Site icon Berita Kota Makassar

Pengurus IKA Unhas Dilantik Tanpa Mubes

MAKASSAR, BKM — Pengurus Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) periode 2017-2021 telah terbentuk. Pelantikannya dilaksanakan di Istana Wakil Presiden Jakarta, Jumat (24/3).
Susunan pengurus tertuang dalam surat keputusan S(K) Nomor: Istimewa/IKA-UH/SKEP/2017 tertanggal 17 Februari 2017. SK ditandatangani HM Jusuf Kalla selaku ketua umum/formatur.
Menyusul terbentuknya susunan pengurus hingga terlaksananya pelantikan, suara-suara sumbang langsung bermunculan. Salah satu pemicunya, karena pengurus ditetapkan tanpa melalui perhelatan musyawarah besar (mubes) yang semestinya dilaksanakan.
Aminuddin Syam, salah seorang alumni Unhas yang juga dosen di Jurusan Gizi Mikro Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas bersuara keras. Menurut dia, berdasarkan mekanisme organisasi, yang dilaksanakan sekarang seharusnya sebatas reshuffle pengurus.
Yakni mengisi sejumlah kekosongan di pengurusan. Misalnya mengisi posisi almarhum Dr Darwis, yang semasa hidupnya menjabat sebagai sekretaris umum (sekum).
Namun yang dilakukan di Jakarta adalah pelantikan pengurus baru. Padahal pengurusan yang lama baru akan berakhir masa tugasnya tahun depan.
”Untuk pelantikan pengurus baru, harus melalui sebuah musyawarah besar (mubes). Itu yang kami pahami sebagai orang yang menggeluti organisasi sudah cukup lama. Saya heran, kok tiba-tiba ada pelantikan,” ketus lelaki yang pernah menjabat Ketua Senat Unhas, dan penah aktif di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) ini, Jumat (24/3).
Dia menegaskan, apa yang dilakukan oleh segelintir pengurus itu melanggar anggaran dasar organisasi.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, ternyata sejumlah nama yang dimasukkan ke dalam struktur kepengurusan baru tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Termasuk nama dirinya dan nama Prof Razak.
“Kenapa ada orang dimasukkan jadi pengurus tanpa konfirmasi kepada yang bersangkutan. Saya misalnya. Tidak pernah dikonfirmasi tiba-tiba ada dalam struktur kepengurusan, ” bebernya.
Dia sangat menyesalkan hal ini, karena menjadi preseden buruk bagi mahasiswa unhas yang masih kuliah. Khususnya dalam berorganisasi. Harusnya alumni menunjukkan bagaimana etika yang baik dalam berorganisasi. Pemilihan pengurus sebuah organisasi, apalagi sebesar IKA Unhas, harus melalui mekanisme sesuai aturan yang telah ditetapkan.
Menurutnya, ini bukan perusahaan dimana komposisi pengurus bisa ditentukan oleh pemegang saham mayoritas. Dia mencurigai jika JK selaku ketua umum tidak tahu persoalan ini. Hanya segelintir orang yang melakukan penyusunan nama-nama pengurus melalui rapat, yang diistilahkannya Rapat Orang Terdekat (RAT). Kemudian hasilnya baru diusulkan ke JK.
Namun seharusnya, lanjut Aminuddin, JK juga harus tahu dan paham bagaimana mekanisme penentuan kepengurusan.
Dia menilai, apa yang terjadi itu bagian dari korupsi administrasi dalam keorganisasian. Walaupun namanya dimasukkan dalam struktur kepengurusan, secara tegas dia menolak.
“Saya tidak mau masuki organisasi yang mekanismenya tidak jelas,” pungkasnya.
Salah seorang pengurus teras IKA Unhas yang dilantik, Husain Abdullah yang dikonfirmasi seputar persoalan itu, tidak memberi komentarnya. Ketika BKM mengonfirmasi lewat whatsupp (WA), Uceng –sapaan akrabnya– menunjuk salah seorang pengurus lainnya yang menjabat Sekretaris Eksekutif IKA Unhas, Suardi Herik untuk memberikan penjelasan.
Namun, Suardi yang dihubungi BKM mengaku belum bisa dimintai keterangan karena masih sibuk mengikuti prosesi pelantikan. Setelah itu akan dilanjutkan dengan persiapan untuk pra rapat kerja.
Dihubungi terpisah, anggota DPRD Maros yang juga alumni Unhas Akbar Endra dan Mulawarman juga bereaksi. Kkeduanya menyatakan sangat kecewa dengan pelantikan pengurus IKA Unhas yang baru. Prosesi tersebut dinilai telah melecehkan ketua IKA yang ada di tingkat fakultas.
”Pelantikan itu tidak sesuai dengan AD/ART organisasi. Mubes tidak pernah dilaksanakan, tiba-tiba saja ada pengurus baru. Prosesnya hanya main tunjuk dan tidak melibatkan IKA yang ada di fakultas,” ujar Mulawarman.
Yang lebih ironis adalah pengakuan Akbar Endra. Jangankan pelantikan, ia sama sekali tidak pernah mengetahui adanya susunan pengurus baru IKA Unhas.
”Saya kaget karena baru tahu setelah disodori untuk menghadiri pelantikan. Pertanyaannya, kapan pelaksanaan mubesnya. Tiba-tiba ada undangan. Itpun penyampaiannya melalui media sosial,” ungkap Akbar.
Dikonfirmasi terpisah, Wakil Rektor III Unhas Dr Ir Abdul Rasyid Jalil,MSi membantah jika pelantikan dilaksanakan mendadak. Ia beralasan, pelantikan tersebut telah dijadwalkan tiga minggu sebelumnya dengan memberitahukan terbitnya SK yang baru.
”Kalau dibilang mendadak, tidak juga. Apalagi kepengurusan disebut ilegal. Karena sejak minggu lalu SK sudah beredar. Bahkan seharusnya pelantikannya sudah dilakukan Senin lalu. Cuma ada masalah sedikit. Makanya dilaksanakan hari ini (kemarin),” terangnya, Jumat (24/3).
Meski begitu, ia tak memungkiri adanya kekecewaan di kalangan alumni. Apalagi oleh pengurus yang diganti.
Dari hasil monitornya pada acara pelantikan, ketua IKA fakultas ada yang hanya diwakili. ”Kalau dibilang mereka kecewa, itu sudah pasti. Dimana-mana kalau ada seperti itu, pasti timbul pro dan kontra. Itu wajar,” ujarnya.
Selain itu, ia juga membantah jika pelantikan ini mengganti pengurus lama. “Siapa bilang (mengganti pengurus lama?) Memang ada wajah baru, walaupun saya tidak mau masuk terlalu jauh. Tapi tidak semua diganti. Masih ada kok pengurus lama dan alumni lain diakomodir,” ucapnya. (rhm-ita/rus)

Exit mobile version