MAKASSAR, BKM — Sinyalemen adanya praktik kongkalikong antara pemilik pertamini dengan oknum petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), ternyata benar adanya. Dengan membayar lebih, pengelola pertamini bisa mendapatkan bahan bakar jenis premium sesuai yang diinginkan.
Seperti diakui salah seorang pemilik pertamini di Jalan Aroepala. Tanpa menyebut nama, ia mengaku ‘bermain’ dengan orang dalam SPBU.
Setiap subuh hari, pria ini datang membeli bensin di SPBU tertentu. Dia membayar lebih tinggi dari harga seharusnya. Jika harga standar premium di SPBU Rp6.450 per liter, ditambahkanlah Rp2.500 per liternya. Sehingga seliter didapatkan dengan harga Rp8.950.
Namun, tidak semua SPBU dia ajak kerja sama. Ada dua yang disebutkannya kepada BKM.
Apakah ada keuntungan yang diperolehnya? Ternyata masih ada. Per liter ia menjualnya ke konsumen seharga Rp10 ribu. Dari usahanya ini, setiap hari didapat keuntungan minimal Rp200 ribu.
”Banyak konsumen yang beli bensin di sini, karena percaya dengan takarannya. Kalau yang pakai botol itu kan tidak cukup satu liter. Kalau ini jelas takarannya. Bisa dilihat sendiri,” ucap pria yang tak ingin disebutkan namanya ini.
Dari penuturannya, ia mendesain dan membuat sendiri pertamini miliknya. Namun, ada beberapa bagian dari alatnya yang ia beli dari Pertamina. Seperti tangki minyak penampung bensin, mesin penyedot, selang, dan kran yang digunakan untuk menumpahkan bensin.
”Kalau ini (sambil menunjuk kran) dan mesinnya saya beli di
Pertamina. Kan banyak itu yang bekas,” ujarnya.
Selain mengoperasikan sendiri, pertamini ciptaannya juga dijual ke orang lain. Satu unitnya dipatok dengan harga Rp10 juta. Lebih murah, karena masih tergolong manual. Belum sistem digital.
Soal izin, ia tak tahu menahu. Namun selama ini dirinya rutin bayar pajak usahanya tersebut ke instansi terkait. Ia telah mendaftarkan usaha pertamininya ke dinas terkait.
Berbeda dengan Ida, pemilik pertamini di Jalan Mappaoddang. Ia mengaku membeli mesin pertamini dari seorang pemasok di Jalan Boulevard. Harganya Rp21 juta per unit.
Mesinnya memang berbeda, karena lebih modern dengan menggunakan takaran digital. Persis seperti yang ada di SPBU.
Untuk pasokan bensinnya, dibeli dari SPBU terdekat dengan harga normal. Namun, ia bisa mendapatkan bensin seberapa banyak yang ia mau.
Ida mengaku pertamini miliknya tidak punya izin. Ia beralasan, menjual bensin pakai pertamini sama saja dengan menjual eceran. ”Saya kira tidak perluji izin,” ujarnya.
Akbar, salah seorang pemilik pertamini di Jalan Andi Mallombassang mengaku tertarik melakoni usaha ini usai berkunjung ke luar kota. Wiraswasta yang mengelola usaha depot air minum isi ulang ini kemudian membeli alatnya.
”Waktu ke Bulukumba, saya perhatikan di pinggir jalan banyak penjual besin yang tidak lagi menggunakan botol. Boleh dibilang, sepanjang jalan sudah ramai yang berjualan BBM menggunakan alat ini,” ungkap Akbar di tempat usahanya, kemarin.
Mesin pertamini ia pesan dari Kabupaten Bulukumba. Harganya Rp10 juta per unit.
”Memang ada tukang bikin pertamini di Bulukumba. Saya tertarik, jadi pesan satu unit. Harganya Rp10 juta, di luar ongkos kirim,” jelasnya.
Hanya saja, Akbar kini tak lagi menjual bensin eceran menggunakan pertamini di depan rumahnya. Alat tersebut dipindahkan ke teras. Langkah itu diambil setelah beredar pemberitaan jika pertamina keberataan dengan operasional pertamini.
“Saya kasih masukmi ke teras. Karena ada saya baca di koran kalau dilarang jualan BBM pakai pertamini. Padahal sebenarnya tidak adaji bedanya dengan jual bensin pakai botol atau jerigen,” terang Akbar.
Dia kemudian menjelaskan kelengkapan pertamini miliknya. Di dalamnya menggunakan jerigen yang tersimpan di bagian bawah. Memakai selang ke botol yang terpasang di bagian atas. Di situ terdapat takaran.
Alat ukur itulah yang diputar agar BBM naik botol. Botolnya bisa berisi maksimal 5 liter.
”Lebih bagus pakai ini (pertamini). Konsumen tidak gampang dibodohi. Kalau satu liter, betul-betul satu liter. Harga satu liternya Rp8.000,” terangnya.
Sebelum mencuatnya pemberitaan soal pertamini yang diprotes Pertamina dan ternyata tak mengantongi izin, Akbar biasanya bisa menjual bensin 50 liter per hari. Sekarang hanya laku 20 liter sehari.
Untuk mendapakan stok bensin, Akbar membelinya langsung ke SPBU dengan menggunakan jerigen. Mesin pertamininya bisa menampung BBM hingga 50 liter. (nug-jun/rus)
Pemilik Pertamini Kerja Sama Oknum SPBU
