Site icon Berita Kota Makassar

Program Cilla Menyongsong Piala Adipura 2017

TAHUN 2017 menjadi momen berharga bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Jeneponto. Bagaimana tidak, di tahun ini Butta Turatea yang sudah sekian lama menyandang predikat sebagai daerah tertinggal, kini tidak lagi. Jeneponto telah bisa disejajarkan dengan kabupaten lain di Sulawesi Selatan.
Seiring dengan itu pula, ada optimisme baru yang timbul di kalangan masyarakat dan pemerintah setempat. Mereka mengidam-idamkan diraihnya Piala Adipura, supremasi tertinggi di bidang lingkungan hidup dan kebersihan.
”Kini Jeneponto gammara bersiap menyongsong Piala Adipura. Penghargaan itu harus kita raih,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Jeneponto Muh Rusli Ramli,SPd.MPd.
Diakui Rusli, untuk mendapatkan penghargaan tersebut tidaklah mudah. Namun, pekerjaan berat itu harus ditunaikan.
Dengan berat hati pula, Rusli harus tega dengan mengambil langkah berani dengan menggusur rumah-rumah dan kantor. Seperti di taman PKK, taman Turatea dan tempat lainnya.
”Karena tujuannya baik, tidak ada komplain berarti dari warga. Mereka sadar untuk menciptakan keindahan Kota Bontosunggu sebagai ibu kota Kabupaten Jepenonto,” ujar mantan Kabag Humas Pemkab Jeneponto ini.
Persoalan sampah juga telah ditangani. Dinas LH dan Kebersihan sudah membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah tanpa bau di Kelurahan Bontoa. Akses jalan masuk ke lokasi dibuat beton sepanjang 5 km.
TPA ini dilengkapi dengan mesin daur ulang. Dari mesin pengolahan ini bisa dihasilkan plastik yang bernilai ekonomi. Ada pula pupuk kompos yang cocok digunakan oleh petani bawang dan sayuran.
Persoalan sampah yang menumpuk dan berserakan, serta keluhan lainnya terkait kebersihan, Rusli menegaskan, tak perlu sampai ke meja kerjanya. Terlebih ke sekda ataupun bupati.
Cukup ke kepala bidang masing-masing. Karena sebagai pimpinan di Dinas LH dan Kebersihan, Rusli sudah melimpahkan semua kewenangan kepada bawahannya. Baik yang terkait pembelian bahan bakar minyak (BBM), perbaikan kendaraan, honor karyawan kontrak dan permasalahan lainnya harus diselesaikan di tingkat bawah.
”Makanya, semua rajin bekerja sesuai tupoksinya (tugas pokok dan fungsi) masing-masing. Karena sistem telah berjalan. Meskipun volume sampah tidak berbanding lurus dengan sarana dan prasarana pendukung yang kami miliki saat ini,” tandasnya.
Agar Piala Adipura 2017 bisa bersemayam di Jeneponto, mantan Lurah Empoang ini tidak sungkan-sungkan mengambil contoh dari Kota Makassar. Ia menyebut program LISA (Lihat Sampah Ambil).
Untuk Jeneponto, Rusli mengambil singkatan Cilla. Kepanjangan dari Cini Loro Allei. Kata cilla berasal dari bahasa Makassar. Artinya mengkilap. Sepadan dengan kata bersih. Sementara kalimat cini loro allei, artinya lihat sampah ambil.
Tidak hanya itu pembenahan yang dilakukan. Nama-nama jalan yang sebelumnya diambil dari nama bunga dan tiangnya menggunakan kayu, kini telah berganti. Dipilihlah nama mantan bupati yang telah tiada serta nama-nama tokoh pejuang Jeneponto serta nasional. Tiangnya memakai besi anti karat.
Kini, wajah Kota Bontosunggu telah berubah. Rusli pun tidak ingin jumawa mengomentari apa yang telah dilakukannya. Ia hanya menyarankan untuk menanyakannya kepada orang Jeneponto yang kembali dari perantauan.
”Tidak benar kalau saya yang bilang apa yang telah kami lakukan. Tolong tanya kepada orang Jeneponto yang kembali dari perantauan, dua atau tiga tahun terakhir,” tuturnya. (patahuddin kr kulle)

Exit mobile version