Site icon Berita Kota Makassar

Berdampingan Dosen dan Profesor dari Seluruh Dunia

BAGI sebagian orang, melakukan penelitian bukanlah hal gampang. Apalagi sampai mempublikasikannya pada level internasional. Namun, Furry mampu melakukannya.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

PENCAPAIAN yang diraih Furry saat ini tidaklah instan. Ia telah melalui proses panjang nan berliku dalam memahami penelitian.
Bermula dari ketidaktahuannya meneliti sampai bisa melakukan publikasi di Thailand, ia ceritakan semua secara detil.
Awalnya, gadis kelahiran Madiun ini mengaku tidak terlalu tertarik dengan penelitian. Ketidaktertarikannya didasari karena ia memang belum mengetahui tentang apa itu penelitian. Sampai pada akhirnya Furry mengenal LPM Penalaran UNM dan masuk di dalamnya menjadi anggota.
LPM Penalaran UNM sendiri adalah salah satu UKM di UNM yang cukup ketat dalam menyeleksi calon anggotanya. Setiap anggota yang akan masuk, memang diharuskan membuat satu penelitian. Hal inilah yang membuat Furry harus belajar tentang metodologi penelitian sejak awal. Mengingat saat pertama kali masuk, saat itu Furry masih semester 2.
Saat pertama mempelajari penelitian, Furry memang mengaku merasa agak kesulitan karena hal tersebut baru baginya. Namun seiring berjalannya waktu, Furry mulai terbiasa. Diapun memperoleh banyak pengetahuan tentang manfaat meneliti. “Dengan melakukan penelitian, ternyata kita bisa memecahkan masalah, melakukan treatment terhadap masalah tersebut sehingga menghasilkan solusi,” kata Furry.
Bermula dari situlah Furry semakin terpacu belajar penelitian. Apalagi setelah setahun bergabung di LPM Penalaran UNM, ia dipercaya menjadi bagian dalam kepengurusan LPM Penalaran UNM.
Pada masa kepengurusannya tersebut, Furry ditugaskan meneliti tentang media pembelajaran yang efektif digunakan untuk murid sekolah dasar. Akhirnya penelitian dengan judul; Implementing MOCA GAME (Monopoly Vocabulary) to Improve Students’ Vocabulary Mastery, yang merupakan penelitian lembaga LPM Penalaran UNM berhasil ia jalankan.
Tidak mudah melaksanakan penelitian tersebut. Furry mengaku mendapatkan banyak kendala dalam prosesnya. Salah satunya adalah pengetahuan dirinya tentang teknologi game yang akan ia ciptakan.
“Media pembelajaran ini kan tentang melatih kosakata melalui game. Saya paham kosakata karena background saya dari bahasa. Berbeda dengan menciptakan game, saya tidak punya background IT,” jelas Furry.
Namun itu bukan menjadi halangan baginya. Dia meyakini semua itu memiliki solusi. Ia pun mengajak beberapa temannya untuk bekerja sama. Terutama yang memiliki kemampuan membuat dan mendesain game.
Upayanya pun membuahkan hasil. Penelitian yang dilakukannya berhasil setelah diaplikasikan.
Selanjutnya, Furry berniat mempublikasikannya. Bukan hanya di tingkat nasional, namun internasional.
Seleksinya ternyata butuh waktu selama dua bulan sebelum Furry mendapatkan undangan ke Thailand. Pertama ia harus menjadi pemakalah sebelum diseleksi oleh beberapa juri dan dinyatakan lolos.
“Sudah banyak media yang digunakan untuk meningkatkan kosakata, namun belum ada yang menggunakan media game. Inilah yang membuat penelitian ini berbeda,” kata Furry dengan penuh keyakinannya lolos saat itu.
Furry merasa sangat bangga bisa lolos. Selain pertama kalinya ia berhasil mempublikasikan penelitiannya sampai pada tingkat internasional, ia juga merasa bangga karena bisa berdampingan langsung dengan para dosen dan profesor dari seluruh dunia dalam satu konferensi.
“Semuanya orang-orang hebat, sangat membanggakan bagi saya,” ucap Furry.
Apa yang telah dicapai Furry menunjukkan bahwa keberhasilannya tersebut tidaklah diperoleh dengan mudah. Semua butuh perjuangan, kerja keras, dan kemauan belajar. Semuanya sama dengan orang lain pada umumnya. Dari ketidaktahuan sampai disejajarkan dengan orang-orang hebat.
Dari pencapaiannya, Furry tak lupa menitip pesan bagi para calon peneliti maupun yang telah sering meneliti. “Untuk calon peneliti, menelitilah. Karena kita akan selalu bisa memecahkan masalah yang ada di masyarakat. Bagi yang sudah sering meneliti, publikasikanlah. Publikasikanlah sampai tingkat tertinggi, karena akan sangat percuma bagi peneliti jika tidak dipublikasikan,” kuncinya. (*/rus)

Exit mobile version