Site icon Berita Kota Makassar

Hidupkan Pantai ‘Mati’, Cegah Banjir dengan Cekdam

MENDAFTAR sebagai Bupati Bantaeng tahun 2008, bukanlah keinginan pribadi semata Prof Dr Ir HM Nurdin Abdullah M.Agr. Tapi atas desakan sejumlah elemen masyarakat Butta Toa. Mulai dari praktisi kampus, tokoh pemikir Bantaeng di Kerukunan Keluarga Bantaeng (KKB), aktifis mahasiswa, politisi, tokoh masyarakat dan tokoh agama, hingga tataran akar rumput.
Ketika itu, selain aktif sebagai pengajar di Universitas Hasanuddin, Nurdin Abdullah juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Maruki Internasional, salah satu perusahaan Jepang yang bergerak di bidang industri pengolahan kayu hitam.
Gelombang desakan yang memintanya mencalonkan diri sebagai bupati Bantaeng, tetus bergelora. Meski begitu, Nurdin Abdullah tidak serta merta menyatakan kesediaannya. Kala itu dia berdalih meminta izin ke atasan perusahaannya di Jepang.
Bahkan, ketika warga Bantaeng berjumlah 3.000 orang datang ke Maruki meminta dirinya menjadi bupati, Nurdin mengatakan, kalaupun bersedia mencalonkan diri, dimana mau ambil kendaraan politik. “Tidak ada kendaraan saya,” ucapnya kala itu.
Spontan, salah seorang tukang becak yang turut serta dalam rombongan menawarkan becaknya untuk dikendarai ke Bantaeng. “Tabe’ Karaeng. Kalau tidak ada kendaraanta ke Bantaeng, adaji becakku bisa kita naiki,” ujarnya, disambut gelak tawa.
Sangat beralasan memang, jika Nurdin tidak langsung memberi jawaban pasti kepada para relawan dan pendukungnya. Selain belum ada izin dari bosnya di Jepang, partai pendukung juga belum mencukupi syarat yang ditentukan KPUD.
Pasalnya, partai yang melamar Nurdin tidak satupun bertahta di DPRD Bantaeng alias partai gurem. Tapi partai tersebut menjadi peserta pemilu.
Ketenangan Nurdin Abdullah dalam bersikap, akhirnya membuahkan hasil. Walau didukung 15 partai gurem, Nurdin bisa melenggang ke pilkada 2008-2013 berpasangan dengan H Andi Asli Mustajab dengan tagline “Nurani”.
Bersamaan dengan desakan masyarakat, Nurdin Abdullah mendapat “wangsit” dari leluhurnya. Dia tidak bisa lagi mengelak dengan bermacam dalih. Nurdin akhirnya menyatakan “Bismillah” akan “mewakafkan dirinya untuk Bantaeng”.
Sejak dilantik oleh Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo sebagai Bupati Bantaeng 6 Agustus 2008, Nurdin Abdullah langsung memacu program pembangunan melalui konsep inovatif di tiga bidang. Yakni ekonomi, sosial budaya, infrastruktur.
Di bidang ekonomi, Nurdin Abdullah berhasil menjadikan Bantaeng sebagai kabupaten benih berbasis teknologi dan mengembangkan kultur jaringan. Desa dimajukan melalui program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Menjadikan Uluere sebagai obyek wisata agribisnis. Mencetuskan Bantaeng sebagai pusat pengembangan industri di wilayah selatan Sulsel.
Pantai Seruni yang terletak di depan Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 1410 Bantaeng, sebelum 2008, dijadikan oleh warga sekitar sebagai WC terpanjang. Kemudian Nurdin Abdullah menyulapnya menjadi sentra kuliner dan tempat menghilangkan galau bagi pengunjung melalui program reklamasi.
Pantai mati lainnya yang dihidupkan Nurdin Abdullah adalah Marina, yang berlokasi di Korong Batu, Desa Baruga, Kecamatan Pa’jukukang, berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba. Marina menjadi pantai alternatif rekreasi keluarga.
Gebrakan spektakuler lainnya dan membawa manfaat besar bagi masyarakat kota Bantaeng adalah, pembangunan cekdam Balang Sikuyu yang mampu mencegah bajir. Sejak terbangunnya cekdam, warga kota tidak lagi merasa was-was pemukimannya akan kebajiran di saat musim hujan. Mereka bisa terlelap dalam tidurnya menikmati sejuknya udara di tengah guyuran hujan.
Keberhasilan Nurdin Abdullah ini, membuat mayoritas warga Bantaeng menginginkannya menjadi bupati kembali pada periode kedua, 2013-2018. Kali ini, Nurdin Abdullah memilih H Muhammad Yasin (sekkab Bantaeng saat itu), menjadi pasangannya dengan tagline “Nuryasin”. Pasangan Nuryasin memenangi pilkada bupati 2013 dengan angka mutlak 82 persen.
Nurdin Abdullah yang belakangan namanya mencuat dengan singkatan NA, tidak rela mengakhiri masa jabatannya sebagai bupati Bantaeng dua periode, jika pembangunan yang dirintisnya tidak tuntas.
Atas prestasinya di bidang pemerintahan dan pembangunan, NA sebagai inovator pembangunan, telah mengantongi 97 penghargaan selama kurun waktu 2009-2017. (abdul waid amin)

Exit mobile version