BERBELANJA di pusat perbelanjaan ataupun toko pada malam hari, itu sudah lumrah dilakukan masyarakat Kota Makassar. Tapi membeli sepatu bekas di pinggir jalan, kini menjadi tren.
Laporan: Arif Alqadri
DALAM beberapa waktu terakhir, suasana pinggir jalan di sejumlah ruas jalan berbeda dengan sebelumnya. Tempat yang dulunya sepi, kini ramai. Seperti yang terlihat di Jalan Veteran Selatan, Toddopuli dan terakhir Jalan Hertasning.
Mereka adalah penjual dan pembeli sepatu bekas yang saling berinteraksi. Para penjual menggelar alas tikar seadanya, lalu menata aneka jenis sepatu di atasnya.
Pengendara sepeda motor yang lewat menyempatkan diri untuk singgah. Ada yang sekadar melihat-lihat siapa tahu ada yang cocok. Tapi tidak sedikit diantaranya langsung membeli sepatu bekas layak pakai tersebut.
Firmansyah, seorang penjual sepatu cakar di Jalan Toddopuli mengaku mendapat keuntungan dari usahanya. Pria kelahiran Makassar, 17 Mei 1985 itu mengaku baru dua minggu menggeluti usaha ini.
Setiap malam mulai pukul 18.00 Wita, Firman dan beberapa rekannya sudah mulai mempersiapkan barang dagangannya. Memasang tikar dengan ukuran lebar 2,5 meter dan panjang 3 meter did epan ruko yang sudah tertutup di Jalan Toddopuli, Firman memajang sepatu cakarnya.
Berbagai model, merek dan warna sepatu ditawarkan untuk segala usia, mulai dari anak anak, remaja hingga dewasa. Khusus untuk sepatu cakar laki-laki dewasa, Firman lebih banyak menawarkan sepatu boots kulit asli. Sementara bagi perempuan dewasa dia lebih banyak menawarkan sepatu sport.
Untuk harganya, dia menawarkan angka yang bervariasi, tergantung dari kualitas dan jenisnya. ”Untuk sepatu laki-laki, boots harganya mulai Rp80 ribu hingga Rp150 ribu. Sepatu sport untuk perempuan, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp70 ribu,” ujarnya.
Akhir-akhir ini, diakuinya penjual sepatu cakar sudah mulai ramai di pinggir jalan. Namun dia pantang menyerah dan terus bersaing. Karena Firman menawarkan sepatu cakar yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.
Dari bisnis yang digelutinya, Firman bisa membawa pulang Rp500 ribu dengan menjual lima sampai 10 pasang sepatu setiap harinya.
Menurut pria yang sudah memiliki dua orang anak itu, selain menjual sepatu cakar setiap malam di pinggir Jalan Toddopuli, dia juga berdagang pakaian cakar di Pasar Toddopuli. Ia berjualan di tempat itu setiap hari pukul 08.00 Wita hingga 16.00 Wita.
“Pagi sampai sore saya jual pakaian cakar di Pasar Toddopuli. Jam 5 sore saya pulang ke rumah. Kemudian berjualan sepatu di Jalan Toddopuli malam harinya,” terang Firman.
Diakui, keuntungan dan pendapatan setiap hari dari menjual sepatu di pinggir jalan jauh lebih baik dibanding berjualan pakaian bekas di Pasar Toddopuli. Karena dari penjualan pakaian bekas, dia hanya mampu membawa pulang paling besar Rp200 ribu setiap harinya.
”Memang lebih bagus jualan sepatu cakar. Tapi kan ini musiman dan hanya di malam hari. Ini juga cuman cari tambahan untuk biaya hidup,” ujarnya.
Hasil penjualan sepatu dan pakaian setiap hari dia kumpulkan untuk modal dan sewa tempat. Selebihnya ia sisihkan untuk biaya sekolah kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMA dan SD. (*/rus)
