnya yang terbilang fastastis.
Tidak jarang, sebuah rencana baik nan mulia untuk menyatukan dua insan dalam sebuah mahligai rumah tangga, harus kandas hanya karena sang pria tak mampu memenuhi permintaan uang panai yang diminta. Seperti dialami Ari yang tega menganiaya pacarnya sendiri, Apriani karena diminta untuk datang melamar, sementara uang maharnya belum cukup (baca BKM edisi, Rabu (21/9).
Budayawan dari Universitas Hasanuddin, Prof Dr Nurul Ilmi Idrus menuturkan, budaya uang panai di tengah masyarakat Bugis-Makassar memang selalu menjadi perbincangan hangat. Khususnya pasangan muda-mudi yang ingin melangsungkan pernikahan.
Yang ekstrim biasa terjadi, sepasang kekasih nekat silariang (kawin lari) karena tak mampu menebus uang mahar, selain juga tak adanya restu keluarga.
”Memang, pada zaman dulu seseorang ditolak karena bukan bangsawan atau keluarga parakang (manusia jadi-jadian). Tapi dengan perkembangan zaman, uang panai itu bisa diakali. Dalam bahasa Bugis; irita menre tenrita no (dilihat naik tidak dilihat turun). Maksudnya, uang belanja disaksikan dibawa, tapi tidak dilihat dibelanjakan,” terang Prof Ilmi yang ditemui di kampus Unhas, Rabu (21/9).
Ilmi tak memungkiri adanya dampak negatif yang cukup besar dari praktik uang panai ini. Selain kawin lari, ada juga yang nekat bunuh diri, bertengkar, hamil di luar nikah hingga timbul keputusasaan yang berkepanjangan.
”Jika sudah berbicara uang panai, orang-orang akan heboh dan gempar soal jumlahnya. Orang luar Sulawesi sudah mengenal budaya ini dan mengaitkannya dengan harga seorang wanita Sulawesi,” terang Prof Ilmi.
Sebenarnya, tambah wanita berkacamata ini, uang panai sejatinya merupakan cara leluhur orang Bugis-Makassar untuk meninggikan posisi seorang wanita. Dengan uang panai, yang semacam uang penebus itu, orang tua tidak serta merta melepaskan anak gadisnya begitu saja. Pria yang hendak meminangnya haruslah yang tangguh dan sanggup menjamin kehidupan si anak gadis.
Akan tetapi, waktu mengubah esensi uang panai. Orang Bugis-Makassar, yang disebut Prof Ilmi memang punya gengsi tinggi, kemudian menjadikan uang panai sebagai etalase gengsi mereka.
”Anak gadis dengan status sosial tinggi, berdarah biru, berpendidikan tinggi, apalagi disempurnakan dengan gelar hajjah, takkan bisa ditebus dengan uang panai di bawah angka Rp50 juta. Gengsi dong. Masak anak orang kaya, bangsawan, sarjana dan hajjah uang panainya hanya 20 juta. Apa kata keluarga besar dan tetangga? Begitulah pikiran orang tua yang menjaga ketat gengsi mereka,” terang profesor yang kerap tampil dengan dandanan khasnya ini.
Karena itu, berubahlah uang panai menjadi semacam syarat yang membebani pria muda dari keluarga tak berpunya. Uang panai juga membebani wanita muda dari keluarga berpunya, yang terlanjur menyerahkan hatinya pada pria idaman dari status sosial yang berbeda. ”Cinta bisa rontok seketika hanya karena nilai rupiah,” cetusnya.
Prof Ilmi kemudian mencontohkan kasus Ari dan kekasihnya Aprini yang terjadi, Selasa (21/9) dinihari lalu. Menurutnya, tindak kekerasan yang terjadi gegara uang panai itu bukan satu-satunya yang terjadi di daerah ini.
Banyak sekali pasangan yang senasib dengan keduanya. Perjalanan cintanya harus kandas di tengah jalan karena tak sang pria tak punya uang cukup untuk dijadikan mahar. Ditambah lagi orang tua wanita memasang standar tinggi yang disesuaikan dengan kurs rupiah, harga bahan pokok dan tentu saja status sosial.
“Bisa saja uang lelaki tak cukup lalu ditambahkan oleh mempelai perempuan, jika ingin menyatukan kedua calon mempelai. Tapi itu jarang terjadi. Banyak kasus yang muncul, menolak lamaran dengan cara memasang panai yang tinggi. Akibatnya, kawin lari menjadi jalan terakhir,” bebernya.
Berangkat dari fenomena ini, Prof Ilmi yang berasal dari Kabupaten Bone, secara pribadi merasa tidak bangga hidup dan berada dalam budaya seperti ini. Meskipun dalam kenyataannya, ia meneliti lalu kemudian harus rela menjadi penonton setia. Sebab ini adalah budaya yang sudah mengakar. Budaya yang makin meninggalkan nilai kesucian pernikahan.
“Saya berharap orang-orang akan sadar jika ini tidak boleh terus didiamkan. Kepada tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan khususnya pemerintah, mestinya segera memberikan solusi. Mungkin alangkah baiknya ada tindakan riil dari pemerintah untuk memberikan solusi dari fenomena ini. Mungkin sudah sebaiknya soal uang panai dibuatkan rambu-rambu. Selain karena dapat menimbulkan kesenjangan sosial, praktik uang panai dengan alasan gengsi, semakin tidak relevan budaya modern seperti sekarang,” tandasnya.
Terpisah, psikolog yang juga dosen psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), Widyastuti mengatakan, ada begitu banyak masalah yang ditimbulkan dari praktik uang panai.
”Seandainya diinisiasi oleh kedua keluarga, antara orang tua laki-laki dan perempuan, saya kira tidak akan terjadi kekerasan. Utamanya dalam pembahasan uang panai. Jika pasangan itu betul-betul saling mencintai, perlu adanya inisiasi dari kedua belah pihak guna mencari solusi yang tepat,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (21/9).
Menurut psikolog berdarah Jawa ini, walaupun tidak mengetahui secara pasti tentang budaya uang panai, namun ia sudah sering menemukan masalah pasangan kekasih yang terkendala dengan uang panai untuk meresmikan cinta mereka.
“Saya memang orang Jawa, tapi saya sudah lama menetap dan mengajar disini. Sudah begitu banyak pasangan, utamanya laki-laki mempersoalkan harga uang panai. Tapi saya percaya, yang namanya niat baik perlu dikomunikasikan dan ada penyelesaiannya,” jelasnya.
Adanya gangguan psikolog akibat desakan uang panai, tambah Widya, bisa saja terjadi tidak hanya dari pihak laki-laki, tapi juga perempuan. Gangguan pada pihak laki-laki bisa disebabkan oleh banyak faktor. Pertama dari sisi ekonomi yang kurang mampu untuk memberikan mahar ke mempelai wanita. Kedua, dari segi sosial yang mempengaruhi, Ketiga, faktor lingkungan turut jadi masalah.
“Jadi kita tidak bisa menjudge seorang laki-laki, sebab begitu banyak gangguan emosi ketika laki-laki didesak. Mungkin butuh kesabaran. Sebab faktor yang mempengaruhinya pun cukup banyak,” bebernya.
Begitupun juga yang terjadi pada pihak wanita, yang begitu tertekan akibat di sekitarnya atau bahkan teman-temannya yang sudah menikah dan bertambahnya umur. Dia takut akan bertambah tua, sehingga ada desakan ke pasangannya untuk cepat meminangnya.
“Bisa saja sang wanita tertekan dengan pertanyaan keluarga dan orang sekitarnya, kapan nikah? Nepat nikah, nanti jadi perawan tua. Nah, itu kembali lagi ke lingkungannya. Sebab faktor lingkungan dan teman-teman biasa membuatnya tertekan,” ucapnya. (ita/rus)
Uang Panai Perlu Dibuatkan Rambu
