MAKASSAR, BKM — Sebagai garda terdepan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, guru sudah seharusnya memiliki standar kompetensi yang memadai.
Namun sayang, berdasarkan catatan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel, Irman Yasin Limpo, standar kompetensi guru-guru di Sulsel masih di bawah rata-rata.
Lelaki yang akrab disapa None itu mengemukakan, nilai rata-rata kompentensi guru di Indonesia berada pada angka 6,5. Sementara untuk Sulsel, hanya berada pada angka 5. Dia membandingkan kompetensi guru diluar Sulsel yang rata-rata berada pada angka 7 hingga 8.
“Itu cukup memprihatinkan,” ungkapnya saat dihubungi BKM, Minggu (2/10).
Dia melanjutkan, perlu ada upaya untuk meningkatkan standar kompetensi para pengajar tersebut. Salah satunya, dengan mengikutsertakan guru-guru pada pendidikan dan latihan (diklat).
Rencananya, sebanyak 14 ribu guru SMA/SMK sederajar dalam waktu dekat akan diikutkan diklat.
“Diklat akan dilakukan secara bertahap. Ini kita kejar semoga kita bisa memenuhi standar nasional,” ungkap None.
Diklat ini dikerjasamakan dengan Kementerian Pendidikan Nasional serta Badan Diklat Provinsi Sulsel.
Mengingat pentingnya agenda ini, anggarannya dialokasikan di APBD Perubahan dengan menggeser kegiatan yang tidak masuk skala prioritas sekali.
Menurut rencana, gubernur juga akan melaunching Diklat Kompetensi Guru pada saat Peringatan Hari Jadi Sulsel. Sebanyak 14.000 guru SMA/SMK sederajat akan diikutikan diklat kompetensi secara bertahap dalam 350 angkatan.
Tujuan diklat tersebut agar nilai kompetensi guru di Sulawesi Selatan akan mengalami peningkatan.
Menyikapi rendahnya kompetensi guru, Ketua Dewan Pendidikan Farouk M Betta, mengharapkan, guru harus lebih melengkapi materi bahan ajar yang selama ini menjadi acuan sesuai dengan kurikurulum.
“Yang jadi persoalan adalah materi yang diajarkan guru di sekolah tidak sesuai dengan kurikulum, sehingga jika ada ujian yang muncul dalam ujian kompetensi guru (UKG) otomatis sejumlah guru tidak tahu materi tersebut,” ujarnya.
Aru sapaan akrabnya juga membenarkan jika peningkatan kualitas pendidikan di Sulsel memang rendah, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap pola dan metode pendidikan di Sulsel.
“Pasti ada yang salah dalam pembelajaran guru saat ini sehingga harus dievaluasi. Walaupun tidak berpengaruh pada tunjangan sertifikasi guru, namun akan berpengaruh pada pemetaan kualitas pendidikan di Sulsel,” bebernya.
Selain itu, ia juga menyarankan pemerintah provinsi bisa melakukan peningkatan standar kualitas kompetensi guru di Sulsel melalui pelatihan dan penataran secara berkala ke seluruh guru di Sulsel.(rhm-ita)
