MAMASA, BKM — Pasar tradisional Barra-barra milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa yang dibangun tahun 2012 silam, sampai saat ini tidak kunjung dimanfaatkan. Padahal, pembangunan pasar ini menelan anggaran hingga puluhan miliar rupiah.
Tidak adanya pedagang yang datang menjual di pasar tradisional ini dikarenakan letaknya yang cukup jauh dari kota Mamasa. Jaraknya sekitar tiga kilometer arah barat kota Mamasa.
Tidak dimanfaatkannya pasar ini telah membuat beberapa bagian dari lods yang ada, sudah retak-retak. Begitu pula pada musim hujan, kondisinya jorok. Seperti disampaikan Levinus, warga di sekitar Pasar Barra-barra Mamasa, ketika ditemui BKM, pada Rabu (22/2) kemarin, pihaknya juga sangat menyesalkan tidak dimanfaatkannya pasar ini.
”Tidak adanya pedagang yang datang berjualan ke pasar ini, karena pembelinya juga tidak ada yang datang. Pasalnya, untuk datang ke pasar ini, jaraknya cukup jauh,” jelasnya.
Hal senada diungkapkan Wempy Rubak, salah seorang warga Mamasa yang tinggal di Palu ketika ditemui BKM di Mamasa beberapa hari lalu, mengatakan, tidak berfungsinya Pasar Tradisional Barra-barra Mamasa karena kalah bersaing dengan pasar swasta milik Zaenal Tayep yang akrap dipanggil Jenol.
Pasar swasta milik Jenol, selain dekat dari kota Mamasa, yakni hanya 500 meter dari kota Mamasa. Begitu pula fasilitasnya terbilang cukup lengkap. Sehingga para pedagang memilih berjualan di sana.
”Seperti halnya Pasar Bolu yang ada di Rantepao, Tana Toraja (Sulsel), lebih maju dibandingkan Pasar Makale. Sebab, akses menuju ke pasar lancar. Sangat kasihan Pasar Barra-barra. Belum difungsikan tapi sudah hancur. Seluruh pondasi bangunan bagian luar sudah tergantung. Dikuatirkan dalam waktu dekat kemungkinan akan ambruk,” ujarnya. (dar/mir/c)
Belum Difungsikan Sudah Hancur
