MAROS, BKM — Forum Masyarakat Seni (Formasi) Kabupaten Maros menyoroti kinerja Badan Kerjasaman Kesenian Indonesia (BKKI) Kabupaten Maros. Sorotan ini muncul saat Formasi menggelar tudang sipulung yang berlangsung di salah satu sekretariat lembaga seni di Maros pada akhir pekan lalu.
Keanggotaan Formasi sendiri terdiri dari puluhan sanggar seni, komunitas, lembaga dan seniman perorangan di Kabupaten Maros. Bagi Formasi, BKKI tidak efektif dalam menjalankan fungsinya sebagai induk atau payung organisasi kesenian. ”Banyak sanggar, organisasi, atau komunitas seni yang tidak terakomodir. Sehingga BKKI sebagai payung berkesenian tidak berjalan sesuai khittahnya” ujar Olank Sukardi, juru bicara Formasi.
Olank Sukardi yang juga merupakan Ketua Lembaga Latoa melanjutkan, teman-teman di forum ini sepakat untuk menggelar musyawarah luar biasa (Muslub) BKKI Maros dalam waktu dekat. ”BKKI adalah representase dari delegasi seluruh sanggar, organisasi, komunitas seni yang ada. Kita organisasi, punya pedoman. Dan harus berjalan sesuai konstitusi yang ada. Sehingga pelaksanaan Mubes luar biasa tersebut ke depan sudah sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi ini. Terlebih, beberapa seniman leluhur Maros mendukung hal tersebut,” akunya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua BKKI Maros Husni Siame, mengatakan, apa yang dilakukan teman-teman itu bagian dari dinamika berlembaga. ”Saya rasa itu wajar. Dalam organisasi, pro dan kontra itu hal yang biasa. Sayangnya, mereka yang berkomentar ini justru pengurus yang memang keaktifannya dipertanyakan,” ujar Husni melalui telepon selulernya.
Ia melanjutkan, beberapa seniman senior yang mendukung juga memang punya masalah personal dengan BKKI. ”Beberapa seniman senior yang mengkompori anak-anak ini juga sebenarnya punya masalah pribadi dengan lembaga. Mereka menganggap, BKKI itu mereka yang buat. Padahal, ini lembaga nasional. Mereka mau masuk di struktural dengan posisi yang sama dengan pak bupati. Itu kan tidak benar,” tegasnya. (ari/mir/c)