HIDUP miskin dan serba kekurangan tentu sangatlah tidak mudah untuk meraih impian. Apalagi menjadi orang sukses serta berpendidikan tinggi. Bahkan sampai meraih gelar doktor.
Laporan: Rahmat
ANZAR MAKKUASA terlahir sebagai anak seorang tukang becak. Tapi siapa sangka ia mampu menggapai cita-citanya, yang bagi banyak orang begitu sulit didapat.
Semasa kecil, Anzar Makkuasa tak pernah sedikitpun membayangkan bisa menjadi seorang doktor. ”Ini rezeki dari Tuhan,” ujarnya dengan nada merendah.
Diapun kemudian merangkai kalimat tentang perjalanan hidupnya. ”Dulu, jangankan bermimpi untuk sekolah tinggi-tinggi. Untuk makan sehari-hari saja sangatlah susah,” tuturnya kepada BKM, Minggu (19/2).
Ayahnya yang seorang tukang becak tidaklah memiliki penghasilan jelas. Kadang kurang. Biasa pula tidak ada sama sekali.
”Makanya, saat itu saya harus membantu bapak untuk mencari uang dengan menjadi seorang tukang parkir di Pasar Kalimbu. Saya juga kadang ikut membantu bapak menjadi kuli bangunan dan kuli pasar,” kenangnya.
Anzar kecil tinggal di rumah kontrakan ukuran 3×4 meter persegi. Ia bersama delapan orang saudaranya. Walau terbilang sempit, panas dan pengap, dia tak pernah sedikitpun mengeluhkannya.
Tempat tinggal keluarga Anzar juga berpindah-pindah. Dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Bahkan pernah tinggal di gubuk dalam Pasar Kalimbu.
Pahit nan getirnya kehidupan dirasakan Anzar dari kecil hingga remaja. Dalam hidup yang melarat, bersekolah tetap ia lakoni. Anzar berjuang sendiri untuk membiayai sekolahnya.
Setamat SMA, Anzar kemudian melamar pekerjaan di pelabuhan bongkar muat Makassar sebagai buruh. Satu tahun rutinitas keras ini dijalani.
Dengan tekad ingin memperbaiki hidup, Anzar kemudian merantau mengikuti temannya. Ia ingin mencari pekerjaan yang layak. Palu menjadi pilihannya. Disini Anzar numpang tinggal di rumah kenalannya saat di Makassar.
“Namanya juga menumpang di rumah orang, terpaksa saya harus mengerjakan semua pekerjaan di rumah itu, sambil mencari-cari pekerjaan. Saya harus memasak, membersihkan rumah, bahkan sampai harus mencuci piring dan pakaian,” bebernya.
Tak lama, dia memilih meninggalkan rumah yang ditumpanginya itu. Anzar merasa malu untuk hidup terus bergantung pada orang lain. Lagi-lagi dia merantau. Kali ini ke Poso. Tapi, pekerjaan ideal yang didamba-dambakan tak kunjung didapat.
”Akhirnys saya kembali lagi ke Palu dan hidup di jalan. Menahan lapar selama berhari-hari. Namanya kuasa Tuhan. Akhirnya saya mendapat kerjaan sebagai buruh di sebuah toko, di daerah Pasar Lama Kota Palu. Saya satu tahun bekerja disitu,” ungkap dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Anzar pun akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya di Makassar dan meninggalkan pekerjaannya. Rasa rindu dan senang bercampur menjadi satu ketika bersua dengan orang-orang yang dicintainya. Tak lupa Anzar membawa sejumlah uang untuk orangtuanya. Uang itu ia kumpulkan selama bekerja sebagai buruh toko di Palu.
”Waktu kembali di Makassar, saya coba-coba melamar pekerjaan di salah satu perusahaan. Alhamdulillah, saya diteriam bekerja disitu,” imbuhnya.
Di PT Dangkam yang sekarang telah berganti nama menjadi PT Tosan Permai Lestari, awal mula Anzar merintis dan meraih mimpi-mimpinya. Menurut dia, di perusahaan tersebut, dirinya banyak mendapatkan pelajaran dan masukan dari orang-orang seprofesinya.
Diapun mulai mendaftar kuliah di STIA YAPPI, lalu di Universitas Sawerigading. Karena saat itu dia bekerja di bagian administrasi.
“Sebagian gaji saya sisipkan untuk membayar uang kuliah dan untuk membantu menopang ekonomi keluarga. Walaupun saya anak tukang becak, tapi saya tidak pernah merasa malu atau sampai minder dengan orang lain,” tandasnya.
Justru dia mengaku bangga dengan orang tuanya yang telah bersusah payah bekerja tanpa mengenal waktu dan lelah untuk menghidupi anak-anaknya. “Ayah saya adalah bapak yang terhebat bagi saya,” katanya penuh semangat. (*/rus)
