SIDRAP, BKM — Ratusan hektare lahan pertanian di Desa Wanio, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap, terancam gagal panen. Pasalnya, jumlah debit air irigasi yang mengalir ke sebagian besar lahan pertanian warga tidak tercukupi.
Saluran irigasi tersier yang selama ini digunakan oleh petani setempat ditutup saat pekerjaan proyek saluran sekunder Bilokka beberapa bulan lalu. Akibatnya, suplai air ke hilir, utamanya di beberapa desa tidak tercukupi.
Selain itu, perbaikan saluran irigasi yang membutuhkan waktu yang lama juga mengancam petani tidak menggarap kembali sawahnya pada musim tanam berikutnya.
“Saluran tersier itu tidak lagi berfungi secara maksimal karena ditutup saat pembangunan saluran sekunder. Makanya, debit air dari sana tidak lancar, sehingga membuat sebagian besar lahan pertanian di daerah ini terancam tidak digarap musim tanam berikutnya,” kata salah seorang petani Aris, Senin (20/2).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, kata Aris yang diamini puluhan petani, mengaku melakukan kerja bakti perbaikan saluran tersier tersebut. Mereka mencoba mengambil air dari hulu saluran sekunder yang ditutup bangunan.
Hal senada juga diungkapkan La Podding. Ia mengaku, bahwa sudah dua kali banjir, namun air yang mengalir ke lahan pertaniannya belum juga sampai. Padahal sebelumnya lancar-lancar saja.
“Di lokasi ini ada ratusan hektare lahan pertanian terancam tidak digarap pada musim tanam ini, jika memang debit air irigasi tidak sampai ke lokasi,” ucapnya.
Sementara Kabid SDA Sidrap, Yusuf Thamrin saat ditemui di sela-sela pembahasan perbaikan pintu irigasi, kemarin mengatakan, persoalan tersebut akan dibicarakan dengan petugas setempat untuk mencari solusi terbaiknya.
“Saya akan koordinasikan dulu dengan petugas setempat. Kalau perlu kita buatkan lagi satu pintu di sana, sehingga petani tidak lagi bersusapaya seperti itu,” ucapnya. (ady/rus/c)
Ratusan Hektare Sawah Terancam tak Digarap
