Site icon Berita Kota Makassar

Syahrul: Cari yang Bertanggung Jawab

Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan

DITEMUI di kantornya, Senin (26/9) pukul 14.00 Wita, Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengaku belum mendengar adanya aksi pembakaran kantor DPRD Gowa. “Saya belum dengar. Laporan ke saya belum ada,” kata Syahrul siang kemarin.
Dia mengaku laporan yang masuk kepadanya adalah aksi demonstrasi biasa. Ada bakar-bakar ban.
Namun, ketika wartawan menginformasikan jika pembakaran tersebut benar terjadi, Syahrul dengan muka terkejut berujar; “Gedungnya dibakar?”
Diapun menegaskan, jika memang gedung pemerintah dibakar, tak terkecuali gedung DPRD, harus diusut tuntas. Pelakunya harus dicari. Dia meminta aparat keamanan bekerja maksimal untuk mencari pelakunya dan menelusuri peristiwa ini.
“Tentu ada yang bertanggungjawablah. Itulah yang harus dicari,” tegasnya.
Namun, dia tak mau memberi komentar yang lebih jauh lagi karena belum ada laporan resmi yang diperolehnya.
Kepada pihak-pihak yang bertikai di Kabupaten Gowa, dia berharap masing-masing bisa mengendalikan diri dan tenang serta tidak melakukan aksi-aksi tambahan yang bisa semakin memperkeruh keadaan.
“Saya tak mau komentar terlalu banyak, karena belum tahu jelas masalahnya seperti apa. Jangan sampai berlebihan saya punya tanggapan,” pungkasnya.
Tokoh masyarakat Gowa yang juga mantan anggota DPRD Sulsel, H Mapparessa Tutu mengutuk aksi pembakaran asset milik pemerintah gedung DPRD Gowa.
Menurut H Tutu -panggilan akrab Mapparessa Tutu- pembakaran tersebut sangat sarat dengan politik. Untuk itu, ia meminta semua pihak untuk menahan diri dan menyerahkan ke aparat untuk mengusut pelaku pembakaran.
“Bagi pihak yang saling berselisih agar dapat menahan diri dan menyerahkan kepada proses hukum yang ada,” jelas H Tutu yang juga Ketua Yayasan Mesjid Agung Syekh Yusuf ini.
Hal senada dilontarkan tokoh pemuda Gowa, Sjafriadi Jaenab Dg Mangka. Dia juga mengutuk aksi pembakaran gedung wakil rakyat.
Sjafriadi yang juga Direktur Koalisi LSM Makar Sulsel, menilai pembakaran gedung milik rakyat merupakan aksi separatisme. “Untuk itu, kami mengutuk aksi pembakaran karena gedung itu dibangun dari uang rakyat Gowa, bukan bersumber dari kabupaten lain,” cetus Sjafriadi, kemarin.
LSM Makar yang merupakan konsorsium tujuh LSM di dalamnya, juga meminta aparat kepolisian untuk mengambil pelaku perusakan hingga pembakaran. “Tidak sulitji menangkap pelakunya, karena aksi tersebut hanya melibatkan massa yang tidak begitu banyak, sekitar seratusan orang. Jika pelakunya tidak ditangkap, maka kami juga akan menggerakkan massa untuk mendesak aparat,” janji Dg Mangka, sapaan akrab Sjafriadi. (rhm-rif/rus)

Exit mobile version