Site icon Berita Kota Makassar

Keluhan Penumpang: Halte Kurang

SALAH seorang mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM) yang pernah menumpang BRT, Fitria Astuti Danial mengaku moda transportasi ini sebenarnya cukup nyaman. Namun masih ada kekurangannya. Karena kekurangan inilah ia tidak pernah lagi menggunakannya.
“Tidak bisaki berhenti sembarangan. Harus di halte. Baru sedikitji halte disediakan. Jadi kalau tujuannya jauh dari halte, repotki lagi cari kendaraan,” keluh Fitria.
Hal senada disampaikan Hamzah. Ditemui di halte Mal Panakkukang, kemarin, warga Daya ini juga mengakui kalau ketersediaan halte BRT masih menjadi kendala.
Untuk sampai ke halte Daya dari kediamannya, Hamzah mengaku harus berjalan kaki. Demikian pula ketika ingin menjangkau halte di Mal Panakkukang. Jalan kaki menjadi solusinya.
”Saya rutin pakai (BRT). Karena untuk dari Daya ke sini (Panakkukang) saya hanya bayar Rp5.000 sekali jalan. Fasilitasnya bagus. Apalagi ada ACnya. Tapi sayangnya, halte masih kurang. Jadi saya harus jalan kaki cukup jauh kalau mau dapat halte,” ujarnya.
Dari pengamatannya selama ini, terkadang dalam satu kali jalan penumpang BRT penuh. Namun tak jarang penumpangnya sepi. ”Mungkin karena tidak sembarang ditempati berhenti, jadi masih kurang penumpang yang mau naik,” tambahnya.
Begitu pula dengan Juleha, penumpang jurusan Makassar-Gowa. Dia menunggu BRT di halte Mal Panakkukang, kemarin.
”Sangat terjangkau ongkosnya. Rp5.000 dari sini ke Gowa. Padahal jaraknya jauh. Saya tidak perlu lagi ganti-ganti petepete,” terangnya.
Keluhan Juleha sama, yaitu kurangnya halte. Jika halte untuk BRT sudah tersebar di mana-mana, dia meyakini penumpang akan bertambah banyak.
Mutmainnah, salah seorang mahasiswi UNM kuliah di kampus Parangtambung. Ia tinggal di Jalan Dg Tata. Pernah satu kali menumpangi BRT dari Mal GTC ke MP. Namun yang dia sayangkan, karena belum ada BRT untuk rute ke kampusnya.
”Nyaman kalau pakai BRT. Karena ber-AC dan tidak perlu antre lama-lama. Cocok dioperasikan di wilayah perkotaan. Tapi tidak semua ada rutenya. Termasuk ke kampus UNM Parangtambung. Mungkin itu bisa dipertimbangkan,” sarannya.
Suherman, mahasiswa Fakultas Ekonomi UNM Gunung Sari mengaku pernah sekali menikmati fasilitas BRT. Dia naik dari halte depan kampus UNM di Jalan AP Petta Rani.
”Enak memang. Tapi hanya sekali saya pakai. Itupun untuk coba-coba. Karena tidak ada BRT yang sejalur dengan kegiatan saya,” ujarnya. (nug-jun)

Exit mobile version