Site icon Berita Kota Makassar

Ada Anak-anak Pelaku Pembakaran

MAKASSAR, BKM — Penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel berhasil mengungkap pelaku pembakaran gedung DPRD Gowa melalui rekaman CCTV (Closed Circuit Television). Identitas para pelaku telah dikantongi untuk selanjutnya dilakukan penangkapan.
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan dalam keterangan persnya di Mapolda, Selasa siang (27/9) menyebutkan, pelaku penyerangan dan pembakaran kantor wakil rakyat Gowa itu diketahui berjumlah tiga orang.
”Dari rekaman CCTV, kami sudah mengetahui identitas pelaku, mulai dari wajahnya, gelagatnya saat beraksi hingga melakukan pembakaran. Pelaku terlihat membawa ban bekas, bensin dan petasan. Mereka masuk ke dalam gedung lalu melakukan pembakaran,” jelas Anton.
Saat memberi keterangan pers, Anton didampingi Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Ketua DPRD Gowa, Ansar Zaenal Beta serta beberapa legislator Gowa.
Lebih jauh Anton memaparkan, saat beraksi, pelaku yang terlihat dan terekam kamera CCTV berjumlah tiga orang. Mereka berbagi tugas. Ada yang mengambil kursi lalu menyusunnya. Ada juga yang mengambil gorden untuk dipakai menyulut api. Sementara satu lainnya bertindak selaku eksekutor melakukan pembakaran.
”Jadi ada tiga pelaku yang jelas-jelas tertangkap CCTV saat beraksi. Satu orang melakukan pembakaran, sementara dua lainnya ikut membantu. Ada yang menyusun kursi, ada juga mengambil gorden. Selanjutnya, satu orang eksekutor melakukan pembakaran,” jelas Anton.
Sebenarnya, menurut Kapolda, mereka yang beraksi di gedung DPRD Gowa lebih dari 10 orang. Namun yang terekam kamera hanya tiga orang tersebut.
”Kalau di dalam gedung, ada tiga orang. Masih ada rekannya yang lain di luar. Jumlahnya lebih enam orang,” tambah Kapolda.
Setelah menelisik hasil rekaman CCTV, pada Selasa malam (27/9), dilakukan penggerebekan untuk menangkap pelaku. Namun ketiganya tidak berada di lokasi yang disasar polisi.
”Tengah malam pukul 00.00 Wita, telah dilakukan penggerebekan yang disebutkan sebagai tempat pelaku berada. Namun mereka tidak ditemukan hingga saat ini. Anggota masih melakukan pengejaran. Insya Allah pelaku akan segera tertangkap,” terang Anton.
Karena itu, Kapolda meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi. Harus bersinergi dengan pihak kepolisian dalam mengusut kasus ini hingga tuntas.
”Orang Bugis-Makassar itu gentleman. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Untuk itu, jika pelaku memang orang Bugis-Makassar, kami beri tenggat waktu 3×24 jam untuk segera menyerahkan diri. Kepada pihak keluarga, agar membantu polisi dengan meminta yang bersangkutan untuk menyerahkan diri,” tegas Anton.
Menurut Anton, target utama provokator adalah memancing di air keruh agar terjadi perpecahan dan perang saudara di Gowa, yang melibatkan pemerintah daerah dengan keturunan kerajaan Gowa. Karenanya, warga diminta untuk menahan diri dan tidak membiarkan para provokator bertepuk tangan penuh kemenangan setelah melihat terjadinya pertikaian.
Sebelumnya, kepada wartawan ketika menghadiri acara di Maccini Sombala of Infonesia (MoI), kemarin, Anton menjelaskan, tim yang dibentuk telah menyebar ke tempat-tempat yang kemungkinan digunakan pelaku untuk bersembunyi.
Jejak terakhir, pelaku masih berada di Kabupaten Gowa. Namun itu pantauan malam setelah kejadian. Sebelumnya, para tersangka sempat terdeteksi melalui telepon selulernya . Namun pukul 19.00 Wita, ponselnya sudah tidak aktif sehingga tidak bisa terlacak.
Sempat beredar jika ada 12 orang pelaku yang diamankan polisi malam setelah kejadian. Namun hal itu dibantah Kapolda. Dia mengatakan orang yang diamankan itu adalah pemuda yang kedapatan mabuk-mabukan.
Masih berdasarkan pantauan CCTV, Anton mengatakan, pelaku yang terdeteksi ada yang masih anak-anak. Namun, Kapolda tidak merinci lebih jauh.
Sebenarnya, kata Anton, kasus yang melingkupi peristiwa ini cukup kompleks. Polda hanya menangani yang terkait hukum pidananya saja.
Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Frans Barung Mangera menambahkan, beberapa jam pascapembakaran gedung DPRD Gowa, tepatnya pukul 01.00 Wita, Rabu (28/9), polisi melakukan penangkapan terhadap tiga orang. Mereka tertangkap karena sedang mabuk .
”Untuk saat ini ketiganya masih dalam pemeriksaan. Belum bisa dipastikan apakah mereka terlibat dalam pembakaran gedung DPRD Gowa,” kata Frans yang tidak bersedia membeber identitas ketiganya.
Frans menerangkan, mereka yang tertangkap kamera mendatangi DPRD Gowa sebanyak delapan orang. Namun dari jumlah itu, tiga diantaranya bertindak selaku pelaku utama. Identitas mereka telah dikantongi.
”Kami pastikan pelaku akan tertangkap, cepat atau lambat. Kami yakin itu,” tandas Frans Barung.
Ketua DPRD Gowa, Ansar Zaenal Bate yang juga hadir dalam konferensi pers, kemarin mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya pengusutan kasus ini ke pihak kepolisian. Mereka yang terlibat harus diproses hukum.
”Kami berduka atas insiden pembakaran kantor DPRD Gowa. Kedatangan kami ke polda semata sebagai bentuk dukungan kepada polisi untuk mengusut kasus ini hingga tuntas,” kata Ansar.
Menurut Ansar, saat peristiwa tersebut terjadi, dirinya tidak berada di kantor dewan. Aksi massa juga tidak pernah diketahuinya, karena tak ada pemberitahuan yang masuk sesuai prosedur.
”Saat kejadian pukul 12.00 Wita, saya tidak berada di kantor. Saya ada di luar. Sebelumnya kami tidak pernah mendapat penyampaian akan adanya aksi unjuk rasa, sehingga tidak mengetahui kedatangan mereka,” terang Ansar.
Biasanya, menurut legislator Partai Golkar ini, jika sebelumnya ada pemberitahuan unjuk rasa, pihaknya mengusut anggota dewan untuk menerima aspirasi mereka.
”Tapi aksi unjuk rasa yang berlangsung kemarin, tidak pernah ada penyampaiannya yang masuk ke dewan, sehingga tidak ada yang melayani mereka,” cetusnya. (ish/rus)

Exit mobile version