Site icon Berita Kota Makassar

Muktar tak Ingin Perpanjang Insiden di Pemakaman Supomo

MAKASSAR, BKM — Suasana pemakaman mantan Wakil Wali Kota Makassar Supomo Guntur Karaeng Sewang di Kabupaten Jeneponto, Minggu (23/4) diwarnai insiden. Anggota DPR RI Mukhtar Tompo dan legislator Sulsel Syamsuddin Karlos terlibat perselisihan. Bahkan ada tindakan fisik.
Melalui rilis yang diterima BKM, kemarin, Mukhtar Tompo menjelaskan kronologis kejadian sebenarnya. Melalui pernyataannya, ia menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga besarnya atas insiden yang terjadi tersebut.
”Sebagai ponakan, tentu saja saya tidak mungkin melakukan sesuatu yang menambah kepedihan keluarga besar Karaeng Sewang. Itulah salah satu alasan, mengapa saya harus menuliskan kronologis ini, agar informasi seputar kejadian tidak simpang siur,” kata Mukhtar Tompo.
Sabtu menjelang magrib (22/4), Muhktar baru mendapatkan informasi kepergian Karaeng Sewang. Meski terlambat, ia tetap berupaya menghadiri pemakaman Supomo. Minggu subuh dia meninggalkan Jakarta. ”Saya masih sempat melayat ke rumah duka di Jalan Dg Tata I dan ikut mengantar jenazah ke Jeneponto,” tuturnya.
Kendaraan yang digunakannya agak tertinggal dari rombongan, sehingga ketika tiba, jenazah telah disalati di masjid dekat rumah almarhum. Karena tak mendapatkan prosesi salat, Mukhtar langsung menuju lokasi pemakaman yang terletak tidak jauh dari masjid.
”Di sekitar lokasi pemakaman, sejumlah sahabat memanggil saya untuk bergabung dengan mereka. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendekati dan menyalami mereka satu persatu. Termasuk Syamsuddin Karlos yang juga hadir di antara mereka. Awalnya kami berbincang lepas, saling bertanya kabar. Tak lama berselang, tiba-tiba Carlos menyinggung soal bendungan Kareloe,” terangnya.
”Ia menganggap saya tak tahu persoalan Bendungan tersebut, jadi diminta tidak usah banyak berkomentar. Apalagi, menurutnya, sewaktu duduk di DPRD Provinsi Sulsel, saya hanya duduk di Komisi C, sama sekali tidak terkait dengan pembangunan bendungan,” tambahnya.
Mukhtar kemudian meluruskan informasi tersebut. ”Saya tegaskan bahwa sebelum pindah ke komisi C, saya merupakan anggota Komisi B yang mengurusi bidang pertanian. Tentu saja, isu bendungan juga menjadi konsen perhatian komisi kami, karena terkait erat dengan potensi pengairan lahan kering jika pembangunan bendungan terwujud,” jelasnya.
Dia juga memperlihatkan foto-foto kunjungannya ke lokasi rencana pembangunan bendungan Kareloe. Termasuk memperlihatkan bahwa waktu ia saya mengikutsertakan beberapa wartawan. Dengan menunjukkan foto-foto tersebut, Mukhtar ingin menyampaikan ke Karlos bahwa dirinya sangat memahami seluk beluk pembangunan bendungan ini.
”Bahkan hingga saat ini, saat duduk sebagai Anggota DPR RI, saya masih mengikuti perkembangan pembangunan bendungan. Saya juga menyampaikan bahwa sejumlah warga yang terkena imbas pembangunan bendungan, sempat mengadukan kesewenang-wenangan yang mereka alami ke Fraksi Partai Hanura DPR RI. Saya termasuk salah seorang anggota Fraksi yang menerima keluhan mereka. Jadi, jika saya dianggap provokator, atau bicara tanpa data, itu tuduhan yang tidak berdasar,” tandasnya.
Diskusi pun berlanjut. Karlos menyoal pernyataan Mukhtar yang mengaitkan pembangunan bendungan dengan kegagalan Syahrul Yasin Limpo sebagai Gubernur Sulsel.
”Saya juga meluruskan pernyataan tersebut. Sya tegaskan bahwa pernyataan saya harus tetap dilihat dalam konteks. Pernyataan itu tidak menafikan sejumlah kesuksesan Pak Syahrul memimpin Sulsel dalam bidang lainnya,” jelasnya.
Mukhtar menyampaikan, bahwa sebagai gubernur, Syahrul sudah sering menggunakan isu bendungan sebagai isu kampanye. Jadi, jika bendungan itu tak kunjung selesai, saya anggap “gubernur gagal”. Gagal mewujudkan janjinya membangun bendungan. Tidak menyatakan gagal juga dalam bidang-bidang lainnya.
”Saya menyadari psikologi massa yang menonton diskusi kami, terkesan memberikan dukungan ke saya dan menyudutkan Karlos. Mungkin itulah yang membuat suasana hati Karlos agak sedikit memanas,” terangnya lagi.
Karlos kembali mengungkapkan bahwa Mukhtar pernah mengeluarkan pernyataan bahwa anggaran pembangunan bendungan sebesar Rp2 triliun. Mukhtar mempertanyakan darimana informasi tersebut. Ia ngotot meyakini informasi tersebut, tanpa menyebut sumbernya.
”Maka saya pun kembali mendesak, informasi darimana itu? Kabar burung dari mana? Jin mana yang membawa informasi tersebut?” bebernya.
”Mungkin pernyatan inilah yang disebut Karlos kata-kata kotor. Saya tegaskan, saya tak pernah menyebut “Karlos sebagai jin”, sebagaimana pengakuannya yang dilansir dalam berita online,” jelasnya.
Setelah itu, tanpa disangka-sangka, Karlos langsung menampar Mukhtar dengan rokok yang masih menyala dalam genggamannya. Api rokok itu mengenai wajah.
”Saya yakin, siapapun yang ada dalam posisi saya spontan melakukan pembelaan diri. Kejadiannya tidak berlangsung lama, kami segera dilerai,” tandasnya.
Mukhtar tidak ingin memperpanjang masalah ini, karena keluarganya masih dalam suasana duka. Dengan penuh ketulusan, diapun memaafkan perlakuan Syamsuddin Karlos terhadap dirinya.
”Sejak mahasiswa, hingga duduk sebagai legislator Senayan, saya terbiasa dengan debat-debat yang spesifik, tajam, dan analitis. Mungkin Karlos tidak dibesarkan dalam kultur forum diskusi, sehingga saat argumentasinya kalah (karena memang lemah), yang tersulut adalah emosinya,” jelasnya lagi.
Sesudah kejadian, Mukhtar mohon diri untuk segera menyaksikan prosesi pemakaman. Ketika prosesi selesai, dia sempat singgah di kediaman Karaeng Sewang, dan bersilaturahmi dengan keluarga serta pelayat yang hadir. Setelah itu diapun pamit. (rls)

Exit mobile version