Site icon Berita Kota Makassar

Sukses Sinkronisasikan RPJMD Provinsi dan Desa

DILANTIK sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Selatan pada September 2016, banyak pekerjaan penting yang harus dilakukan H Jufri Rahman. Sebab, saat itu pemprov tengah menggodok struktur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru berdasarkan Undang-undang No 23 Tahun 2014, yang ditindaklanjuti melalui PP No 18 Tahun 2016.
Selain itu, ada beberapa perencanaan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) harus disesuaikan. Diapun harus menyusun kembali perencanaan itu sehingga on the right track.
Perubahan nomenklatur OPD membuatnya harus bekerja keras di awal karirnya sebagai kepala Bappeda. Dengan demikian, PADU indikatif juga harus disesuaikan. Belum lagi merancang dan merumuskan usulan-usulan program, mulai dari tingkat yang terbawah, yakni desa hingga tingkat provinsi. Kemudian disaring untuk disesuaikan apakah sejalan dengan 10 program prioritas yang dicanangkan.
Persoalan lain yang ditemukan, ternyata saat itu belum ada sinkronisasi antara Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) desa dengan RPJMD Provinsi Sulsel. Sebagai kepala SKPD, Jufri Rahman berinisiatif untuk kerja cepat dan tepat menyelesaikan persoalan yang ada.
Bukan pekerjaan mudah untuk menyelesaikan semua yang ada. Namun ternyata, dia punya trik mumpuni dalam menyelesaikan semua tugasnya. Selain merangkul seluruh anggotanya secara kekeluargaan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ada, Jufri juga mengandalkan kekuatan doa kepada Allah SWT.
“Jadi bukan kerja keras, fokus, dan kesungguhan saja yang harus diandalkan dalam menyelesaikan berbagai masalah. Libatkan Allah dalam setiap perjalananmu. Jangan pandang enteng kekuatan doa,” ungkapnya saat bincang-bincang santai dengan BKM di ruangannya, Kamis (23/3).
Jadi, selain memacu kinerja dan menerapkan kedisiplinan para pegawainya, baik dari pegawai biasa hingga posisi kepala bidang, Jufri juga selalu mengajak mereka untuk salat fardhu berjamaah di ruang kerjanya.
Sepenting apapun pekerjaan yang sedang dihadapinya, jika tiba waktu salat dan sedang berada di kantor, dia pasti mengajak seluruh pegawainya untuk berjamaah. Setelah itu dilanjutkan dengan doa bersama.
Dalam beberapa bulan terakhir, para pegawainya juga diminta menyetor hafalan ayat. Ternyata itu menjadi kekuatan tersendiri bagi timnya. Suasana kekeluargaan membuat pekerjaan yang dihadapi menjadi lebih ringan.
Secara perlahan, tugas-tugas yang harus diselesaikan pun dilaksanakan. Beberapa pekerjaan yang diselesaikan malah berbuah prestasi.
Salah satunya terkait sinkronisasi RPJM desa dengan RPJM provinsi. Pihaknya sudah menyelesaikan sinkronisasi terhadap 1.050 dari 3.000 desa yang ada di Sulsel.
Jufri menegaskan, sinkronisasi antara RPJM Desa dengan RPJMD Provinsi Sulsel harus dilakukan untuk percepatan pembangunan. Sinkronisasi tersebut merupakan bagian dari program G 1000 G atau Program 1.000 Perbaikan untuk Kebaikan yang digagas Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.
“Tahun 2018, kami target seluruh RPJM Desa sudah sinkron dengan RPJMD Provinsi Sulsel. Kami tidak melakukan launching, tapi hasil yang akan kami serahkan untuk 1.050 desa,” kata Jufri.
Sinkronisasi tersebut, kata Jufri, masih akan terus berlanjut hingga tahun 2018 mendatang. Tahun ini, akan dilakukan lagi sinkronisasi RPJM Desa terhadap 1.000 desa, dan sisanya pada tahun 2018.
“Ini baru pertama kali dilakukan yang jumlahnya cukup masif. Ada pencatatan rekor, tapi kami tidak mengejar rekor, melainkan menjadikan ini sebagai sebuah legacy,” ujarnya.
Jufri juga meminta bantuan pemerintah kabupaten dalam hal pendataan, agar target sinkronisasi di tahun 2018 bisa tercapai.
Karena kerja-kerja itu, Bappeda di bawah kepemimpinan Jufri Rahman diganjar penghargaan oleh Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia, yakni rekor atas sinkronisasi yang dilakukan Bappeda Sulsel.
Apa yang dilakukannya juga mendapat apresiasi dari Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Sang Komandan mengatakan, mensinkronisasi RPJM Desa dengan RPJMD Provinsi bukanlah hal yang main-main. Tapi sangat menentukan.
Mencoba menggreat rencana, apalagi di dalamnya ada visi yang besar, Sulsel sebagai pilar utama Indonesia dan simpul jejaring kesejahteraan nasional.
“Kalau perencanaan gagal, maka gagallah secara keseluruhan. Kita mau memperlihatkan, begini caranya agar rakyat makin damai, tenteram, dan sejahtera. Dan ini tergantung pada perencanaan yang kita lakukan,” kata Syahrul.
Ia mengaku iri dengan negara Jepang yang maju dan modern tapi budayanya sangat dijaga. Bahkan sangat menjaga sopan santun. Korea Selatan juga bisa lebih cepat, karena mereka mengajarkan rakyatnya etos kerja. Singapura maju karena mereka konsisten dalam membangun.
“Kita pun harus melakukan hal itu agar Sulsel maju, mandiri, dan modern. Di RPJMD Sulsel tahun 2018, pendapatan rakyat itu ditargetkan Rp35 juta. Tapi di tahun 2016 kita sudah capai Rp42 juta. Artinya, di tahun 2018 harus lebih tinggi lagi, dan saya target Rp60 juta,” terangnya. (rahmawati amri)

Exit mobile version