Site icon Berita Kota Makassar

Motivasi Warga Binaan dengan Ilmu Agama

POSISI pucuk pimpinan yang dijabat Mansyur,SSos,MH saat ini adalah sebagai Kepala Rumah Tahanan (Karutan) Sidrap. Jika didalami lebih jauh, jabatan yang disandangnya tidaklah mudah.
Bagaimana tidak, ia menjadi pimpinan institusi yang membina orang bermasalah dengan hukum. Mereka yang menjadi warga binaan di tempat ini dinyatakan telah bersalah dari sebuah proses hukum.
Tanggung jawab Mansyur memang tidaklah ringan. Namun, tugas berat itu justru dijadikannya sebagai tantangan dan motivasi. Dia terus berusaha untuk menunaikan amanah yang telah dipercayakan kepadanya.
Memulai karir di Sengkang, Kabupaten Wajo sebagai abdi pemasyarakatan. Mansyur menyandang status Pegawai Negeri Sipil (PNS) Lembaga Klas 3 Sengkang pada medio tahun 1986.
Ketika itu zaman orde baru masih berkuasa. Orang-orang yang dipenjara imejnya adalah orang jahat dan ditakuti.
Fasilitas kala itu boleh dibilang masih serba sulit. Semuanya serba manual. Tidak seperti sekarang. Sistemnya sudah modern dan menggunakan perangkat elektronik.
Belum lagi latar belakang kehidupan sosial warga binaan yang pasti berbeda-beda. Mempelajari sifat dan karakter mereka diperlukan trik khusus. Butuh kesabaran ekstra tinggi ketika memilih menjadi seorang petugas lembaga pemasyarakatan.
Saat menjadi sipir lembaga, Mansyur terdorong mempelajari kehidupan setiap warga binaannya. Acapkali ia mendapati tahanan yang punya kepribadian keras kepala. Namun, Mansyur tetap menghadapinya tanpa kekerasan.
Mansyur mengisahkan, dirinya pernah berkelahi dengan salah seorang tahanan kasus pembunuhan. Pemicunya hanya sepele. Warga binaan itu tidak mau pindah sel. Akibatnya, Mansyur mendapat sanksi dari atasannya.
Berangkat dari pengalaman inilah, pria yang lahir di Desa Tondo, Kabupaten Sinjai, 18 Juli 1963 silam ini mengubah paradigmanya. Narapidana juga merupakan manusia biasa yang harus dibina dan punya hak untuk merdeka.
Anggapan orang jika narapidana adalah ‘sampah’ masyarakat, secara perlahan mulai ia kikis. Tidak selamanya membina orang dipenjara itu harus dengan cara-cara kekerasan fisik, ataupun menyiksanya secara lahir dan batin.
Apalagi, asumsi yang berkembang ketika itu bahwa orang ditahan sangatlah tersiksa jiwa dan batinya. Kenapa? Karena dipenjara sudah pasti ruang geraknya dibatasi. Juga sudah pasti terpisah dari keluarga, istri, anak dan sanak saudara.
Tentu, kata ayah lima anak ini, goncangan jiwa dan depresi kerap menghantui para tahanan. Apalagi jika mereka selalu memikirkan dunia luar yang penuh dengan kebebasan.
“Hukuman sehari, sebulan atau setahun saja, sudah sangat menyiksa. Dulu di jaman perang, kita dipenjara lalu disiksa fisik. Sudah bisa dibayangkan betapa tersiksanya kehidupan tahanan masa lalu. Kalau jaman sekarang, meski sudah moderenisasi, tapi tetap masih saja batin warga binaan kita tersiksa. Cuma beragam cara melampiaskannya. Semua orang tidak mau terlibat kriminal, apalagi dipenjara,” jelas Mansyur.
Suami dari Haryanti Mansyur ini sedikit berbagi kisah hidupnya di kampungnya. Di masa kanak-kanaknya ia pernah merasakan hidup yang serba kesusahan.
Orang tuanya yang hanyalah pedagang kecil, hanya mampu memenuhi kebutuhan sehati-hati keluarga. Enam orang saudaranya belum ada yang mandiri.
Dia mengingat masa-masa sekolahnya waktu Sekolah Dasar, SMP hingga SMA di Desa Tondo, Sinjai dilalui dengan berjalan kaki sejauh 5 kilometer. Maklum, kendaraan bendi atau becak belum ada. Sepeda saja susah dibelinya sebagai alternatif kendaraan ke sekolahnya. Kehidupan sederhana itu ia lalui dengan penuh semangat dan kesabaran.
Sejak kecil hingga dewasa bersama empat saudaranya yang masih hidup, kedua orangtuanya selalu menasihatinya dengan siraman rohani keagamaan. Nuansa keagamaan inilah yang ia terapkan terhadap warga binaan hingga sekarang.
Mansyur pertama kali diangkat menjadi Kepala Rutan Klas IIB di Kabupaten Takalar. Meski bukanlah ahli agama, namun ia sudah tahu bagaimana caranya memotivasi tahanan untuk bisa kembali ke kehidupan sosial yang layak di tengah-tengah masyarakat. Kuncinya adalah dimulai dengan ilmu agama.
“Mereka sebenarnya tidak bersalah, hanya khilaf dan keliru melangkah dalam kehiduannya. Makanya, dimana-mana saya bertugas, semua warga binaan saya berikan motivasi agama,” lontarnya.
Sejak itulah, banyak tahanan yang sudah menghirup udara bebas dan kembali ke kehidupan normalnya lagi.
Selepas Kepala Rutan Takalar, ia kembali dipercaya pada jabatan yang sama di Bulukumba. Kemudian ke Jeneponto. Posisi serupa diembannya di Kabupaten Sidrap hingga sekarang.
Cara-cara pembinaan persuasif tetap dilakukannya kepada para napi di Rutan Sidrap. Diapun selalu mengangendakan program kultum keagamaan pada setiap minggunya.
Dua kali setiap minggu, pihak rutan selalu mendatangkan penceramah agama dari Kementerian Agama setempat. 325 orang warga binaan selalu diberi siraham rohani. Selain itu, juga ada staf khusus yang ahli agama mendampingi mereka setiap waktu shalat.
“Alhamdulillah, ada beberapa warga binaan kita yang tersangkut kasus narkoba sudah bebas bersyarat, menjadi ustas dan ahli agama. Sebagian juga ada yang jadi imam saat waktu salat berlangsung,” papar Mansyur yang memulai tugas di Sidrap sejak 2 Juli 2013 lalu.
Pembinaan lainnya dilakukan dengan memberikan keahlian. Seperti belajar memproduksi bahan makanan ringan, meracik kertas atau koran menjadi bahan berguna seperti figura atau aksesoris yang bisa bermanfaat.
Saat ini jumlah warga binaan Rutan Sidrap telah melebihi kapasitas dari batas normal hanya 160 orang. Karenanya, tidak lama lagi rutan yang dipimpin Mansyur akan naik kelas. Semua syarat yang dibutuhkan telah dipenuhinya.
Status menjadi lapas tinggal disetujui dan diteken oleh petinggi di Dirjen Kementerian Kemenkum HAM.
“Insya Allah, dalam waktu dekat SKnya akan turun. Semua akan berganti status. Mulai staf, kepala seksi hingga posisi kepala akan naik eselon,”bebernya.
Selain struktur organisasi berubah, daya tampung akan bertambah menjadi 600 hingga 1.000 orang. (purmady)

Exit mobile version